Edukasi

UPI Hadirkan Divisi Inklusi dalam MOKA-KU 2025: Komitmen Kampus Ramah Disabilitas

×

UPI Hadirkan Divisi Inklusi dalam MOKA-KU 2025: Komitmen Kampus Ramah Disabilitas

Sebarkan artikel ini
sumber: Adam Nurmansyah

BANDUNGMU.COM, Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperkenalkan Divisi Inklusi dalam rangka penyelenggaraan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKA-KU) 2025.

Langkah ini menjadi komitmen kampus untuk memastikan mahasiswa baru, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, mendapat pendampingan dan fasilitas yang layak selama kegiatan orientasi.

Inisiatif Divisi Inklusi Mendapat Apresiasi

Pembentukan Divisi Inklusi ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa baru, panitia, dan sivitas akademika. Banyak yang menganggap divisi ini sebagai terobosan penting menuju kampus yang lebih inklusif dan ramah disabilitas.

Pengalaman Mahasiswa Penyandang Disabilitas

Shafina Naisya Olanda, salah satu mahasiswa baru penyandang disabilitas, berbagi pengalaman mengikuti MOKA-KU 2025. Menggunakan kursi roda, ia sempat khawatir tentang kenyamanan selama orientasi.

Namun, kekhawatirannya hilang setelah mengetahui adanya Divisi Inklusi. “Alhamdulillah, saya sangat terbantu dengan adanya divisi ini. Ternyata UPI memiliki divisi khusus untuk mahasiswa inklusi,” ujarnya.

Shafina juga merasa pendamping yang ramah dan memahami kebutuhan peserta. Namun, ia mencatat ada beberapa fasilitas yang masih perlu ditingkatkan, seperti aksesibilitas tempat ibadah bagi penyandang disabilitas.

“Fasilitas yang paling kurang itu adalah tempat ibadah yang belum memadai untuk kursi roda,” tambahnya.

Baca Juga:  Anak Muda Kota Bandung Rentan Terkena Hipertensi

Shafina memaknai kampus inklusif sebagai tempat yang mendukung mahasiswa disabilitas tanpa diskriminasi.

“Kampus inklusif adalah kampus yang fasilitas dan lingkungannya mendukung mahasiswa disabilitas dan saling mendukung antar mahasiswa,” jelasnya.

Ia berharap UPI terus meningkatkan kebijakan dan fasilitas, terutama dalam penyediaan toilet disabilitas dan akses ke tempat ibadah yang ramah kursi roda.

Lahirnya Divisi Inklusi dari Keresahan

Ketua Divisi Inklusi sekaligus pencetus ide, Adam Nurmansyah, menjelaskan bahwa divisi ini muncul karena keresahan terhadap kurangnya akomodasi bagi mahasiswa disabilitas dalam MOKA-KU tahun-tahun sebelumnya.

“Divisi Inklusi ini berawal dari keresahan tentang kurangnya perhatian terhadap mahasiswa baru berkebutuhan khusus,” ujar Adam.

Ia juga menyoroti kurangnya pelatihan bagi panitia dalam mendampingi mahasiswa disabilitas. “Pendataan mahasiswa disabilitas juga belum komprehensif setiap tahunnya,” tambah Adam.

Pembentukan Divisi Inklusi tidak terjadi dalam waktu singkat. Dimulai dari diskusi tiga individu, Adam, Aji, dan Fikri, ide ini berkembang melalui forum audiensi pada 30 Juni 2025.

Setelah mendapat respons positif dalam forum koordinasi antar ormawa, divisi ini akhirnya disetujui oleh Direktorat Kemahasiswaan UPI.

Baca Juga:  Selain Jadi Guru TK dan PAUD, Ini 7 Prospek Kerja Lulusan PIAUD UM Bandung

“Alhamdulillah, setelah proses panjang, divisi inklusi resmi bergabung dalam kepanitiaan MOKA-KU 2025,” kata Adam.

Fasilitas dan Layanan Divisi Inklusi

Divisi Inklusi menyiapkan berbagai fasilitas untuk memastikan mahasiswa berkebutuhan khusus dapat mengikuti MOKA-KU dengan nyaman.

Fasilitas tersebut meliputi pendampingan pra-kegiatan, alat transportasi antar-gedung, kursi roda, tongkat tunanetra, dan juru bahasa isyarat (JBI).

“Pendampingan dan fasilitas seperti transportasi antar gedung, kursi roda, tongkat tunanetra, serta JBI sudah kami siapkan,” jelas Adam.

Sebelum kegiatan dimulai, seluruh panitia mendapatkan pelatihan untuk mendampingi mahasiswa disabilitas. Pelatihan ini diberikan kepada semua pendamping, termasuk yang bukan mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus.

Respons Positif dari Civitas Akademika

Respon publik terhadap hadirnya Divisi Inklusi sangat positif. “Alhamdulillah, respon dari masyarakat UPI sangat baik, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga orang tua mahasiswa baru berkebutuhan khusus,” ujar Adam.

Tantangan Pendataan Mahasiswa Disabilitas

Namun, Adam mengakui bahwa pendataan mahasiswa disabilitas tetap menjadi tantangan terbesar. Dengan total 8.419 mahasiswa baru, divisi harus melakukan validasi data secara langsung agar layanan pendampingan tepat sasaran.

Divisi Inklusi: Vital untuk MOKA-KU 2025

Ketua Pelaksana MOKA-KU 2025, I Gusti Arsya Pramudya Putra, mengungkapkan bahwa Divisi Inklusi sangat vital dalam menyukseskan kegiatan tahun ini.

Baca Juga:  Siapkan Generasi Milenial Mengabdi 4.0, Mahasiswa KPI UIN Bandung Berpartisipasi dalam Survei di Labuan Bajo

“Dengan 8.419 mahasiswa baru, divisi ini memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal dalam pengalaman orientasi,” ujar Gusti.

Ia berharap nilai inklusivitas tidak hanya menjadi slogan dalam MOKA-KU, tetapi menjadi budaya yang diterapkan di seluruh UPI.

“Divisi Inklusi menunjukkan komitmen UPI untuk menciptakan lingkungan kampus yang ramah, setara, dan dapat diakses oleh semua mahasiswa,” tegasnya.

Harapan untuk Masa Depan Divisi Inklusi

Adam dan Gusti berharap Divisi Inklusi tidak hanya berlaku untuk MOKA-KU 2025, tetapi menjadi contoh bagi seluruh kegiatan kemahasiswaan di UPI dan kampus lainnya.

“Kami berharap divisi inklusi menjadi contoh agar setiap kegiatan di UPI mempertimbangkan aspek inklusivitas,” kata Adam.

Hadirnya Divisi Inklusi dalam MOKA-KU 2025 bukan hanya soal pendampingan, tetapi juga simbol perubahan besar menuju kampus yang lebih menghargai keberagaman.

Langkah ini menjadi bukti bahwa UPI berkomitmen menjadi kampus yang inklusif, di mana setiap mahasiswa dapat belajar, berkembang, dan berpartisipasi dengan hak yang setara.***(IK22/Cellinda)