Haruskah Kita Mengikuti Pemahaman Salafus Shalih? Seperti Ini Penjelasan Muhammadiyah

oleh -
Ilustrasi (media.istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Salafus shalih ialah para pendahulu yang saleh. Ini adalah sebutan bagi generasi Islam yang ada pada awal Islam hingga kurang lebih abad keempat atau kelima Hijriyah, seperti para sahabat, tabiin, tabiit tabiin, dan dua atau tiga generasi setelah mereka.

Salafus shalih itu, karena dekatnya zaman mereka dengan zaman Nabi Muhammad SAW, maka mereka mempunyai pemahaman agama yang lebih baik daripada para generasi setelah mereka.

Apalagi para sahabat, mereka ini bergaul dengan Nabi Muhammad SAW dalam senang dan susah, dalam keadaan damai dan perang, dalam semua situasi dan kondisi.

Mereka bersama beliau ketika ayat-ayat Al-Quran turun. Selain itu, mereka juga mengetahui secara langsung penjelasan-penjelasan Nabi SAW tentang ayat-ayat yang turun tersebut dan tentang hal-hal yang mereka belum ketahui.

Namun, pertanyaannya ialah adakah pemahaman mereka itu mengikat kita atau tidak? Pemahaman salafus shalih–terutama para sahabat–itu dipersilisihkan para ulama.

Baca Juga:  Islam Sebagai Agama Perdamaian

Sebagian ulama menganggapnya sebagai hujjah syar’iyah (dalil agama) yang harus diambil jika dalam suatu masalah tidak ada dalil dari Al-Quran, hadis, dan ijma.

Kemudian jika pemahaman atau pendapat para sahabat itu berbeda antara satu dan yang lainnya, harus dipilih salah satu. Argumentasi mereka ialah bahwa kemungkinan pendapat mereka itu benar sangat besar dan kemungkinan pemahaman mereka itu salah sangat kecil.

Ini karena mereka menyaksikan turunnya Al-Quran dan mengetahui hikmah pensyariatan serta sebab-sebab turunnya Al-Quran.

Mereka juga menemani Nabi SAW dalam jangka waktu yang panjang sehingga hal itu membuat mereka paham dan mengerti syariat. Ini semua membuat pemahaman dan pendapat mereka mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan pemahaman dan pendapat selain mereka.

Baca Juga:  Aktivitas di Lingkungan Muhammadiyah Bersendi Wahyu dan Berambu Akhlak

Sementara sebagian ulama lain berpendapat bahwa pemahaman dan pendapat para sahabat itu bukan hujjah syar’iah sehingga kita tidak wajib mengambilnya.

Argumentasinya ialah yang wajib diikuti dan diambil ialah Al-Quran dan hadis. Sementara pendapat dan pemahaman sahabat bukan termasuk di dalamnya.

Pendapat akal itu mungkin benar dan mungkin juga salah. Dalam hal ini tidak ada beda antara para sahabat dan selain mereka meskipun kemungkinan salah dari mereka itu kecil sekali.

Adapun Muhammadiyah, khusus mengenai pendapat yang berasal dari generasi sahabat dan tabiin, telah memiliki beberapa ketentuan yang terdapat dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Kitab Beberapa Masalah, Butir 21 tentang Usul Fiqih, halaman 300, menyebutkan di antaranya sebagai berikut.

  1. Hadis mursal tabii murni tidak dapat dijadikan hujjah
  2. Hadis mursal Tabii dapat dijadikan hujjah apabila besertanya terdapat karinah yang menunjukkan kebersambungannya
  3. Hadis mursal Shahabi dapat dijadikan hujjah apabila padanya terdapat karinah yang menunjukkan kebersambungannya
Baca Juga:  Ramadhan Sebentar Lagi, Kemasan Indomie Bergambar Piring Kosong. Ini Kejutkan Penggemarnya dong!

Dari pendapat para ulama tersebut dan kaidah tentang hadis dalam HPT, dapatlah diketahui bahwa pemahaman dan pendapat para sahabat dan tabiin itu bukan dalil yang mengikat.

Namun, tidak ada halangan untuk diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran ataupun as-Sunnah serta memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas. Dan dalam masalah tersebut tidak ada dalil lain yang lebih muktabar (diakui).

Jadi, sebagai simpulan dapatlah dipahami bahwa mengikuti pendapat atau amalan para salafus shalih pada dasarnya tidak dilarang, sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan as-Sunnah serta sesuai dengan kriteria yang tercantum dalam HPT di atas.***

No More Posts Available.

No more pages to load.