Islampedia

Dakwah yang Mencerahkan

×

Dakwah yang Mencerahkan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Foto: Unsplash)

BANDUNGMU.COM — Melaksanakan dakwah harus sesuai dengan perintah Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah.

Sebab dakwah adalah seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (QS Yusuf: 108) yakni jalan menuju Islam (QS Ali Imran: 19).

Dakwah juga sebagai upaya tiap muslim untuk merealisasikan fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Niki Alma Febriana Fauzi menerangkan bahwa fungsi kerisalahan dari dakwah ialah meneruskan tugas Rasulullah (QS Al-Maidah: 67) menyampaikan dinul-Islam kepada seluruh umat manusia (QS Ali Imran: 104).

Baca Juga:  Isi Seminar di UM Bandung, Ini Pesan Penting Rocky Gerung

Sementara fungsi kerahmatan berarti upaya menjadikan Islam sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, dan pendamai) bagi seluruh manusia (QS Al-Anbiya: 107).

Allah SWT memberikan pesan agar dalam berdakwah disampaikan dengan bi-hikmah wa al-mauidhat al-hasanah wa jadil-hum bilati hiya ahsan (QS An-Nahl: 125).

Hikmah ialah hal yang utama dari segala sesuatu, baik lisan maupun perbuatan, yang lahir dari perpaduan ilmu dan kearifan.

Al-mauidhat al-hasanah yakni uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Wa jadilhum bi-lati hiya ahsan yakni berdialog dengan argumentasi paling baik.

Baca Juga:  Tidak Perlu Pamer Kekayaan, Dunia Ini Hanya Sementara

Oleh karena itu, tujuan utama dari dakwah itu bukan merusak, melainkan harus mencerahkan.

“Rasulullah berdakwah selama sekitar 23 tahun dengan cara-cara yang bertahap dalam pembinaan aqkidah, ibadah, akhlak, dan muamalah sehingga tercapai kehidupan al-Madinah al-Munawwarah, yakni suatu peradaban yang tercerahkan,” tutur Niki Alma, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Rabu (12/01/2022).

Niki Alma turut menjelaskan bahwa dakwah yang dilakukan Muhammadiyah secara esensi, fungsi, dan aktualisasinya merujuk pada prinsip dakwah Islam pada umumnya.

Baca Juga:  Idealitas Musywil Muhammadiyah

Dalam pelaksanaannya, dakwah yang dilakukan Muhammadiyah mempertimbangkan faktor-faktor kondisi sasaran dakwah sehingga dilakukan bertahap sebagaimana contoh dakwah Rasulullah SAW.

“Pada awal kehadirannya, Muhammasiyah ditentang oleh sebagian kalangan umat karena dianggap membawa paham baru, tetapi lama kelamaan dapat diterima luas sehingga menyebar ke seluruh Indonesia,” tambah dosen Ilmu Hadis Universitas Ahmad Dahlan ini.***