PMB UMbandung
Life Style

Hidup dari Sumber Daya: Gaya Hidup Pasutri Klaten Membangun Kemandirian Pangan dari Pekarangan Rumah

×

Hidup dari Sumber Daya: Gaya Hidup Pasutri Klaten Membangun Kemandirian Pangan dari Pekarangan Rumah

Sebarkan artikel ini
sumber: mongabay
PMB UMBandung

Terik matahari siang di Dukuh Karangkulon, Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten, terasa kontras saat memasuki pekarangan rumah Nurul Fitri Hidayati dan Sri Widodo. Berbagai tanaman buah seperti jambu, pisang, dan tabulampot membuat udara di halaman mereka terasa lebih teduh.

Di tengah rimbunnya tanaman, Nurul sibuk melayani pembeli bibit buah yang datang dari luar kota. Aktivitas itu menjadi bagian dari keseharian mereka di Yoso Farm Homestead.

Memilih Jalan Kemandirian Pangan

Nurul dan Widodo membangun Yoso Farm sebagai model kemandirian pangan berbasis rumah tangga. Mereka memilih menanam, memelihara, dan mengolah kebutuhan pangan sendiri dari pekarangan rumah.

Berbeda dari petani konvensional, pasangan ini menerapkan prinsip hidup mandiri. Mereka menjadikan rumah sebagai pusat produksi pangan sekaligus ruang belajar.

Baca Juga:  Inilah 5 Kuliner Legendaris Jawa Barat Yang Masih Eksis Hingga Hari Ini

Dari Dunia Profesional ke Kampung Halaman

Sebelumnya, Nurul menempuh pendidikan Budidaya Pertanian di UGM dan sempat bekerja di Brunei Darussalam. Namun, ia merasa tidak sejalan dengan praktik penggunaan bahan kimia di industri jasa lanskap.

Karena itu, Nurul memutuskan kembali ke Klaten. Di kampung halaman, ia bertemu Widodo yang memiliki pandangan serupa tentang pentingnya menjaga lingkungan dari lingkup rumah tangga.

Sistem Pekarangan Terpadu

Rumah mereka berdiri di atas lahan 500 meter persegi. Sebanyak 300 meter persegi mereka manfaatkan untuk kebun dan peternakan kecil.

Bagian depan dipenuhi tabulampot seperti jambu dan durian. Sementara itu, sisi samping ditanami merica dan pisang, lalu bagian belakang menjadi kebun sayur dengan bunga telang.

Selain itu, mereka memelihara ayam, ikan lele, dan membudidayakan maggot. Seluruh kegiatan ini saling terhubung dalam sistem pangan minim limbah.

Baca Juga:  Suka Olahraga? Inilah Tempat Jogging di Bandung yang Bisa Anda Kunjungi

Mengelola Limbah Menjadi Sumber Daya

Widodo menekankan prinsip memenuhi kebutuhan dari lingkungan terdekat. “Kalau butuh sesuatu, kami tidak langsung membeli, tetapi mencari cara memproduksinya sendiri,” ujarnya.

Awalnya, mereka memulai dari kebun sayur kecil. Kemudian, mereka menambah ayam untuk memenuhi kebutuhan telur dan memanfaatkan limbah dapur sebagai pakan.

Ketika volume limbah meningkat, mereka mengumpulkan sampah organik dari warung sekitar. Untuk mengatasinya, mereka mengembangkan budidaya maggot yang mengolah sampah, menghasilkan pakan, dan memproduksi pupuk organik.

Selain itu, mereka membuat pupuk kandang, pestisida alami, dan media tanam. Sebagian hasil olahan tersebut mereka jual sebagai produk tambahan.

Ruang Belajar Kemandirian

Sejak 2017, Yoso Farm menarik perhatian banyak pihak. Sekolah, komunitas, mahasiswa, hingga keluarga muda datang untuk belajar langsung.

Baca Juga:  5 Cara Bangun Keluarga Harmonis “Cinta” Ala UIN Bandung

Mereka menawarkan berbagai program edukasi, seperti outing class, greenschool, workshop kebun, pelatihan maggot, garden tour, dan magang pertanian mandiri. Semua kegiatan berlandaskan nilai Lestari Nganggo Ati.

Hidup Selaras dengan Alam

Bagi Nurul dan Widodo, homestead bukan sekadar metode bertani. Mereka menjadikannya sebagai cara hidup yang menekankan makanan alami tanpa proses kimia berlebih.

Meski belum sepenuhnya swasembada, mereka telah memenuhi sebagian besar kebutuhan dapur dari pekarangan sendiri. Karena itu, mereka berharap semakin banyak keluarga memahami asal-usul makanan.

Dari pekarangan seluas 500 meter persegi, mereka membuktikan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hal mustahil, asalkan dilakukan dengan hati.***(IK22/Furqon)

 

PMB UMBandung