PMB UMbandung
Opini

Dari Kauman Menuju Dunia: Refleksi 63 Tahun Tapak Suci Putera Muhammadiyah

×

Dari Kauman Menuju Dunia: Refleksi 63 Tahun Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

Oleh: Nashrul Mu’minin*

Tidak semua organisasi lahir sekadar untuk bertahan hidup. Sebagian lahir untuk menorehkan sejarah, membangun peradaban, dan melahirkan generasi yang terus menghidupkan nilai-nilai luhur sepanjang zaman.

Tapak Suci Putera Muhammadiyah merupakan salah satunya. Tepat pada 31 Juli 2026, perguruan seni bela diri yang lahir dari rahim Muhammadiyah ini genap berusia 63 tahun dengan mengusung tema “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia.”

Tema tersebut bukan sekadar slogan seremonial, melainkan penegasan bahwa Tapak Suci harus tetap kokoh menjaga akar sejarahnya sembari menatap masa depan dengan semangat inovasi, profesionalisme, dan dakwah yang semakin luas.

Jejak perjalanan Tapak Suci dimulai di *Kauman, Yogyakarta, sebuah kampung bersejarah yang menjadi pusat lahirnya Muhammadiyah pada awal abad ke-20.

Di lingkungan yang sarat nilai keislaman dan pembaruan itulah Tapak Suci resmi berdiri pada 31 Juli 1963. Kauman bukan hanya tempat kelahiran sebuah organisasi, tetapi ruang lahirnya gagasan besar tentang Islam yang mencerahkan.

Dari gang-gang sempit Kauman, lahir gerakan dakwah, pendidikan, dan pembinaan karakter yang kemudian menjangkau seluruh Indonesia bahkan berbagai penjuru dunia.

Tapak Suci menjadi salah satu mata rantai perjuangan tersebut melalui jalan seni bela diri yang bernafaskan Islam.

Para pendiri Tapak Suci memahami bahwa seni bela diri tidak boleh berhenti pada kemampuan mengalahkan lawan.

Ilmu bela diri harus menjadi jalan membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia, kedisiplinan, keberanian, serta tanggung jawab sosial. Filosofi tersebut menjadikan Tapak Suci berbeda dengan sekadar perguruan olahraga.

Di dalam setiap latihan tersimpan pendidikan karakter, penghormatan kepada guru, persaudaraan antarsesama, dan semangat beribadah kepada Allah.

Kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang mampu menjatuhkan lawannya, melainkan ketika ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Nilai itu sejalan dengan firman Allah: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60).

Baca Juga:  PDM Kabupaten Bogor Resmikan SMK Muhammadiyah 9 Nanggung dengan Program Keahlian Kuliner

Ayat tersebut mengajarkan bahwa Islam mendorong umatnya memiliki kekuatan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kemampuan fisik, melainkan juga kekuatan iman, ilmu pengetahuan, persatuan, ekonomi, mental, dan akhlak.

Dengan demikian, latihan bela diri dalam Tapak Suci bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan bagian dari ikhtiar membangun manusia yang utuh.

Semangat itu semakin dipertegas oleh sabda Rasulullah:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” *(HR Muslim).*

Hadis tersebut menjadi fondasi moral Tapak Suci. Kekuatan seorang mukmin tidak hanya diukur dari kemampuan fisiknya.

Namun, dari keteguhan iman, keluasan ilmu, kematangan akhlak, kecerdasan berpikir, serta kemampuannya menghadirkan manfaat bagi sesama.

Seorang pendekar sejati adalah pribadi yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, menjaga kehormatan dirinya, serta menjadikan ilmunya sebagai sarana amar makruf nahi mungkar. Inilah ruh pendidikan Tapak Suci yang tetap relevan hingga hari ini.

Selama enam puluh tiga tahun, Tapak Suci berkembang dari sebuah perguruan di Kauman menjadi organisasi yang memiliki cabang di hampir seluruh provinsi Indonesia bahkan merambah berbagai negara.

Ribuan atlet lahir membawa nama Indonesia di arena nasional maupun internasional.

Namun sesungguhnya prestasi terbesar Tapak Suci bukan hanya medali dan piala, melainkan lahirnya kader-kader yang menjadi guru, dosen, ulama, aparat keamanan, tenaga kesehatan, birokrat, pengusaha, hingga tokoh masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Tapak Suci sebagai pedoman hidup.

Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Tapak Suci memiliki misi dakwah yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Setiap latihan adalah ruang pembinaan karakter.

Baca Juga:  Sambut Ramadan dengan Energi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Setiap jurus mengandung nilai kesabaran. Setiap penghormatan kepada pelatih mengajarkan adab.

Setiap pertandingan melatih sportivitas. Bahkan setiap kekalahan menjadi pelajaran tentang kerendahan hati dan evaluasi diri.

Oleh karena itulah Tapak Suci tidak hanya membentuk atlet, tetapi juga membentuk manusia yang siap mengabdi kepada umat, bangsa, dan persyarikatan.

Memasuki era digital, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks.

Arus informasi bergerak tanpa batas, media sosial membentuk gaya hidup instan, sementara berbagai persoalan seperti perundungan, penyalahgunaan narkoba, kekerasan remaja, hingga krisis identitas semakin mengkhawatirkan.

Dalam situasi demikian, keberadaan Tapak Suci justru semakin menemukan relevansinya. Pendidikan karakter yang selama ini dibangun melalui disiplin latihan, persaudaraan, dan pembinaan spiritual menjadi benteng penting bagi lahirnya generasi Islam yang tangguh.

Tema Milad ke-63 memberikan arah yang sangat jelas. Berakar Tradisi berarti menjaga warisan nilai para pendiri tanpa kehilangan identitas keislaman dan kemuhammadiyahan.

Modern berarti terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, sport science, serta tata kelola organisasi yang profesional.

Mandiri berarti memiliki kekuatan sumber daya manusia dan kelembagaan yang kokoh. Adapun Mendunia merupakan cita-cita agar Tapak Suci semakin dikenal sebagai seni bela diri Islam Indonesia yang mampu berdialog dengan masyarakat internasional.

Pandangan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah memberikan pelajaran bahwa peradaban hanya akan bertahan apabila mampu menjaga solidaritas sosial (‘ashabiyah) sekaligus melakukan pembaruan.

Organisasi yang menolak perubahan akan tertinggal oleh zaman, sedangkan organisasi yang melupakan sejarahnya akan kehilangan jati dirinya.

Selama enam puluh tiga tahun, Tapak Suci berusaha berjalan di antara dua kutub tersebut: memelihara tradisi sambil terus melakukan inovasi.

Pemikir Muslim Malik bin Nabi juga mengingatkan bahwa kebangkitan suatu umat ditentukan oleh kualitas manusianya. Bangunan megah dan fasilitas modern tidak akan berarti apabila tidak dibarengi pembinaan karakter.

Baca Juga:  Isra Mikraj, Keteladanan Nabi Muhammad yang Inspiratif

Oleh karena itu, investasi terbesar Tapak Suci sesungguhnya adalah manusia.

Kader yang jujur, disiplin, berintegritas, cinta ilmu, dan berjiwa dakwah merupakan modal utama untuk membangun masa depan organisasi sekaligus masa depan bangsa.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, Tapak Suci memiliki peluang besar menjadi duta budaya Indonesia. Seni bela diri bukan sekadar olahraga, tetapi bagian dari identitas bangsa.

Ketika pesilat Tapak Suci tampil di berbagai kejuaraan internasional, sesungguhnya mereka membawa lebih dari sekadar teknik persilatan.

Mereka membawa wajah Islam yang damai, budaya Indonesia yang santun, dan semangat Muhammadiyah yang berkemajuan.

Inilah bentuk diplomasi budaya yang sangat berharga bagi Indonesia.

Milad ke-63 juga menjadi momentum muhasabah. Organisasi sebesar apa pun tidak boleh merasa puas dengan capaian masa lalu.

Evaluasi terhadap kualitas kaderisasi, pembinaan pelatih, regenerasi kepemimpinan, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan dakwah harus terus dilakukan.

Sebab tantangan masa depan jauh lebih kompleks dibandingkan tantangan ketika Tapak Suci pertama kali berdiri pada tahun 1963.

Akhirnya, refleksi enam puluh tiga tahun Tapak Suci mengajarkan bahwa sebuah organisasi akan dikenang bukan karena usia yang panjang, melainkan karena manfaat yang terus dirasakan umat.

Dari Kauman, cahaya itu mulai dinyalakan oleh para pendiri dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

Kini cahaya tersebut telah menjangkau berbagai penjuru Nusantara bahkan dunia. Semoga Milad ke-63 menjadi titik tolak lahirnya Tapak Suci yang semakin kokoh berakar pada tradisi Islam, semakin modern dalam pengelolaan, semakin mandiri dalam pengembangan organisasi, serta semakin mendunia dalam prestasi dan dakwah.

Sebab pendekar sejati bukan hanya mereka yang mampu menaklukkan lawan di arena, melainkan mereka yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri demi kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

*Content Writer Yogyakarta

PMB UMBandung