Oleh: Ace Somantri*
Jauh sebelum negeri ini resmi berdiri secara de jure sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, telah hadir sebuah kekuatan sosial-keagamaan yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat, yakni Muhammadiyah.
Organisasi ini bukan sekadar perkumpulan, melainkan entitas gerakan yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial.
Nama Muhammadiyah kemudian melegenda dalam perjalanan sejarah Islam di Nusantara.
Di balik lahirnya gerakan besar ini, terdapat sosok ulama visioner, Kiai Ahmad Dahlan, yang dikenal alim sekaligus kritis dalam membaca realitas sosial.
Melalui gagasan-gagasannya yang progresif, dia memberikan kontribusi besar dalam mendorong pembaruan pemikiran Islam, baik dalam ranah akademik maupun dalam praktik nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Sumber ajaran otentik dan orginal, ayat-ayat-Nya penuh makna yang luas dan mendalam. Berangkat dari kegelisahan seorang ulul albab, Kiai Dahlan meretas peradaban untuk membangun kehidupan manusia lebih adil, sejahtera, dan beradab.
Kala itu jeritan masyarakat yang terjajah fisik dan psikisnya, semua diakibatkan oleh konsekuensi dari kemiskinan ilmu pengetahuan dan harta kekayaan.
Tergerak hati dan perasaannya, sehingga dia membuat algoritma yang tepat untuk menyelesaikan fenomena yang dialami oleh masyarakat pribumi, sumber rumusanya mengambil dari ayat-ayat-Nya sesuai yang dibutuhkan.
Sehingga di saat masyarakat dan umat membutuhkan sentuhan dan solusi, Kiai Dahlan memberikannya tanpa rasa ragu hingga rela berkorban jiwa dan harta.
Demi keberlanjutannya, pelan tapi pasti kehadiran sosok Kiai Dahlan yang berkontribusi pada masyarakat mendapat penilaian dari sebagian kecil orang di sekitarnya.
Tertarik bergabung, mereka kemudian bersama mengaji dan mengkaji beberapa surat dan ayat dari Al-Qur’an satu huruf hingga satu surah menggali dan mengurai hingga tersusun rumus algoritma untuk berdakwah amar maruf nahi mungkar tanpa batas ruang dan waktu.
Bukan sekedar mengajak kebaikan, melainkan membantu dan menolong sesama yang membutuhkan.
Cara dan strategi dibuat oleh Kiai Dahlan bersama sahabat sekaligus muridnya hingga harus berkolaborasi dengan entitas lain yaitu Budi Utomo, mereka para penggerak dari masing-masing individu berlatarbelang kesehatan.
Tak berhenti dan juga tak merasa puas saat bergerak, terus melaju dengan visi gerakan berkemajuan.
Gaya Kiai Dahlan memang unik dan nyentrik, karakter kritisnya membuat sebagian orang tertarik sekaligus juga merasa terancam dengan kiprahnya.
Tak takut apalagi gentar, menghadapi berbagai halang rintang yang muncul di hadapannya.
Terus maju pantang mundur, selama napas masih berhembus dan jiwa masih tegar, tidak ada alasan berhenti hanya karena tekanan akibat banyak iri, dengki, hasud, dan jelous dengan karakternya membuat gerah sekaligus memberi harapan bagi masyarakat tertindas.
Kehadirannya memberi inspirasi, motivasi, dan solusi bagi kaum tertindas.
Namun, membuat orang tidak nyaman hingga melakukan penghasutan provokasi yang berujung penindasan brutal yang mengakibatkan robohnya langgar tempat mengaji dan kajian.
Sekolah atau madrasah, project amal nyata pertama Kiai Dahlan membangun sebuah mimpi bagi anak negeri. Sesuai dengan syariat wahyu pertama, “Bacalah dengan menyebut nama Rabb-Mu”, terwujud dalam sebuah bangunan pendidikan untuk masa depan.
Anak-anak miskin dari keluarga duafa, mereka yang didahulukan untuk menikamati manisnya belajar membaca dan menulis yang langsung Kiai Dahlan seorang gurunya.
Berbeda, cara, dan metode pendekatan pembelajaran relatif menarik bagi generasi karena kreatifitas dan inovasi model pembelajarannya unik dan menarik disimak.
Kata dan kalimat yang disampaikan sangat menyentuh kalbu hingga terbawa rasa penuh perasaan membuat emosi setiap pembelajar tergugah.
Dari kolaborasi bersama Budi Utomo, Muhamadiyah lahir yang dilahirkan oleh Kiai Dahlan bersama sahabat-sahabat dekatnya.
Meluas dan membranding pada sosok Kiai Dahlan sebagai yang pelopor gerakan sosial Islam, dengan Muhammadiyah sebagai entitas sosial yang bervisi jauh kedepan telah terwujud sebuah gagasan yang membuat matahari terbit untuk menerangi alam semesta.
Masyarakat mendengar, kemudian berbicara dari mulut ke mulut bahwa sebuah organisasi berdiri untuk memberi solusi berharap keluar dari berbagi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Selama dirasakan, saat di bawah kekuasaan Hindia Belanda suasana kebathinan nyaris tidak ada harapan dan terasa gelap gulita akan sebuah cita-cita hidup dikala itu.
Kehadiran Muhammadiyah memberikan oase ditengah gurun pasir yang kapan-kapan badai akan menghempasnya menerjang seluruh benda yang berada di atasnya.
Berangsur tapi tercapai, pelan tapi pasti, sebuah harapan dan cita-cita secara bertahap sampai pada setiap tujuan terdekat.
Mulai dari sebagian masyarakat berpendidikan, mengetahui dan memahami beberapa hal yang dihadapi.
Memiliki kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan dan ketertindasan diri, mulai menanam harapan dalam jiwa masing-masing untuk masa depan yang hendak diraih.
Rasa terima kasih sehingga bersyukur atas ijin dan rida-Nya, melalui tangan kreatif Kiai Dahlan dan sebuah kapal perahu besar bernama Muhammadiyah, tanpa dipaksa atau terpaksa untuk menjadi bagian dari gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar untuk bersama bergerak menjadi anggota aktif.
Lama-lama tak terasa, banyak murid atau santri Kiai Dahlan yang ikut terlibat berpartisipasi menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah demi berjuang atau berjihad fii sabilillah.
Dengan kekuatan yang dimiliki, berangkat dari sekolah atau madrasah ilmu yang menjadi sosok-sosok penggerak di mana pun mereka bermukim.
Muhammadiyah, terus berkiprah nyata selain melahirkan sekolah-sekolah atau madrasah sebagai pusat pendidikan memberi akses kepada masyarakat untuk menimba dan menggali ilmu pengetahuan.
Secara organik, seluruh alumni sekolah atau madrasah Muhammadiyah dan kelompok pengajian Kiai Dahlan terus menetas hingga berdiaspora tersebar ke seluruh pelosok negeri menyebarkan gerakan pembaruan dakwah amar makruf nahi mungkar dalam bidang pendidikan.
Sekolah atau madrasah, solusi bagi masyarakat dan negara untuk sebuah bangunan peradaban bangsa sehingga menjadi negara kuat dan bermartabat.
Terjemahan dan salah satu maksud dari wahyu pertama, hukum menjadi wajib akan keberadaannya tanpa alasan apapun bahwa sebuah entitas pendidikan sebagai solusi.
Sehingga Muhammadiyah dari dulu hingga kini telah mem-branding sebagai organisasi modern yang fokus pada pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan formal maupun non formal. Mulai dari taman kanak-kanak, dasar, menengah dan perguruan tinggi.
Solusi mendasar yang dilakukan Muhammadiyah, memberi solusi nyata untuk bangsa dan negara dari permasalahan negara dalam sektor pembangunan kemanusiaan dalam mempersiapkan generasi masa depan.
Dengan sekolah, hampir dipastikan secara tekstual saat mereka mampu membaca dari rangkaian huruf menjadi kata dan rangkaian kata menjadi sebuah kalimat.
Sehigga bagi masyarakat, saat mereka mampu membaca teks, pada akhirnya mereka mengetahui mana yang baik dan buruk. Mana yang salah dan mana yang benar.
Mereka mampu menjaga diri dari kekeliruan dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk mempertahankan dari segala hal yang mengancam dari kepunahan hidup.
Dari sikap demikian, atas hidayah-Nya telah memberi spirit dan motivasi kuat secara bersamaan untuk melawan segala ketertindasan secara sengaja oleh pihak mana pun.
Termasuk melawan segala bentuk kebijakan para pejabat dan penguasa Hindia Belanda yang dzalim dan tirani.
Dari sekolah dan madrasah Muhammadiyah telah memberi cahaya perlawanan bagi masyarakat untuk bangkit dari ketertindasan imprealisme manapun dan dalam bentuk apa pun.
Hari ini dan esok hari yang akan datang, penuh bangga karena banyaknya ribuan sekolah berdiri dan tersebar hingga ke Benua Australia.
Sudahkah mengukur ketercapaian dampak dari proses dan mendatangkan hasilnya yang memuaskan?
Bukan sekedar data yang terpampang dalam data base semata tertera dalam sistem informasi digital, melainkan dan bukan juga karena setoran infak guru dan siswa lancar memenuhi rekening persyarikatan.
Melainkan yang paling ditunggu efek pada perubahan masyarakat secara terbuka dan terukur di mana Muhammadiyah hadir dan sekolahnya berdiri.
Jika hari ini, sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah sudah penuh berdiri di seluruh kota provinsi di Indonesia, mampukah mereka yang terdidik dan terpelajar untuk mememerdekakan masyarakat yang masih mengalami ketertindasan, baik tertindas secara pendidikan, ekonomi dan politik kedaerahan? Wallahu’alam.
*Wakil Ketua PWM Jawa Barat
