BANDUNGMU.COM – Ketika ada orang mendadak menjadi rajin beribadah kepada Allah, berhenti dari berbuat buruk kemudian sering berbuat baik, kita sering mengatakan, “Alhamdulillah dia sudah mendapatkan hidayah dari Allah”.
Betulkan seperti itu? Simak ulasan lengkap soal hidayah dari KH Ali Mustafa Yaqub yang dikutip dari bukunya yang berjudul “Kalau Istikamah Nggak Bakal Takut Nggak Bakal Sedih” berikut.
Hidayah ada tiga macam. Hidayah yang pertama dalam pengertian Allah memberikan kekuatan kepada manusia untuk dapat melakukan kebaikan juga keburukan.
Jadi, hidayah yang pertama itu pemberian kekuatan, baik untuk berbuat kebajikan maupun untuk melakukan kejahatan, hal ini terambil dari firman Allah:
“Dan kami memberikan kekuatan kepada manusia untuk dapat melakukan kebaikan dan juga memberikan kekuatan kepada manusia untuk melakukan kejahatan.”
Misalnya khamar, mampukah kita untuk meminum khamar ini? Mampu. Kemampuan ini diberi oleh Allah. Namun, ketika kita tidak berani meminum khamar demi kebaikan, itu juga pemberian dari Allah.
Contoh lain, kita tahu ada pengajian di Masjid Istiqlal, Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk datang, sekaligus memberikan kemampuan bagi kita untuk menolak atau tidak datang.
Ini pengertian hidayah yang pertama, yaitu Alah memberikan kekuatan kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan keburukan.
Pengertia hidayah yang kedua adalah apa yang disebut dengan at-taufiq. Apa itu at-taufiq? Allah memberikan kekuatan kepada hamba-Nya untuk taat kepada-Nya.
Maka, kalau sudah mengatakan at-taufiq jangan ditambah kalimat lagi, sebab kata at-taufiq artinya Allah memberikan kekuatan kepada hamba-Nya untuk taat kepada Allah.
Itu arti yang sudah sangat luas, jangan ditambah dengan kalimat seperti: Allaahumma waffiq ilaa aqwaamit thariiq (Ya Allah, beri kami taufiq kepada jalan yang lurus).
Kalau Allah memberikan taufiq, artinya Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk taa kepada-Nya. Hal ini hanya dilakukan oleh Allah.
Dalillnya ada dalam Al Quran. Ketika Rasulullah SAW berupaya agar pamannya Abu Thalib masuk Islam, sampai mati kemudian tidak masuk Islam, di situlah Allah menurunkan ayat:
“Kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang kamu cintai sekalipun, tapi Allah-lah yang memberikan hidayah (taufiq) kepada siapa yang dikehendaki.”
Jadi, manusia tidak berhak memberikan hidayah.
Yang ketiga adalah hidayah yang memberikan penjelasan dan bimbingan, al-irsyad wal bayan. Ini dilakukan oleh Allah dan juga dapat dilakukan oleh manusia.
Misalnya, Nabi memberikan penjelasan dan bimbingan kepada para sahabat, guru memberikan penjelasan dan bimbingan kepada murid-muridnya, dan sebagainya. Ini maksud dari ayat yang menyatakan:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) memberikan hidayah (bimbingan dan penerangan/penjelasan) kepada jalan yang benar.”
Jadi, ada hidayah yang dapat dilakukan oleh manusia, yaitu hidayah dalam pengertian ini. Adapun hidayah taufiq tidak dapat dilakukan oleh manusia.
Bagaimana mendapatkannya? Kita jalankan perintah-perintah Allah, kita tinggalkan larangan-larangan Allah, insyaallah kita akan dapat hidayah dari Allah.
Tanda-tandanya? Orang yang mendapat hidayah hidayah dari Allah, dia akan semakin bagus amalnya, yang sebelumnya bagus akan menjadi lebih bagus, dan yang sebelumnya buruk akan menjadi bagus.***












