Edukasi

UM Bandung Hadirkan Pojok Literasi Islami, Ibu-Ibu PKK Cipeundeuy Jadi Penggerak Perubahan

BANDUNGMU.COM, Tasikmalaya – Ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kampung Cipeundeuy, Desa Linggamulya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kini memiliki ruang baru untuk menumbuhkan budaya membaca di tengah keluarga dan anak-anak melalui Pojok Literasi Islami.

Pojok literasi tersebut lahir dari program pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK dalam Membangun Ekosistem Literasi Anak Berbasis Nilai-Nilai Islam”.

Program ini menempatkan ibu-ibu PKK sebagai penggerak utama literasi keluarga dan komunitas.

Program tersebut digagas tim pengabdian UM Bandung yang diketuai Dr Iim Ibrohim MAg bersama anggota H Muhtadin MAg dan Dr Hernawati MPd yang berlangsung sejak Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat di bawah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Ketua tim Iim Ibrohim mengatakan program tersebut berangkat dari kondisi literasi anak usia dini dan sekolah dasar di Kampung Cipeundeuy yang masih perlu diperkuat.

Kebiasaan membaca di rumah belum terbentuk secara optimal, sementara akses terhadap bahan bacaan yang sesuai usia dan bernuansa Islami masih terbatas.

“Literasi anak bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pembentukan karakter, nilai moral, dan penanaman nilai-nilai keislaman sejak dini,” ujar Iim.

Di sisi lain, menurut Iim, masyarakat memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan gerakan tersebut.

Dari sekitar 40 ibu PKK yang aktif, sebanyak 30 orang terlibat dalam rangkaian pelatihan literasi yang diberikan tim pengabdian.

Pelatihan tersebut membekali para ibu dengan teknik membaca nyaring atau read aloud, storytelling Islami, serta metode bercerita yang menarik dan menyenangkan bagi anak.

Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi agar keterampilan tersebut dapat langsung diterapkan dalam aktivitas literasi keluarga di rumah.

Program kemudian diwujudkan melalui pembangunan Pojok Literasi Islami berukuran sekitar 4×6 meter.

Ruang tersebut dilengkapi dua unit rak buku, meja baca, karpet, papan tulis, mading, serta lebih dari 170 judul buku yang mencakup kisah teladan, sains, dan bacaan populer bernuansa keislaman.

Kehadiran ruang baca itu membuka kesempatan bagi warga untuk menjadikan membaca sebagai aktivitas bersama.

Kegiatan mendongeng yang mulai jarang dilakukan di tengah derasnya penggunaan gawai juga kembali diperkenalkan sebagai bagian dari literasi keluarga dengan materi cerita yang relevan dan bernilai Islami.

Namun, pelaksanaan program tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala.

Kesibukan ibu-ibu PKK, mulai dari kegiatan posyandu dan pengajian hingga pekerjaan di sawah dan ladang, membuat tim pengabdian perlu menyesuaikan jadwal pelatihan dan pendampingan dengan rutinitas masyarakat.

Menurut Iim, tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan.

Keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada pendampingan dari perguruan tinggi.

Namun, pada kemampuan warga untuk mengelola dan mengembangkan pojok literasi secara mandiri.

“Perubahan budaya lewat membaca akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Literasi adalah kunci,” tegas Iim.

Ke depan, tim UM Bandung akan melanjutkan penguatan gerakan literasi Islami, meningkatkan keterampilan ibu-ibu dalam mendampingi anak membaca, serta mendorong alih kelola Pojok Literasi Islami kepada PKK.

Langkah tersebut diharapkan membuat program tetap berjalan dan berkembang setelah masa pengabdian berakhir.

Selain pendampingan, tim juga menyiapkan artikel ilmiah populer dan dokumentasi video mengenai dampak kegiatan sebagai bagian dari diseminasi hasil program.

Penguatan literasi melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK ini sekaligus menjadi upaya membangun ekosistem pendidikan keluarga yang berbasis nilai-nilai Islam.

Program tersebut mendukung pencapaian SDGs, khususnya tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan 5 mengenai kesetaraan gender, melalui penguatan peran perempuan dalam pendidikan anak dan pembangunan masyarakat.***

Exit mobile version