Setiap pukul 05.00 pagi, Siti Maemunah (32) sudah bersiap dengan sepatu ketsnya yang mulai aus. Ia menempuh perjalanan sejauh tujuh kilometer untuk mencapai SD tempat ia mengajar di kaki Gunung Cikuray. “Medannya naik turun. Tapi kalau tidak datang, anak-anak pasti menunggu,” katanya sambil tersenyum.
Siti sudah mengajar selama sembilan tahun sebagai guru honorer dengan gaji yang tidak lebih dari Rp650 ribu per bulan. Namun yang membuatnya bertahan bukan soal nominal, melainkan wajah-wajah kecil yang selalu menyambutnya dengan semangat.
“Kalau saya tidak datang, mereka tidak belajar,” ujarnya. “Saya merasa bertanggung jawab.”
Di sekolah sederhana itu, Siti mengajar tiga kelas sekaligus: kelas 1, 2, dan 3 dalam satu ruangan menggunakan metode multi-grade teaching. Meski berat, ia merasa pembelajaran campuran membuat anak-anak justru lebih cepat belajar saling membantu.
Kepala sekolah, Ujang Sarip, mengatakan bahwa keberadaan Siti sangat vital. “Tanpa Bu Siti, mungkin sekolah ini tutup,” ujarnya.
Di tengah tingginya kebutuhan akan guru di daerah terpencil, kisah Siti menjadi pengingat bahwa pendidikan Indonesia masih bertumpu pada pengabdian para guru yang bekerja dalam diam.***(IK22/Zikri)












