Islampedia

Belajar dari Kearifan Wali Songo

×

Belajar dari Kearifan Wali Songo

Sebarkan artikel ini
Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang paling awal.*** Foto: wikipedia.

BANDUNGMU.COM – Sebagaimana kita ketahui bersama, ada sembilan ulama yang dikenal luas sebagai penyebar agama Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa.

Sebutan wali songo merujuk pada jumlah wali yang ada, yakni sembilan orang. Songo atau sanga dalam bahasa Jawa artinya sembilan.

Sebenarnya ada beberapa pengertian mengenai asal-usul istilah wali songo ini. Ada yang berpendapat bahwa songo atau sanga berasal dari kata tsana yang diambil dari bahasa Arab, yang berarti mulia.

Ada juga yang menyatakan bahwa kata tsana diambil dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.

Pandangan lain menyebutkan bahwa wali songo adalah sebuah tempat pengajian yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim, yang lebih dikenal dengan julukan Sunan Gresik.

Pengertian mana pun yang kita ambil, semuanya tidak mengurangi kemuliaan dan jasa para wali tersebut dalam menyebarkan agama Islam, sekaligus mengakhiri dominasi agama dan peradaban Hindu-Buddha dan menggangtikannya dengan agama dan peradaban Islam.

Wali songo menyebarkan agama Islam pada abad ke-14 di wilayah-wilayah pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.

Tentu saja selain mereka juga terdapat para ulama yang berjasa besar dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Namun yang membedakannya ialah bahwa wali songo mendirikan kerajaan-kerajaan Islam sehingga pengaruh dakwahnya menjadi lebih luas.

Apalagi istana juga dipandang sebagai pusat kebudayaan terpenting sehingga peralihan kebudayaan Hindu-Buddha menjadi kebudayaan Islam diperankan dengan baik sekali oleh istana dengan wali songo sebagai pelopornya.

Baca Juga:  Pandangan Muhammadiyah Soal Game Online Untuk Hiburan dan Penambah Penghasilan

Sembilan orang yang termasuk ke dalam wali songo ini dijuluki sebagai sunan. Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa sebenarnya terdapat banyak sekali sunan yang berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.

Namun hanya terdapat sembila sunan atau wali songo yang terkenal di masyarakat Indonesia pada zaman sekarang.

Para wali Allah ini berdakwah di Nusantara dengan cara mengajak masyarakat untuk masuk ke dalam agama Islam dengan tanpa paksaan.

Selama berdakwah setiap sunan memiliki wilayah dakwahnya masing-masing dan terdapat juga beberapa peninggalan yang menjadi bukti terhadap perannya dalam tersebarnya Islam di negeri ini.

Wali songo dan para penganjur awal Islam di Indonesia telah meletakan strategi pengembangan agama Islam.

Mereka mencontoh bagaimana Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Islam di kawasan Timur Tengah melalui tiga strategi.

Pertama, melalui tahapan proses pengenalan dan pengamalan ajaran (al-tadrij fi al-tasyri’), yakni memperkenalkan dasar-dasar filosofis ajaran Islam yang sesuai dengan nilai-nilai universal kemanusiaan sehingga orang-orang tidak khawatir akan terjadinya distorsi kemanusiaan dengan penerimaan Islam.

Itulah sebabnya, di masa awal Islam di Makkah hanya diperkenalkan aspek kepercayaan dan keyakinan atau akidah, belum diperkenalkan aspek hukum yang berisi perintah dan larangan.

Kedua, menyingkirkan kesulitan (adam al-haraj), yakni menghilangkan kesan di dalam masyarakat bahwa ajaran Islam berat, merepotkan, dan membebani.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Berbagi Tugas Majukan Persyarikatan

Nabi selalu mendampingi umatnya dan berusaha memperkenalkan Islam sebagai agama kemanusiaan, konsep ajarannya dapat dijangkau oleh manusia.

Jika ada kesulitan selalu ada opsi jalan keluar. Islam diperkenalkan sebagai agama yang tidak kaku, tetapi elastis dan selalu memberikan ruang terhadap kearifan lokal yang selama ini mapan di dalam masyarakat.

Ketiga, pembebanan secara bertahap (taqlil al-taklif), tidak serta-merta diterapkan konsep maksimum ajaran dan hukum Islam.

Sebagai contoh untuk menyatakan keharaman minuman keras yang merupakan budaya Arab ketika itu, diturunkan empat secara bertahap hingga sampai pada puncaknya bahwa minuman keras yang memabukkan itu adalah permainan setan yang harus dijauhi, sebagaimana dinyatakan dalam surah al-Maidah ayat 90:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [5]: 90).

Demikian pula praktek riba dan rentenir, yang juga merupakan kebiasaan orang-orang Arab, diperlukan tujuh ayat yang turun secara bertahap untuk sampai kepada pamungkasnya, larangan memakan riba sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 275:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambil dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamya.” (QS al-Baqarah [2]: 275).

Baca Juga:  Tulisan Ayat Al-Quran Dijadikan Jimat, Bolehkah? Ini Penjelasannya

Ketiga prinsip ini dilakukan oleh para penganjur Islam awal di Indonesia. Oleh karena itu, mereka menganggap dakwah itu sebagai sesuatu yang harus terus berlanjut.

Para sejarawan mengatakan, islamisasi di Indonesia dilakukan secara berlapis-lapis. Lapis demi lapis nilai-nilai ajaran diperkenalkan secara sistematis.

Kita tidak bisa memperkenalkan Islam sekaligus dari akidah sampai syariah dan akhlak. Yang terpenting bagaimana Islam mulai diperkenalkan tanpa menimbulkan resistensi bagi masyarakat pribumi.

Mungkin ada praktik sinkretisme masih tetap dibiarkan. Namun, pada saatnya akan ditinggalkan jika kurikulum dakwah sudah sampai kepada tahap penjernihan ajaran.

Kearifan Nabi Muhammad SAW yang ditiru oleh para wali songo dan para penganjur Islam awal lainnya, berhasil mengetuk pintu hati pusat-pusat kerajaan lokal Nusantara.

Sehingga seperti apa kata Ibnu Khaldun: “Masyarakat itu mengikuti agama yang dianut rajanya”. Dalam masyarakat paternalistik seperti masyarakat Indonesia, apa kata rajanya itulah kata rakyatnya. Dengan merangkul para raja maka otomatis sama dengan merangkul rakyatnya.***

Sumber: Nasaruddin Umar. 2018. “Khutbah-Khutbah Imam Besar”. Pustaka Iman: Jakarta.