Dosen di Kampus Muhammadiyah Harus Mencerdaskan dan Mencerahkan

oleh -
Foto: Suaramuhammadiyah.id

BANDUNGMU.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan agar para dosen dan guru besar di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) menjadi suluh teladan dan ulul albab bagi para mahasiswa.

“Menjadi guru besar di lingkungan PTMA tentu bukan hanya meraih tingkatan akademik tertinggi, yang berarti sebenarnya dari karir selesai ke tingkat puncak dan mesti selesai dengan dirinya,” demikian pesan Haedar dalam pelantikan Rektor UM Palu Rajindra sebagai guru besar, Rabu (27/10/2021), dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

“Maka yang diperlukan adalah bagaimana memancarkan ilmu dan pengalaman keilmuan yang telah diraih dalam perjalanan panjang itu untuk bersama-sama dalam sistem PTMA dan pergerakan Muhammadiyah terus mencerahkan, mencerdaskan akal budi, karakter dan alam pikiran masyarakat luas sehingga kehadirannya tidak berada di menara gading, tetapi membumi di realitas kehidupan Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” imbuhnya.

Untuk itu, Haedar berpesan agar para dosen dan guru besar mampu menjadi sosok mencerahkan yang berpikir mendalam, luas, banyak perspektif sekaligus memberi kemanfaatan bagi kemajuan hidup masyarakat dan lingkungannya.

“Bangsa ini masih memerlukan usaha-usaha mencedaskan, mencerahkan baik dalam karakter maupun alam pikiran dan tindakan agar menjadi bangsa yang semakin matang, agar menjadi bangsa yang semakin cerdas sekaligus juga mencerdaskaan kehidupan seperti cita-cita para pendiri bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutur Haedar.

“Jangan sampai warga bangsa dan elit bangsa kita ini karena kurang terdidik atau tidak memperoleh sinar ilmu biarpun terdidik kemudian menjadi warga bangsa dan elit bangsa yang mengalami proses pembodohan atau juga membodohkan orang banyak karena berfikir tidak logis, berfikir tidak faktual, berfikir tidak ilmiah dan berfikir tidak pada asas-asas kebenaran yang diterima dan menjadi standar orang banyak. Hanya berfikir berdasar kehendak dan alam pikir sendiri yang tidak teruji dalam nalar sains, nalar kebenaran dan nalar kebajikan publik,” tegasnya.***(Muhammadiyah.or.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *