News

Gelar Diskusi Mengenai Konflik Palestina dan Israel, West Java Millenials Sampaikan 9 Penyataan

×

Gelar Diskusi Mengenai Konflik Palestina dan Israel, West Java Millenials Sampaikan 9 Penyataan

Sebarkan artikel ini
Webinar West Java Millenials Forum/Ist.

BANDUNGMU.COM – Forum kolaborasi lintas organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan Jawa Barat, West Java Millenials Forum, menggelar diskusi bertajuk “Memahami Akar Konflik Israel dan Palestina dari Sejarah Hingga Geopolitik Dunia”, Kamis 20 Mei 2021.

West Java Millenials Forum beranggotakan PW GPII Jabar, PKC PMII Jabar, HIKMAHBUDHI, Badko HMI Jabar, PW GP Ansor Jabar, PW KAMMI Jabar, DPD IMM Jabar, PW HIMA PUI Jabar, PW Hima Persis Jabar, GEMAKU Jabar, Pemuda Katolik Komda Jabar, PW Pemuda Muhammadiyah Jabar, PW Pemuda Persis Jabar, PERADAH Jabar, KMHDI Jabar. PW PEMUDA PUI Jabar, Korwil III PP GMKI, DPD GAMKI Jabar, DPD GEMABUDHI Jabar, dan PII Jawa Barat.

Dihadiri lebih dari 200 mahasiswa dan pemuda di seluruh Jawa Barat, diskusi yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan beberapa narasumber.

Di antaranya Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A. (Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri & Kerja Sama Internasional sekaligus Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Jakarta), Pdt. Martin Lukito Sinaga, D.Th. (Doktor Teologi, Dosen STF Jakarta dan STF Driyarkara), dan Hery Haryanto Azumi, M.M. (Ketua Umum Forum Satu Bangsa).

Kegiatan ini digelar menanggapi konflik Palestina–Israel yang telah berlangsung puluhan tahun tak kunjung usai. Eskalasi kemudian memanas dan berlanjut dengan kembali masuknya militer Israel di komplek Masjid Al-Quds, Yerusalem, direspons dengan serangan roket oleh HAMAS dan upaya self defence yang diklaim israel.

Baca Juga:  Kuliah Bareng Birokrat UM Bandung Bahas Politik Dinasti dan Kondisi Tatanan Birokrasi

Hingga kini, serangan-serangan tersebut setidaknya telah merenggut 200 lebih korban jiwa di pihak Palestina dan 12 korban jiwa di pihak Israel. Para korban sama-sama didominasi oleh perempuan dan anak.

Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A. mengatakan bahwa masalah Palestina dan Israel bukan persoalan agama.

“Terdapat kelompok ekstremis yang memanfaatkan perbedaan-bedaan, kemudian terdapat kekuatan kepentingan Barat masuk wilayah konflik ini,” papar Prof.  Sudarnoto.

Akar masalah konflik di Palestina, lanjut Prof.  Sudarnoto, karena adanya spirit okupasi, imprealistik, dan semangat penjajahan. Semenjak 1948 terus berjalan panjang, baik dengan dinamika pertentangan yang panjang dan pengaruh yang ada disekitar situ dengan berbagai kepentingan ekonomi ataupun politik.

“Sementara kejadian kemanusiaan di Masjid Al-Aqsa merupakan triger provokasi Israel, tidak hanya menggagalkan pemilu presiden Palestina, tapi menjadi alat untuk melakukan okupasi atau penjajahan,” jelasnya.

Sementara itu, Doktor Teologi Pdt. Martin Lukito Sinaga, D.Th. berpendapat, ada realitas yang terjadi di wilayah konflik.

Baca Juga:  Menginspirasi! Pemuda Muhammadiyah Kota Bandung Lakukan Kegiatan Sosial Bagi-bagi Beras

“Ada situasi kebatinan yang berbeda di mana Palestina ada dalam situasi ditindas, di sisi lain Israel selalu merasa terancam eksistensinya,” terang Pdt. Martin.

Pendeta Martin mengungkapkan ada beberapa sikap warga gereja sedunia terkait konflik Palestina, yakni rakyat Palestina berhak menentukan nasibnya, Israel perlu diakui, Yerusalem menjadi kota yang terbuka, serta inklusif untuk didiami bersama.

Okupasi adalah ilegal, demikian juga ekspansi. Penting adanya dukungan tiap negara. Gereja mendukung gerakan perdamaian. Terakhir, embargo ekonomi merupakan tekanan yang sangat baik untuk memajukan ekonomi Palestina.

Di sisi lain, Hery Haryanto Azumi, M.M. secara terbuka menegaskan bahwa Palestina harus didukung menjadi negara merdeka dan berdaulat. Namun, menurut Hery, harus terus melakukan berbagai cara dalam resolusi konflik.

“Kita jadikan semua persoalan ini menjadi cermin empati kita termasuk isu Papua, di mana hal yang sama dapat terjadi di Papua dan kepentingan global dapat juga masuk,” tutur Hery.

Nyatakan sikap

Sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan atas konflik Palestina dan Israel yang sekarang masih berlanjut, West Java Millenials Forum menyatakan sikap sebagai berikut.

  1. Mengecam agresi militer Israel yang menimbulkan korban anak-anak dan perempuan.
  2. Menolak segala bentuk penjajahan di dunia sesuai dengan Preambule UUD 1945.
  3. Mendukung kemerdekaan negara Palestina.
  4. Meminta Pemerintah Indonesia bersama komunitas internasional untuk segera mengambil peran dalam resolusi damai terhadap konflik di Palestina.
  5. Mendukung sepenuhnya Pemerintah Republik Indonesia untuk menggalang kekuatan Internasional dalam rangka terciptanya gencatan senjata demi menghentikan perang Israel – Palestina, membuka akses bantuan internasional ke Palestina, diakuinya kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka, diterimanya Palestina sebagai anggota tetap PBB, dan terbangunnya dialog berkelanjutan dengan berbagai pendekatan untuk terciptanya kedamaian abadi Israel – Palestina.
  6. Mengutuk aksi terorisme dan kekerasan yang dilakukan zionis Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa dan Gaza saat umat Islam sedang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
  7. Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk berani menunaikan tugasnya atas seluruh tindakan terorisme Israel selama ini.
  8. Mendesak para pemimipin negara-negara Barat dan para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) untuk tidak menerapkan standar ganda dalam menyikapi persoalan kemanusiaan yang sangat nyata di Palestina.
  9. Tetap teguh dan tidak berubah mendukung penuh kemerdekaan Palestina serta menolak dengan tegas segala tindakan kekerasan yang tidak berprikemanusiaan dan berprikeadilan.