BANDUNGMU.COM, Bandung – Teknologi tidak harus hadir dalam bentuk yang rumit untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
Di Posyandu Mayasari 3, Kabupaten Bandung, tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mencoba menerjemahkan teknologi menjadi solusi sederhana yang membantu kader dan orang tua memantau tumbuh kembang balita.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim menghadirkan inovasi timbangan balita ramah anak berbasis Internet of Things (IoT) yang terhubung dengan dashboard digital.

Inovasi tersebut dipadukan dengan edukasi Prophetic Parenting agar pemantauan tumbuh kembang anak tidak hanya mengandalkan data. Namun, diperkuat dengan pola pengasuhan di lingkungan keluarga.
Program bertajuk “Pemberdayaan Posyandu melalui Inovasi Timbangan Balita Ramah Anak Berbasis IoT dan Penyuluhan Prophetic Parenting di Posyandu Mayasari 3” ini dipimpin dosen Prodi Teknik Informatika UM Bandung Dianti Eka Aprilia.
Program tersebut merupakan Skema Pengabdian Masyarakat Pemula dengan pendanaan dari Kemdiktisaintek.
Dianti mengatakan, inovasi yang dikembangkan berangkat dari kebutuhan nyata mitra.
Sebelum menentukan solusi, tim melakukan Focus Group Discussion (FGD), observasi alur pelayanan, dan analisis kebutuhan bersama kader Posyandu Mayasari 3 serta bidan desa pada 20 Juli 2026.
“Fokus utama kegiatan ini adalah membantu mewujudkan layanan posyandu yang lebih efisien, ramah anak, berbasis teknologi, sekaligus mendorong keterlibatan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” ujar Dianti.
Tim PKM terdiri atas Dianti Eka Aprilia dari Prodi Teknik Informatika sebagai ketua, bersama Mulki Rezka Budi Pratama dari Prodi Teknik Elektro dan Dian Kusumawati dari Prodi PIAUD.
Tim juga melibatkan mahasiswa Sultan Fadhilah Hilmiqashmal dan Zahra Hariah Attin dari Prodi Teknik Informatika serta Ridwan Romadlon dari Prodi Teknik Elektro.
Timbangan IoT Ramah Anak
Salah satu inovasi yang menjadi bagian utama program adalah timbangan balita berbasis IoT dengan desain menyerupai mobil-mobilan.
Konsep ini tidak sekadar membuat alat terlihat menarik. Namun, dirancang agar proses penimbangan terasa lebih nyaman dan menyenangkan bagi anak.
Yang membuatnya berbeda, hasil penimbangan dapat dikirim secara digital ke dashboard posyandu.
Dengan demikian, kader tidak perlu sepenuhnya mengandalkan pencatatan manual sehingga proses pelayanan dapat menjadi lebih praktis dan data pertumbuhan anak dapat terdokumentasi dengan lebih tertata.
Timbangan tersebut nantinya terintegrasi dengan Rasi Balita, sebuah dashboard posyandu berbasis web yang digunakan untuk mencatat, menyimpan, dan memantau data pertumbuhan balita secara digital.
Menurut Dianti, integrasi teknologi tersebut diharapkan dapat membantu kader bekerja lebih efisien sekaligus memudahkan orang tua memperoleh informasi mengenai perkembangan anak.
“Teknologi yang kami hadirkan diharapkan bukan hanya menjadi alat. Namun, benar-benar membantu kader dalam memberikan pelayanan dan membantu orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” katanya.
Teknologi Dilengkapi Edukasi Pengasuhan
Kebermanfaatan program ini tidak berhenti pada inovasi perangkat. Tim UM Bandung juga memberikan edukasi Prophetic Parenting kepada orang tua balita sebagai bagian dari upaya memperkuat pengasuhan di tingkat keluarga.
Materi edukasi dituangkan dalam modul pengasuhan anak usia 0–8 tahun yang membahas sejumlah aspek, mulai dari kasih sayang dan keteladanan, pemeliharaan kesehatan, kecintaan terhadap ilmu, hingga pendampingan anak dalam menggunakan teknologi.
Sebanyak 50 eksemplar modul telah diserahkan kepada posyandu dan orang tua balita.
Penyuluhan yang berlangsung pada 18 Agustus 2026 di Posyandu Mayasari 3, Kampung Cikalamiring RT 01 RW 03, Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, tersebut diikuti 38 orang tua balita.
Dari jumlah tersebut, 35 peserta mengikuti pengukuran melalui pre-test dan post-test.
Kegiatan juga diisi diskusi dan tanya jawab mengenai pengalaman serta berbagai tantangan yang dihadapi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Dianti menilai, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting karena pemantauan perkembangan anak tidak seharusnya berhenti ketika selesai ditimbang di posyandu.
Data pertumbuhan akan lebih bermakna jika diikuti perhatian, pengasuhan, dan pendampingan yang konsisten di rumah.
“Orang tua perlu memahami bahwa tumbuh kembang anak merupakan proses yang harus dipantau secara berkelanjutan. Karena itu, teknologi dan edukasi pengasuhan perlu berjalan bersama,” jelasnya.
Dari Kampus untuk Solusi Masyarakat
Setelah tahap edukasi, program akan dilanjutkan dengan penyerahan timbangan IoT dan aplikasi Rasi Balita kepada Posyandu Mayasari 3.
Tim juga menyiapkan pelatihan penggunaan alat dan aplikasi, implementasi, pendampingan, hingga evaluasi.
Tahapan tersebut dilakukan agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai produk PKM.
Namun, benar-benar dapat digunakan dan dipelihara oleh mitra dalam jangka panjang.

Melalui perpaduan IoT dan Prophetic Parenting, tim UM Bandung ingin menghadirkan model layanan posyandu yang lebih efisien, ramah anak, tertata, sekaligus dekat dengan kebutuhan keluarga.
Program ini juga memperlihatkan bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang sederhana dan aplikatif.
Teknologi tidak hanya dikembangkan di ruang laboratorium. Namun, dibawa lebih dekat ke masyarakat untuk membantu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.***









