Ekbis

Hebatnya Warga RI, Jualan Ayam, Seblak, Cilor dan Lemari Pakai NFT di OpenSea

BANDUNGMU.COM – OpenSea berubah layaknya e-commerce setelah nama NFT mencuat di dalam negeri. Berkat Ghozali Everyday yang berhasil menjual foto selfie-nya dengan nilai fantastis, banyak barang-barang tak biasa yang dijual di platform NFT tersebut.

NFT sendiri biasanya menjual koleksi karya dalam bentuk seperti musik, lukisan, dan foto. Jadi dengan hadirnya barang-barang tak biasa itu sempat menggegerkan warganet tanah air sejak beberapa hari terakhir.

Salah satu yang dijual adalah ayam. Ada yang menjual Ayam Mangon Bulbi dengan harga saat ini 1 ethereum. Dalam deskripsinya, sang pembuat menuliskan ayam tersebut banyak memenangkan game besar untuk ketangkasan.

Selain itu juga ada yang menjual lemari. Di Web OpenSea terlihat ada berbagai foto lemari dalam berbagai bentuk dan ukuran. Harga lemari yang dijual berkisar dari 0.001 ethereum hingga 0.006 ethereum.

Sebelumnya juga ditemukan barang tak biasa lain di OpenSea. Misalnya makanan seperti seblak dan cilor yang dijual di sana. Pakaian pun juga dijual di OpenSea dengan beragam harga.

Bahkan ada yang menjual data diri KTP di OpenSea. Aksi tersebut membuat kaget pengguna media sosial sejak beberapa hari terakhir.

Penjualan KTP itu dibarengi dengan penampakan data diri identitas masyarakat Indonesia. Bahkan Kementerian Kominfo ikut angkat bicara terkait fenomena ini.

Dalam keterangannya mengutip laman resmi Kominfo, Juru Bicara Dedy Permadi mengimbau platform tidak memfasilitas penyebaran konten yang melanggar aturan. Termasuk yang melanggar perlindungan data pribadi serta hak kekayaan intelektual.

Dedy juga meminta masyarakat dapat bijak merespon tren NFT saat ini. Dengan begitu tidak menimbulkan dampak negatif atau pelanggaran atas hukum.

“Kementerian Kominfo mengimbau masyarakat untuk dapat merespon tren transaksi NFT dengan lebih bijak sehingga potensi ekonomi dari pemanfaatan NFT tidak menimbulkan dampak negatif maupun melanggar hukum, serta terus meningkatkan literasi digital agar semakin cakap memanfaatkan teknologi digital secara produktif dan kondusif,” jelas Dedy.

Tren NFT

Non-fungible Tokken (NFT) mendadak jadi tren di Indonesia. Salah satunya karena keberhasilan seorang pemuda bernama Ghazali yang menjual foto dirinya bernilai miliaran rupiah dalam bentuk aset digital itu.

Ini membuat banyak masyarakat yang penasaran dengan NFT. Ada beberapa diantara mereka yang mencoba untuk memasarkan langsung barang-barang di platform NFT bernama OpenSea.

Namun ternyata menjual NFT tak semudah yang dibayangkan. Selain menyiapkan obyek yang akan dijual, harus mengerti ada biaya tambahan untuk dapat menjual aset digital tersebut. Jika tertarik menjual NFT, kamu perlu tahu soal biaya-biaya tersembunyi di balik penjualan NFT tersebut.

Gas Fee

Pertama adalah Gas Dee yang merupakan biaya pengeluaran pengguna untuk mengkompensasi energi komputasi saat memproses dan memvalidasi transaksi pada Blockchain Ethereum.

Melansir Investorpedia, biaya tersebut dikeluarkan saat minting smart contract pada Blockchain. Semakin ccepat prosesnya maka makin tinggi biaya yang harus dibayarkan pada marketplace NFT serta jaringan kripto.

Di biaya ini, ukuran yang dugunakan adalah GWEI. Satu GWEI sama dengan 0,000000001 Ethereum dan maksimalnya adalah 21.000 GWEI atau 0,000021 Ethereum.

Biaya Transaksi NFT

Biaya tambahan lain adalah yang ditetapkan oleh platform marketplace. Misalnya OpenSea membebankan biaya awal untuk menginisiasi akun senilai US$70-US$300 dan akses ke NFT sekitar US$10-US$30. Ada tambahan 2,5% dari harga produk saat terjual.

Baca Juga: Tertarik Bisnis NFT? Ini Panduan Lengkap Cara Beli dan Jualnya!
Di Foundation, biaya tambahan awal berkisar US$120-US$400. Adapula biaya sebesar 15% dari harga jual awal sebagai biaya layanan.

Exit mobile version