Oleh: Rizka Saputri*
Agustus adalah bulan yang tidak terlupakan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tepatnya pada 17 Agustus Indonesia merayakan hari kemerdakanya. Hari yang istimewa dan sangat berarti bagi bangsa Indonesia.
Kemerdekaan ini merupakan hasil perjuangan yang sangat panjang dan menandai berakhirnya penjajahan Indonesia oleh kekuatan asing. Momen kemerdekaan ini juga menjadi momen refleksi bagi setiap lapisan masyarakat dengan berbagai macam perannya.
Mengartikan kemerdakaan untuk mengisi kemerdakaan sesuai perannya, salah satunya bagi seorang muslimah yang berperan sebagai istri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka berarti bebas, merdeka, tidak tertekan, dan tidak dijajah. Bagi seorang perempuan muslim, merdeka bukan berarti berbuat sesuka hati tanpa arahan.
Seorang perempuan muslim yang merdeka adalah mereka yang terbebas dari perbudakan diri sendiri dan mengabdi serta menyembah Allah sebagai Tuhannya.
Ketika ia menikah dan menjadi seorang istri, ia tetap merdeka, tanpa kehilangan jati dirinya. Bahkan, ia menemukan ruang baru dalam hidupnya, beranjak dari kondisi cinta yang tidak menentu menuju kondisi yang mulia dan terjaga, menjadi terhormat menuju keridaan Allah sebagai tujuan akhir pengabdiannya.
Merdeka dalam cinta artinya sebagai istri ia tidak terikat dari hubungan yang membuatnya terkekang. Ia berada dalam ikatan sakinah mawaddah warahmah.
Al-Quran surah Ar-Rum ayat 21 menyatakan bahwa Allah memasangkan antara suami dan istri agar keduanya merasa tenang dan damai.
Artinya, cinta mereka adalah cinta yang merdeka yang saling menguatkan, bukan saling menguasai; saling melengkapi, bukan menekan satu sama lain.
Seorang istri bebas menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya dan suami menghargai pendapat dari sang istri.
Merdeka dalam martabat, pada masa jahiliah perempuan dipandang rendah. Namun, setelah Islam datang, perempuan terangkat derajatnya.
Mereka terbebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan penindasan. Perempuan sangat dimuliakan oleh Islam.
Islam pun memberikan hak yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam beramal saleh. Al-Quran surah An-Nahl ayat 97 menegaskan bahwa Islam menyamakan martabat laki-laki dan perempuan selama mereka beriman dan beramal saleh.
Dalam hubungan suami dan istri pun Allah tidak membedakan pahala dalam beramal saleh. Allah tidak mengistimewakan laki-laki karena ia sebagai pemimpin keluarga. Pun tidak merendahkan perempuan sebab perannya sebagai istri.
Allah hanya membedakan perannya, tidak dengan kedudukannya. Suami dan istri sama-sama berpotensi menjadi hamba Allah yang bertakwa selama ia menjalankan secara maksimal peran yang dimiliki karena Allah.
Penopang peradaban
Maka kemerdekaan istri adalah terletak pada pengakuan dirinya. Bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi justru istri sebagai penopang peradaban dan madarasah pertama bagi anak-anaknya.
Puncak dari semua kemerdakaan adalah rida dari Allah. Allah mengangkat derajat perempuan dan memungkinkan mereka untuk beramal saleh sesuai dengan perannya.
Seorang istri diperbolehkan untuk terlibat dalam berbagai ranah domestik dan publik. Tentu selama ia tetap berada dalam batasan ajaran Islam.
Perempuan bebas menuntut ilmu, mengejar cita-cita, dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa mengabaikan perannya sebagai mitra hidup dan pendidik generasi penerus.
Kebebasan yang mereka peroleh tidak hanya lahiriah, tetapi juga batiniah sehingga membawa ketenangan batin karena setiap tindakan yang mereka lakukan sesuai dengan rida Allah SWT.
Menjadi istri yang merdeka berarti mencapai kebebasan sejati dengan menyeimbangkan cinta, martabat, dan rida Allah. Seorang istri yang merdeka, tidak hanya hidup untuk masa kini, tetapi untuk masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dengan demikian, seorang istri yang merdeka bukanlah seorang yang terbebas dari pendapat manusia, melainkan seorang yang mulia di mata Allah sebagau Sang Pencipta.
*Dosen Prodi PIAUD Universitas Muhammadiyah Bandung












