BANDUNGMU.COM, Bandung — Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara masyarakat bekerja, belajar, mencari informasi, hingga mengambil keputusan.
Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya menilai perkembangan tersebut merupakan fenomena luar biasa yang perlu disikapi secara bijak agar manusia tidak justru bergantung sepenuhnya pada teknologi.
Atalia menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci dalam Workshop Riset di Era AI: Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga Universitas Muhammadiyah Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kamis (20/8/2026).

Menurut Atalia, penggunaan AI kini telah masuk ke berbagai bidang kehidupan, termasuk kesehatan. Dia mencontohkan masyarakat yang kini berkonsultasi dengan AI sebelum memeriksakan diri kepada dokter.
“Bahkan ada yang sebelum berobat ke dokter berinteraksi dulu dengan AI mengenai penyakit dan perkiraan obatnya. Ternyata obat yang disarankan sama dengan yang diberikan dokter,” kata Atalia.
Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan betapa cepat perkembangan AI. Teknologi ini bahkan seolah mampu bersaing dengan profesi yang membutuhkan pendidikan panjang seperti dokter.
Salah satu alasan masyarakat tertarik menggunakan AI adalah karena layanan tersebut relatif mudah diakses dan tidak membutuhkan biaya konsultasi.
Namun, Atalia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai tempat bergantung dalam mengambil setiap keputusan. AI, kata dia, harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu utama.
Berbagai platform seperti Gemini, ChatGPT, Claude, dan Perplexity, lanjut Atalia, memang memberikan banyak kemudahan.
AI dapat membantu merangkum jurnal, buku, surat elektronik, hingga berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
“Melihat fenomena AI hari ini, seakan-akan manusia tersisihkan. AI sudah menjadi teman akrab sehari-hari. Mereka juga ternyata bisa menjadi teman mengobrol,” ujarnya.
Meski demikian, Atalia menilai kemampuan AI tetap memiliki batas. AI tidak mempunyai emosi, keteladanan, ataupun nilai-nilai kemanusiaan seperti yang dimiliki manusia.
Bahkan, AI dapat memberikan jawaban yang keliru ketika tidak memiliki data yang memadai.
“AI bisa berbohong. Dia seperti gengsi mengatakan tidak tahu terhadap pertanyaan yang kita ajukan. Dia bisa mengarang-ngarang saja,” katanya.
Oleh karena itu, Atalia menegaskan bahwa hasil yang diberikan AI tidak boleh diterima begitu saja dan langsung diterapkan.
AI seharusnya digunakan sebagai teman berdiskusi, bertukar gagasan, dan membantu manusia menyelesaikan pekerjaan.
“AI hanya alat dan teman diskusi untuk bertukar ide. Hasil AI tentu tidak bisa dilaksanakan seratus persen. Penggunaan harus disertai dengan etika. Penggunaan teknologi tanpa etika sama saja bohong, kosong isinya,” tegasnya.
Atalia juga mendorong masyarakat untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk munculnya teknologi yang semakin canggih seperti super AI.
Di lingkungan perguruan tinggi, dosen juga dituntut terus memperbarui kemampuan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan tetap relevan bagi mahasiswa yang semakin akrab dengan AI.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika, agama, dan kemampuan berpikir kritis.
AI boleh semakin pintar, tetapi keputusan akhir tetap harus berada di tangan manusia. “AI tidak menggantikan akal dan kreativitas manusia,” ujarnya.

Atalia mengapresiasi UM Bandung yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk memahami perkembangan AI sekaligus membahas aspek riset dan etika akademik.
Dia berharap kegiatan semacam ini terus dikembangkan melalui kolaborasi yang konstruktif agar mahasiswa semakin siap menghadapi perubahan teknologi.
Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut.
Ia berharap UM Bandung terus berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan dan menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, workshop semacam ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk menambah wawasan.
Termasuk memperoleh perspektif baru mengenai panduan dan etika penggunaan AI, khususnya dalam kegiatan penelitian yang saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
Ia pun berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan kali ini.***(FA)















