Oleh: Feri Anugrah, Kader Muda Muhammadiyah
BANDUNGMU.COM — Saya setidaknya berprinsip bahwa sesuatu hal akan indah pada waktunya kalau urusan shalat berjamaah menjadi kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan dengan alasa apa pun.
Khususnya shalat berjamaah yang dilaksanakan warga Muhammadiyah yang ada di amal usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya lagi di AUM tempat saya mengabdi saat ini.
Apa pasal? Jangan berbicara sesuatu yang melangit atau tema diskusi tinggi kalau shalat berjamaah saja disepelekan. Kekuatan Muhammadiyah membangun rumah sakit, sekolah, kampus, saran panti sosial, dan fasilitasnya lainnya itu akitat pertolongan dari Allah.
Allah yang memberikan segala nikmat kepada manusia, tak elok sekaligus tidak etis rasanya kalau Sang Khalik sudah memanggil melalui suara azan malah kita lalaikan.
Lagi pula mengabdi kepada Allah itu kewajiban kita sebagai hamba. Jadi, seandainya kita malu dan merasa punya iman, shalat berjamaah tidak mungkin diabaikan.
Sebaik-baiknya hamba di hadapan Tuhannya adalah ketika mereka bersegera memenuhi seruan-Nya apabila panggilan ibadah sudah dikumandangkan. Mereka bersegera menuju masjid.
Sebetulnya cukup sederhana: ketika suara azan berkumandang, tinggalkan sejenak kegiatan dan pekerjaan, lalu langsung bersiap shalat berjamaah di masjid. Tidak akan lama kok.
Selesai itu, kita semua bisa melanjutkan dengan kegiatan yang lain atau kembali melakukan aktivitas yang tadi ditinggalkan sejenak. Sesederhana dan sepraktis itu.
Menjadi pemandangan yang indah apabila pimpinan satu AUM jalan paling depan untuk melangkahkah kaki ke musala atau masjid untuk shalat berjamaah. Didampingi unsur pimpinan-pimpinan yang lain kemudian khusyuk shalat berjamaah di masjid. Indah nian.
Saya yakin semua itu sudah dilaksanakan oleh warga Muhammadiyah khususnya yang mengabdi di AUM, baik kampus, rumah sakit, maupun sekolah. Kenapa? Karena shalat berjamaah merupakan simbol dan tanda nyata bahwa kita mencintai Allah.
Kalau sudah mencintai Allah, kondisi apa pun akan tetap dihadapi dengan ikhlas. Kalau sudah ikhlas, pertolongan Allah akan datang dengan sendirinya tanpa diminta sekalipun.
Dan saya yakin warga Muhammadiyah sudah paham dan mengamalkan itu semua. Tidak mungkin Muhammadiyah bisa maju seperti saat ini tanpa campur tangan Allah. Tidak mungkin Muhammadiyah bisa kompak seperti sekarang kalau warganya tidak shalat berjamaah.
Ikhtiar lahir dan batin
Saya punya guru—semoga Allah menempatkan beliau di sisi yang mulia—yang sangat baik dalam memberikan teladan bagi yang lain. Khususnya para siswa dan guru.
Beliau adalah seorang guru, kepala sekolah, sekaligus tokoh Muhammadiyah senior di daerah sehingga dihormati karena kebaikan dan tangan dinginnya yang selalu berhasil di mana pun beliau ditempatkan—beliau seorang abdi negara.
Ketika azan berkumandang di toa masjid lingkungan sekolah, beliau selalu paling depan untuk segera ke masjid. Disusul kemudian oleh para siswa dan juga para guru.
Beliau selalu duduk di saf paling depan. Tidak pernah beliau duduk paling belakang. Selalu seperti itu setiap hari yang kami saksikan.
Hal yang lebih penting lagi, begitu beliau mimpin di sekolah kami, entah karena pengalaman atau karena pintar dalam mengelola keuangan, sekolah tersebut perlahan maju. Hingga sekarang, sekolah tersebut menjadi sekolah Muhammadiyah yang terbilang pesat kemajuannya.
“Bapak itu dari sejak muda sampai hari ini tidak pernah ketinggalan shalat tahajud dan puasa senin-kamis. Dan bapak itu selalu bangun pukul tiga subuh kemudian mandi. Habis itu tidak tidur lagi sampai azan subuh,” begitu kata beliau pada suatu hari di hadapan kami.
Saya berpikir, oh itulah mungkin sumber kesuksesan beliau selama ini. Termasuk kesuksesan dalam membawa sekolah kami lebih maju lagi ketika itu, bahkan hingga hari ini. Alhamdulillah.
Antara ikhtiar batin—shalat berjamaah, shalat tahajud, puasa sunah—dan ikhtiar lahir menjadi kombinasi mengapa tokoh pendidikan lemah lembut ketika berbicara ini dinaungi kesuksesan.
Oleh karena itu, mari kita mulai dari shalat berjamaah. Mengutamakan shalat berjamaah itu artinya mengutamakan Allah. Mengutamakan Allah maka balasannya adalah kita akan diutamakan oleh-Nya dengan karunia tak terhingga karena Allah Mahakaya.
Selain shalat berjamaah, tentu saja akan lebih sempurna lagi kalau diiringi dan dilengkapi dengan shalat-shalat sunah yang lain.
Jadi, andai jalan hidup kita, usaha kita, pekerjaan kita, ataupun lembaga yang kita pimpin susah sekali berkembangnya, barangkali kita terlalu asyik melalaikan shalat berjamaah.
Maka dari itu, ayo dimulai dari shalat berjamaah.***
