BANDUNGMU.COM, Bandung — Mungkin masih ada sebagian masyarakat yang belum mengenal Thomas Karsten. Kota Bandung yang dikenal dengan kesejukan dan kenyamanannya memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari peran penting seorang tokoh bernama Thomas Karsten.
Ia adalah seorang insinyur asal Belanda yang memberikan kontribusi besar dalam arsitektur dan perencanaan perkotaan di Indonesia selama masa kolonial. Mengutip laman bandung.go.id, Senin (12/08/2024), Karsten dikenal dengan pendekatannya yang radikal dalam menggabungkan praktik lingkungan perkotaan kolonial dengan elemen-elemen lokal.
Pendekatan ini menjadi inovasi besar pada masanya dan meninggalkan jejak yang masih terlihat hingga kini, terutama di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Menurut catatan Ghozi Akhsan Fatahillah di platform Medium, beberapa ‘mahakarya’ Karsten dapat ditemukan di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, kawasan sekitar Jalan Ijen Malang, kawasan Candi Baru Semarang, dan tentu saja di Kota Bandung.
Selain itu, Karsten juga dikenal sebagai perencana Kota Bogor, Surakarta, dan Palembang. Di Kota Bandung, ide-ide perencanaan tata kota Karsten dapat dinikmati dengan mengunjungi sejumlah tempat seperti Taman Ganesha, Taman Merdeka, Taman Maluku, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani, dan Taman Gasibu. Taman-taman ini menjadi saksi bisu dari kecanggihan perencanaan tata kota yang dirancang oleh Karsten.
Ghozi dalam catatannya juga menjelaskan tentang konsep garden city yang diadopsi Karsten. Konsep ini awalnya digagas oleh Ebenezer Howard dalam bukunya “To-Morrow: A Peaceful Path to Realm Reform” (1898) sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup di kota-kota Eropa yang saat itu memburuk akibat industrialisasi. Konsep garden city memiliki tiga elemen utama: desentralisasi, taman, dan kota.
Desentralisasi adalah proses sosial yang memindahkan populasi dan industri dari pusat-pusat perkotaan yang padat ke daerah-daerah yang lebih jauh, sehingga tidak semua kegiatan kota terpusat di satu tempat.
Taman berfungsi sebagai “sabuk pertanian” permanen yang mengelilingi kota, mencegah perluasan kota yang berlebihan, sekaligus menjadi daerah pedesaan bagi penduduk kota. Kota mengacu pada kepemilikan tanah yang seharusnya dikelola oleh masyarakat atau pemerintah kota untuk kepentingan umum, bukan oleh individu atau perusahaan.
Namun, konsep garden city ala Howard tidak diterapkan secara murni oleh Karsten. Ia menyesuaikan konsep ini dengan kearifan lokal di Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai tropische staad. Perbedaan utama tropische staad dengan garden city adalah fokusnya hanya pada penataan pemukiman dan perkantoran pemerintah, tanpa zona perdagangan dan industri di kota-kota Hindia Belanda.
Sebagian kecil peninggalan Karsten di Kota Bandung dapat kita nikmati di taman-taman seperti Taman Ganesha, Taman Merdeka, Taman Maluku, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani, dan Taman Gasibu. Mungkin Anda pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut?
Melihat kecanggihan perencanaan desain tata kota pada masa itu, mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan kawasan-kawasan tersebut agar tetap nyaman dan asri di tengah dinamika pembangunan yang terus berlangsung. (ray)**






