BANDUNGMU.COM, Bandung — Pertanyaan: (1) bagaimana pandangan Muhammadiyah terhadap bacaan shalawat Nabi, dan bentuk shalawat-shalawat yang lain, dan kitab “Barzanji”? (2) adakah pahala yang kita peroleh dari membaca kitab “Barzanji”?
Menurut pandangan Muhammadiyah, shalawat itu berarti doa, memberi berkah, dan juga termasuk ibadah. Shalawat Allah kepada hamba-Nya dibagi dua, yakni khusus dan umum.
Shalawat khusus ialah shalawat Allah kepada para Rasul atau Nabi-Nya, teristimewa shalawat Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Shalawat umum ialah shalawat Allah kepada hamba-Nya yang mukmin.
Adapun bentuk-bentuk atau lafadz-lafadz shalawat yang shahih diriwayatkan dari Nabi SAW ada yang panjang dan ada pula yang pendek. Contoh shalawat yang panjang adalah seperti yang kita baca setiap sholat ketika Tahiyat awal atau Tahiyat akhir.
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَالِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَالِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَالِ إِبْرَاهِيْمَ. إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
“Ya Allah, muliakanlah oleh-Mu Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau muliakan keluarga (Nabi) Ibrahim dan berilah barokah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi barokah keluarga Ibrahim. Bahwasanya Engkau sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam.” (HR Bukhari).
Di antara contoh shalawat yang pendek:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, muliakanlah oleh-Mu (Nabi) Muhammad dan keluarganya.” (HR An-Nasai).
Pada zaman akhir-akhir ini, muncul pula beberapa penulis yang menyusun sendiri shalawat-shalawat kepada Nabi. Ada yang berdasar kepada kitab hadis tersebut di atas dan ada pula dari hasil susunannya sendiri. Ada yang berlebih-lebihan. Bahkan ada yang menyimpang. Di antara kitab yang bercorak seperti itu ialah kitab “Barzanji” seperti yang Anda tanyakan itu.
Menjawab pertanyaan Anda tentang membaca kitab “Barzanji”, sebaiknya menurut kami tidak usah Anda membacanya karena di dalamnya (kalau Anda mengerti bahasa Arab) ada lafadz-lafadz yang menyimpang dan meracuni keimanan.
Berikut ini kami tunjukkan beberapa contoh dari kitab tersebut untuk menjadi perhatian Anda:
وَ أُصَلِّي وَ أُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ اْلمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَ اْلأَوْلِيَّةِ اْلمُنْتَقِلِ فِي اْلغُرَرِ اْلكَرِيْمَةِ وَ اْلجِبَاةِ
“Aku ucapkan shalawat dan bahagia atas cahaya yang bersifat mula pertama, yang berpindah-pindah di ubun-ubun dahi-dahi yang mulia.”
Berdasarkan kebiasaan dalam kitab-kitab kisah maulid, maka yang dimaksud dengan اَلتَّقَدَّمُ وَ اْلأَوْلِيَّةُ (yang mula pertama) ialah “nur” (cahaya) Muhammad SAW yang diterangkan telah berwujud sebelum ada wujud-wujud yang lain dan adanya segala makhluk Allah karena “nur” Muhammad SAW itu.
Paham seperti itu tidak mempunyai dasar dari nash-nash yang nyata dan terang juga tidak berdasarkan kepada berita yang benar.
Dapat kami katakan, ini merupakan pujian yang berlebih-lebihan untuk memuji Nabi SAW. Padahal, Rasulullah saw sendiri tidak membutuhkan hal itu. Malah dapat dikatakan pelecehan terhadap diri Rasulullah SAW. Lebih-lebih lagi kalau kita hubungkan dengan sabda beliau sebagai berikut:
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَاتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدَ اللهِ وَرَسُولَهُ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian puji aku berlebih-lebihan, sebagaimana kaum Nashrani memuji berlebih-lebihan terhadap (Al-Masih) ibnu Maryam. Namun, katakanlah aku (Muhammad) adalah hamba-Nya (Allah) dan pesuruh-Nya.”
Sangat jelas ungkapan ini sebagai penguat apa yang telah kita sebutkan pada contoh pertama (sebelumnya), yakni Rasulullah semula merupakan cahaya (nur), lalu dijasadkan dalam bentuk manusia dan dijelmakan menjadi Nabi Muhammad SAW.
Kepecayaan terhadap nur Muhammad ini tidak mempunyai dasar dari nash dan tidak bisa dijadikan i’tiqad (keimanan). Soal-soal yang berhubungan dengan akidah (kepercayaan) harus didasarkan kepada dalil-dalil yang mutawatir.
وَ لَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَى الرَّاجِحِ تِسْعَةَ أَشْهُرٍ قَمَرِيَّةٍ وَ آنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاهُ. حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ وَ مَرْيَمُ فِي نِسْوَةٍ مِنَ اْلحَظِيْرَةِ اْلقُدْسِيَّةِ. وَ أَخَذَهَا اْلمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ “ص” نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاهُ
“Dan ketika telah cukup kandungan sembilan bulan Qamariyah dan sampai waktunya untuk menjelma dengan nyata, datanglah berkunjung malam itu pada ibunya Asiah dan Maryam beserta rombongan (bidadari-bidadari) dari surga dan setelah tiba saat kelahirannya, maka lahirlah Muhammad SAW bagai cahaya yang memancar berkilau-kilauan.”
Dengan adanya ungkapan seperti itu, maka timbul pertanyaan, benarkah Asiah istri Firaun dan Maryam binti Imran datang dengan para bidadari? Dari mana pengarang kitab “Barzanji” itu memperoleh keterangan?
Sebab sebanyak hadis Nabi yang ada (sahih) juga dalam ayat-ayat Al-Quran, tidak disebutkan mengenai hal itu. Kalau memang ada, tentu Rasulullah SAW menjelaskannya.
Begitulah hal-hal yang aneh dari kitab “Barzanji” dan masih banyak lagi (kalau Anda bisa bahasa Arab, tolong baca yang lain-lainnya lagi). Karena itu tidak aneh bila ada orang mengatakan membaca Buku Barzanji nomer pitulikur (no. 27).
Oleh karena itu, utamakan membaca ayat Al-Quran dan lafadz-lafadz shalawat yang ada tuntunannya dari Nabi SAW.
Perlu juga diketahui, ada suatu kebiasaan pada waktu membaca kitab “Barzanji”, orang-orang dianjurkan supaya berdiri, dan digambarkan (dikhayalkan) pada saat itu Nabi SAW hadir di tengah-tengah mereka. Hal ini jelas suatu bidah dan paham yang tidak berdasar tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya.
Bahkan ketika Nabi masih hidup, kalau beliau hadir di suatu majelis, beliau melarang para shahabat berdiri menghormatinya. Beliau adalah Nabi, bukan raja yang senang dipuji berlebih-lebihan.***
