BANDUNGMU.COM – Adilnya Allah tidak akan bisa dibandingkan dengan adilnya makhluk. Tidak akan pernah bisa sampai kapanpun.
Apa pasal? Kasih sayang Allah nyatanya lebih besar daripada murka-Nya. Ampunan Allah lebih besar daripada hukuman-Nya. Itulah Allah, Zat Mahabaik yang kebaikannya abadi.
Kepada hamba yang berbuat dosa sekalipun, adil dan kasih Allah tetap berlaku, hanya saja caranya mungkin akan berbeda. Atau bisa saja sama dengan perlakuan kepada hamba pada umumnya.
Dalam “Nashaihul Ibad” karya Syekh Nawawi Al-Bantani, ada nasihat yang patut kita renungkan dari Sa’ad bin Hilal yang berkata:
”Apabila seorang hamba berbuat dosa, Allah akan tetap memberinya empat pemberian. Pertama, dia tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki. Kedua, dia tidak terhalang untuk mendapatkan kesehatan badan. Ketiga, Allah tidak menampakan dosanya semasa hidup di dunia. Keempat, Allah tidak menyegerakan hukumannya di dunia.”
Pertama, dia tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki.
Sungguh Allah Mahaadil bahkan kepada orang yang berbuat dosa sekalipun. Tidak pernah Allah membiarkan seorang hamba pun berjalan tanpa mendapat haknya.
Hanya persoalannya, apakah hamba itu pantas atau tidak mendapat perlakuan istimewa dari Allah, ketika dia sendiri asyik dengan dosa.
Rezeki hamba yang berdosa tidak sedikitpun dikurangi oleh Allah hanya karena dia berbuat dosa kepada-Nya. Andai manusia yang bertanggung jawab atas pembagian rezeki, niscaya akan dikurangi karena alasan si penerima rezeki berbuat salah.
Kedua, dia tidak terhalang untuk mendapatkan kesehatan badan.
Sehat rohani dan jasmani adalah dambaan setiap hamba. Baik hamba yang beriman maupun hamba yang masih berlumur dosa, menginginkan badannya tetap sehat agar bisa beraktivitas.
Siapa yang menyehatkan badan seorang hamba? Tentu Allah. Apakah seorang pendosa langsung dihukum oleh Allah dengan sakit? Tentu tidak.
Antara sehat dan sakit, Allah pergilirkan kepada setiap hamba. Tidak peduli dia beriman ataupun tidak beriman kepada Allah. Hamba yang berdosa pun berhak mendapatkannya.
Ketiga, Allah tidak menampakan dosanya semasa hidup di dunia.
Kebahagiaan hakiki orang beriman ialah dia hidup nyaman di dunia tanpa khawatir dosa dan kesalahannya tersingkap sehingga diketahui oleh orang lain. Dosa itu hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.
Begitu juga Allah menutupi dosa-dosa orang yang berbuat dosa di dunia sehingga orang lain tidak tahu hakikat yang sebenarnya orang tersebut. Dia aman untuk sementara.
Kok Allah sampai berbuat seperti itu? Tentu saja Allah mampu karena Dialah Zat yang membolak-balikkan hati manusia di dunia ini. Siapa tahu hidayah datang dan dia bertobat.
Keempat, Allah tidak menyegerakan hukumannya di dunia.
Baik di dunia maupun di akhirat, hukuman Allah pasti sangat menyakitkan kalau tidak segera meminta ampun kepada-Nya. Bahkan mungkin di akhirat akan lebih dahsyat lagi.
Umat Muhammad memang istimewa. Allah bisa menunda atau tidak menghukum langsung hamba yang berbuat dosa. Tidak seperti umat-umat nabi terdahulu.
Hamba yang berdosa yang masyik dengan dosanya, diberi waktu oleh Allah agar cepat bertobat. Hukuman atas perbuatan dosanya tidak disegerakan oleh Allah.
Renungan
Empat pemberian dari Allah di atas menjadi cerminan bahwa hamba yang berdosa sekalipun tetap Allah berikan hak-haknya. Adilnya Allah tidak berkurang sedikit pun.
Apa yang harus kita lakukan? Jangan pernah menunda-nunda tobat atas dosa kepada Allah.
Kemudian, banyak-banyaklah bersyukur kepada Allah karena kita masih banyak diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Allah sudah memberikan kesempatan untuk kita tobat.
Rugi benar kalau kita meninggal, sedangkan dosa kita belum ditobati. Mau menghadap Allah dengan cara apa kita kelak. Malu rasanya.
Allah sudah begitu baik, sudah begitu adil, sedangkan kita masih asyik dengan dosa, harus dengan cara apalagi Allah mengingatkan kita? Renungkanlah!***
