Islampedia

Terungkap! Ternyata KH Ahmad Dahlan Suka Baca Buku-buku Ini

×

Terungkap! Ternyata KH Ahmad Dahlan Suka Baca Buku-buku Ini

Sebarkan artikel ini
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Foto: IST.

BANDUNGMU.COM — Pendiri Muhammadiyah, yakni Ahmad Dahlan, lahir di Kauman (Yogyakarta) pada 1968. Semenjak kecil, Ahmad Dahlan diasuh dan dididik sebagai putra seorang kiai.

Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Quran, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya yakni Kiai Abu Bakar.

“Muhammadiyah lahir tidak lepas dan bahkan dibidani serta memperoleh inspirasi yang kuat dari tokoh sentral pendirinya yakni KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan sosok santri yang dasar pendidikan agamanya adalah tradisional,” ungkap Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dinukil dari laman resmi Muhammadiyah.

Baca Juga:  Apa Hukum Berdoa di Medsos? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah

Meski berlatar belakang tradisional, Haedar mengungkapkan Ahmad Dahlan justru menjadi tokoh pembaru paling penting pada awal abad ke-20.

Dalam perjalanan hidupnya, Ahmad Dahlan dua kali bermukim di Makkah. Di sana Ahmad Dahlan mendapat banyak inspirasi serta wawasan yang semakin luas dalam memandang dunia.

“Darwis yang menjadi Ahmad Dahlan telah menjadi tonggak baru dalam sejarah pergerakan Islam di awal abad ke-20. Dengan latar belakang kehidupan Kauman, Yogyakarta, yang juga melekat dengan keraton, Ahmad Dahlan tidak lepas dari budaya Jawa,” kata Haedar.

Latar belakang budaya ini telah menjadi kekhasan Ahmad Dahlan sebagai tokoh Islam dan tokoh pembaru yang memberi warna pada pergerakan Muhammadiyah.

Baca Juga:  Menggapai Haji Mabrur Dengan Ketakwaan dan Ihsan

Menurut Haedar, dalam akidah, Ahmad Dahlan beraliran ahlussunah wa jamaah, dalam fikih merujuk pada Imam Syafii dan Hambali. Namun, Ahmad Dahlan juga berisan dengan pemikiran salafiyah yang diperkenalkan Ibnu Taimiyah melalui kitab-kitabnya.

Haedar menegaskan bahwa Ahmad Dahlan lebih banyak meluangkan waktunya membaca tulisan-tulisan Muhammad Abduh. Di antaranya, “Tafsir Juz ‘Amma”, “Tafsir Al-Manar”, “Al-Islam wa Al-Nashraniyah”, dan “Risalat Al-Tauhid”.

Selain karya Muhammad Abduh, Ahmad Dahlan juga membaca tulisan-tulisan karya Jamaluddin Al-Afghani yang dimuat di jurnal Al-Urwah Al-Wustha.

Baca Juga:  Majelis Dikdasmen PPM: Landasan Filosofis Kurikulum Merdeka Tidak jelas

Pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan juga bersentuhan dengan ilmu tasawuf terutama melalui alam pikiran Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

Tak lupa pula Ahmad Dahlan membaca tulisan Ibnu Batutah yang merupakan laporan perjalanannya keliling dunia dalam kitab “Kanz Al-Ulum”. Bahkan ia sempat menikmati tulisan Rahmatullah Al-Hindi.

“Pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan tentu terus berkembang sesuai dengan interaksi beliau ketika di Makkah, termasuk berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Tentu rujukan-rujukan tersebut memberi warna pada alam pikiran Ahmad Dahlan,” tegas Haedar.***