BANDUNGMU.COM — Bila sesama manusia saling menghormati, menghargai, mencintai, menyayangi dan setiap menyelesaikan segala bentuk persoalan dengan musyawarah mufakat, dialog, arif, bijaksana bukan malah membudayakan tindakan kekerasan, main hakim sendiri niscaya tidak ada pengrusakan tempat ibadah (Mesjid, Gereja, Vihara, Klenteng, Pure).
Sejatinya kehadiran kehadiran Waisak 2565 BE yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2021 (pukul 18.13.30 WIB) ini tidak hanya sekadar merayakan Tri Suci Waisak Puja (kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinirwana; meninggal dunia), tetapi harus menjadikan manusia tercerahkan yang saling mencintai, bersih hati, pikiran, menebar sikap welas asih, arif dan bijaksana yang telah dicontohkan oleh sosok Sang Agung Buddha.
Manusia Sejati
Umat Buddhis menyakini manusia terikat dari 5 kelompok skanda (Panca Skanda). Pertama, Rupa (Bentuk Jasamani) yang teridir dari 4 unsur; padat, cair, panas bergerak. Kedua, Vedana (Perasaan) yang muncul karena kesan indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, dan pemikiran (mata batin). Ketiga, Sanna (Pencerapan, Penginderaan) semua pencerapan dalam bentuk yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, dikecap oleh lidah, disentuh oleh anggota badan, dan yang dipikirkan (mata batin).
Keempat, Sankhara (Bentuk Pikiran) seluruhnya ada 50 jenis yang meliputi semua yang dihasilkan dari indera dan menjadi bentuk pikiran yang penting adalah cetana (kemauan) akar dari semua karma. Kelima, Vinnana (Kesadaran) seluruhnya ada 89 jenis yang meliputi semua kesadaran yang terjadi karena mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan batin.
Setiap manusia mempunyai potensi kebajikan (Brahmavihara; sifat ketuhanan, cinta kasih, welas asih, simpati, keseimbangan) dan potensi kekotoran batin (asava). Tujuan hidup manusia adalah pembebasan ikatan skanda untuk bersatu dengan Kesadaran Agung Nirvana dan bebas dari pengaruh nafsu (asava, kekotoran batin) dengan cara menembus keempat Kesunyataan Mulia menjalankan Hasta Arya Marga; Panna (kebijaksanaan berpikir), Sila (tata susila bermasyarakat), Samadhi (membebaskan ikatan objek dunia, mengembangkan kesadaran menembus Kesadaran Agung Nirvava).
Dalam konteks Indonesia, untuk menciptakan manusia yang sehat fisik, mental, spiritual sebagai landasan mambangun bangsa yang adil dan beradab, harus diawali dari menumbuhkembangkan nilai-nilai hakiki yang ada dalam diri manusia, yakni cinta kasih dan kasih sayang.
Pasalnya, cinta kasih merupakan pondasi dasar yang dapat membawa kebahagiaan dan mengikat tali persaudaraan sesama umat manusia tanpa melihat perbedaan apa pun. Ungkapan kasih sayang sebagai bentuk keterbukaan seseorang pada orang lain dengan dasar ikatan yang mendalam.
Untuk bidang pengabdian masyarakat dibutuhkan saling pengertian, musyawarah, dan saling menolong dalam memecahkan berbagai masalah. Memberikan kebahagiaan pada orang lain dengan mengetahui apa yang dibutuhkan merupakan seni dalam berinteraksi dengan orang lain.
Kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai apabila pikiran kita selalu menuju ke arah damai dan sejahtera atas dasar cinta kasih dan kasih sayang. Hanya perasaan egois, kekerasan, keserakahan, akan embatasi keterbukaan untuk melihat derita orang lain. Usaha bersama antar umat manusia sangat penting dikembangkan untuk memperbaiki suatu masyarakat yang berat sebelah dalam perkembangan moralitasnya, seperti tumbuh suburnya budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme. (Dr. Parwati Soepangat, MA, 2002:34-35, 184-185 dan 193).
Sabda Metta, Karuna
Menginat pentingnya cinta kasih (Metta) dan kasih sayang, welas asih (Karuna), Sang Buddha berkali-kali mengingatkan kepada kita semua melalui sabdanya, “Bagi orang yang penuh perhatian murni, selalu ada kebaikan. Bagi orang yang penuh perhatian murni, kebahagiaannya bertambah. Bagi orang yang penuh perhatian murni, segala sesuatunya menjadi lebih baik, meskipun ia belum bebas dari para musuh. Tetapi ia yang siang dan malam bergembira di dalam kebaikan, membagi cinta kasih kepada semua makhluk hidup, orang demikian tidak mempunyai permusuhan dengan siapa pun.” (Samyutta Nikaya I, 208);
“Dengan cara yang sama, hendaknya engkau mengembangkan pikiran cinta kasih kepada teman dan lawan tanpa perbedaan. Setelah mencapai kesempurnaan dalam cinta kasih, engkau akan mencapai pencerahan.” (Jataka Nidanakatha, 169);
“Memancarkan ke satu jurusan dengan hati penuh cinta kasih, …, ke atas, ke bawah dan ke sekeliling; semua tempat dan secara merata ia memancarkan ke seluruh dunia dengan hati yang penuh cinta kasih, melimpah, agung, tak terukur, bebas dari permusuhan, dan bebas dari kesakitan” (Digha Nikaya, i,250);
“Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki dua pun Aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyak pun Aku memiliki cinta kasih.” (Anguttara Nikaya, II, 72); “
Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan di sekelilingnya, tak terbatas di mana pun.” (Jataka, 37);
“Kembangkanlah pikiran yang penuh cinta kasih; bersikaplah penuh kasih sayang dan terlatih dalam sila. Bangkitkan semangatmu, bersikaplah teguh, senantiasa mantap dalam membuat kemajuan” (Theragatha, 979);
“Ketika Sang Tathagata atau para siswa-Nya hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebahagiaan banyak makhuk, timbul dari rasa kasih sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia. Dan siapakah Sang Tathagata itu? Mengenai hal ini, seorang Tathagata muncul di dunia, Buddha Yang Maha Mulia, Buddha Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan dan perbuatan-Nya, sempurna menempuh jalan (ke Nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing umat manusia yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan. Dan siapakah siswa Sang Tathagata itu? Dia adalah seorang yang mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah pula di akhirnya, baik dalam kata-kata maupun maknanya. Dia membuat kehidupan suci menjadi jelas, sempurna, dan tak ternoda. Inilah Sang Tathagata dan para siswa-Nya, dan ketika mereka hidup di dunia, mereka berbuat untuk kebaikan banyak makhluk, untuk kebahagiaan banyak makhluk, timbul dari rasa Kasih Sayang untuk seluruh dunia, untuk kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dewa dan manusia.” (Anguttara Nikaya II, 146).
Ini terlihat jelas pada saat Buddha Gotama mengutus 60 muridnya, lima bulan setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Sang Guru Agung berkata, “Pergilah para Bikkhu berkelana untuk kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang demi kasih sayang kepada dunia ini.”
Mari kita jadikan momentum Waisak 2565 ini sebagai wahana untuk memahami, menerapkan, dan menghayati kebenaran Dhamma ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh dengan sikap kasih sayang kita tidak bisa memaksakan kehendak pribadi kepada yang lain. Apalagi merusak, meniadakan nyawa orang lain.
Pasalnya, kasih sayang menuntun kita untuk selalu menggunakan ketekunan, ketulusan hati, kerendahan diri dalam mengajak orang lain supaya berbuat arif, bijaksana dengan cara yang baik.
Kiranya, kita perlu meneladani apa yang dilakukan oleh Y.M. Dalai Lama ke-14 dalam mengabdikan seluruh hidupnya untuk senantiasa membahagiakan orang lain dengan cara menebar kasih sayang sebagai renungan bersama-sama, seperti yang diutarakan oleh Tenzin Gyatso, “Saya selalu berusaha untuk memperlakukan siapa saja yang saya jumpai sebagai seorang sahabat lama. Hal ini memberi saya suatu kebahagiaan yang sejati. Ini adalah cara untuk mempraktekkan Kasih Sayang.”
Inilah makna terdalam dari Waisak 2565 BE dalam menciptakan manusia sejati yang saling mencintai, bersih hati, pikiran, menebar sikap welas asih, arif, dan bijaksana untuk meraih kebahagiaan. Mengingat sikap dan tindakan yang terpuji ini mulai memudar, bahkan ditinggalkan di bumi pertiwi ini. Semoga seluruh makhluk hidup berbahagian. Selamat Waisak 2565 BE. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Sadha, sadha, sadha.
IBN GHIFARIE, Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.






