News

Tradisi Mengaji Harus Tetap Terjaga Oleh Warga Muhammadiyah

Ilustrasi mengaji Al-Quran (Istockphoto)

BANDUNGMU.COM, Banjarnegara — Warga Muhammadiyah diharapkan agar tetap terhubung dengan akar sejarah mereka, yakni tradisi mengaji yang diadakan di setiap daerah di mana Muhammadiyah berada.

Menurut Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam Pengajian Akbar Ahad Wage di MBS Wanayasa, Banjarnegara, Minggu (02/0/2023), mengaji merupakan identitas bagi anggota Muhammadiyah.

Foto: muhammadiyah.or.id.

Hal ini telah dimulai sejak zaman KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang memulai gerakannya dengan semangat belajar Al-Quran yang teratur dan sistematis.

Contohnya, saat mengajarkan surah Al-Ashr kepada para santrinya, KH Ahmad Dahlan mengulanginya berulang kali selama delapan bulan.

Menurut Agus, kebiasaan ini tidak biasa ditemukan dalam materi pengajaran di mana pun. Selain itu, hal yang menarik juga adalah surah Al-Ashr ini hanya terdiri atas tiga ayat, tetapi diajarkan selama delapan bulan.

“KH Ahmad Dahlan menanamkan (ini) agar iman dalam santrinya tidak main-main. Al-Ashr diajarkan selama delapan bulan. Kemudian mereka baru mempelajari surah Al-Ma’un selama tiga bulan,” ungkapnya seperti dikutip dari muhammadiyah.or.id.

Cara KH Ahmad Dahlan mengkaji Al-Quran dengan santri-santrinya tidak hanya sebagai ibadah semata, menghafal, atau menulis ulang. Namun, ayat-ayat dalam setiap surah yang diajarkan juga dipraktikkan atau diamalkan.

Agus mengungkapkan bahwa santri yang dididik oleh KH Ahmad Dahlan tidak hanya diminta untuk memahami surat yang diajarkan, tetapi harus mengamalkan ilmu yang diperoleh.

“Al-Quran tidak hanya dibaca dan dipahami, tetapi yang lebih penting adalah diamalkan,” kata Agus.

Dia melanjutkan bahwa cara mengaji ini merupakan model generasi awal tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam mempelajari sebuah surah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika semangat belajar Al-Quran ini kemudian mengilhami pendirian berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang ada saat ini.

Oleh karena itu, Agus mengingatkan agar model mengaji ini diaktualisasikan dalam setiap pengajian yang diadakan oleh Muhammadiyah di semua tingkatan.

Agus menegaskan bahwa mengaji Al-Quran bukan hanya tentang menghafal dan memahami, melainkan mengamalkannya.***

Exit mobile version