BANDUNGMU.COM — Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1443 H jatuh pada hari Senin 2 Mei 2022 M.
Dalam kondisi normal, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui edaran No 01/EDR/I.0/E/2022 membolehkan salat Idulfitri dilaksanakan di lapangan kecil atau tempat terbuka di sekitar tempat tinggal dalam jumlah jemaah yang tidak membawa kerumunan besar.
Berikut tata cara salat Idulfitri di lapangan terbuka yang dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Kamis 28 April 2022.
1. Jika tidak ada halangan, salat Idulfitri sebaiknya di lapangan
Berdasarkan hadis riwayat Abu Said Al Khudri: “Bahwa Rasulullah SAW keluar pada hari raya Idulfitri dan Iduladha ke Al Mushala (tanah lapang). Hal pertama yang dilakukan adalah salat. Setelah selesai beliau berdiri menghadap para jamaah, sementara mereka duduk bersaf, lalu beliau memberi nasihat, berwasiat, dan memerintah mereka. Apabila beliau hendak berhenti, maka berhenti dan bila memerintah sesuatu, maka langsung memerintahkannya, kemudian selesai.” (HR Bukhari).
2. Salat Idulfitri dikerjakan tanpa seruan azan dan ikamah
Berdasarkan hadis riwayat Jabir bin Abdullah: “Tidak ada azan ketika (salat) Idulfitri dan juga Iduladha. Lalu setelah sesaat aku tanyakan masalah itu. Dia memberitahuku bahwa Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata bahwasanya tidak ada azan untuk salat Idulfitri ketika imam datang dan tidak pula ada ikamah, tidak ada seruan apa pun, dan waktu itu tidak ajakan dan tidak pula ikamah.” (HR Bukhari).
3. Tidak disyariatkan salat sunah, baik sebelum maupun sesudah salat Idulfitri
Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas: “Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW salat dua rakaat pada hari raya Idulfitri. Beliau tidak salat sebelumnya dan tidak pula setelahnya. Kemudian beliau mendatangi para wanita bersama Bilal, lalu memerintah mereka bersedekah.” (HR Bukhari).
4. Hendaklah dipasang sutrah (pembatas) di depan imam salat
Berdasarkan hadis riwayat Nafi dari Ibnu Umar: “Bahwa Rasulullah SAW apabila keluar pada hari Id, beliau memerintahkan untuk meletakkan tombak di depannya, kemudian beliau salat dan orang-orang berada di belakangnya, dan ia melakukan hal tersebut dalam safar (salat safar).” (HR Bukhari).
5. Dilaksanakan dua rakaat, takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan takbir 5 kali pada rakaat kedua
Salat Idulfitri dan Iduladha dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan cara bertakbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Dan tidak ada bacaan-bacaan tertentu yang dituntunkan Rasulullah SAW di sela-sela takbir-takbir tersebut.
Berdasarkan hadis riwayat Katsiir bin Abdillah: “Bahwa Rasulullah SAW pada salat dua hari raya bertakbir tujuh kali untuk rakaat pertama sebelum membaca (Al Fatihah) dan bertakbir lima kali pada rakaat kedua juga sebelum membacanya.” (HR Tirmidzi).
6. Disunahkan membaca surah-surah Al Quran tertentu
Imam salat disunnahkan membaca surah Al A’la pada rakaat pertama dan Al Ghasyiyah pada rakaat kedua atau qaf wal quranil majid (surah Qaf) pada rakaat pertama dan Iqtarabatis Saa’ah (Al Qamar) pada rakaat kedua.
Berdasarkan hadis riwayat Ibnu Abbas: “Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW pada salat dua hari raya membaca Sabbihisma Rabbiukal A’la dan Hal Ataku Hadisul Ghasyiyah.” (HR Ibnu Majah).
7. Melaksanakan khutbah Id
Sesudah mengerjakan salat, dilanjutkan dengan penyampaian khutbah Id yang berisikan nasihat dan anjuran berbuat baik, dimulai dengan alhamdulillah.
Berdasarkan hadis riwayat Abu Said Al Khudri: “Dari Abu Said Al Khudri yang berkata bahwa Rasulullah SAW keluar pada hari raya Idulfitri dan Iduladha ke Al Mushala (tanah lapang). Hal pertama yang dilakukan adalah salat. Setelah selesai beliau berdiri menghadap para jamaah, sementara mereka duduk bersaf, lalu beliau memberikan nasihat, berwasiat, dan memerintah mereka. Apabila beliau hendak berhenti, maka berhenti dan bila memerintah sesuatu, maka langsung memerintahkannya, kemudian selesai.” (HR Bukhari).***
