BANDUNGMU.COM, Bandung — Belum sepekan setelah gelaran puncak acara Fesiba 2025 berlalu, tepat di tanggal 27 Rajab bersamaan dengan tanggal kelahiran Aisyiyah, Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga PWA Jabar mengadakan rapat kerja lembaga.
Rapat kerja ini dilaksanakan guna mengevaluasi target program kerja yang telah diputuskan dalam Rakerwil di awal periode kepemimpinan. Evaluasi capaian target tadi dijadikan landasan untuk perumusan kegiatan bagi program kerja yang belum terlaksana.
“Kita berharap, program kerja yang telah diputuskan di Rakerwil dapat dituntaskan di setengah periode akhir yang tersisa ini agar kita tidak meninggalkan utang program untuk periode berikutnya,” ucap Susi Indriana saat menyampaikan sambutannya sebagai koordinator di awal acara.
Selain itu raker ini pun menjadi jembatan kemunculan ide dan kreasi dari anggota LBSO dalam menyiasati bentuk kegiatan berikut pelaksanaannya. Tersebutlah rihlah ke daerah Tasikmalaya dan sayembara batik khas Jawa Barat sebagai dua giat yang diusung dari hasil raker.
“Dua giat di atas, merupakan agenda pelaksanaan program yang tertunda. Dari empat program yang diputuskan di Rakerwil dua telah terlaksana dengan baik dan dua lagi belum. Kami ingin menuntaskan dua program tersebut agar kami memiliki nilai kebanggaan keterlaksanaan program kerja,” demikian kata Ade Kartini selaku Ketua LBSO Jabar.
Rihlah merupakan rencana giat untuk menunaikan program kerja ACET (Aisyiyah Cultural and Educational Tourism) dan mengembangkan kain Nusantara.
“Sedianya dua giat tersebut dilaksanakan sepanjang tahun ini karena sisa periode kepemimpinan pun tinggal empat semester kurang lebih yang tersisa,” ujar Ade Kartini.
Rapat yang dipandu oleh bendahara LBSO PWA Jawa Barat Hertin Nopianti ini begitu hangat dan interaktif di antara peserta walaupun diadakan secara daring lewat aplikasi zoom meeting.
Rapat yang dimulai pukul 20.00 WIB itu diakhiri dengan sebuah pesan dari Ketua PWA Jawa Barat untuk mulai melakukan penelusuran sejarah Aisyiyah Jawa Barat.
Pekerjaan rumah dan amanat yang besar dari pimpinan bagi LBSO PWA Jabar. Hal ini dikarenakan kerja tersebut harus melibatkan majelis dan lembaga lain, yaitu Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PW Muhammadiyah dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan PW Aisyiyah Jawa Barat.
Walau demikian rapat yang dihadiri oleh 80 persen anggota LBSO diakhiri dengan penuh semangat. Hal ini terlihat dari antusiasme anggota dalam menyimak dan merespon pembahasan rapat.***









