BANDUNGMU.COM — Tak ada yang menyangkal bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim.
Kenyataan demikian membuat negara kepulauan tersebut berpotensi mengembangkan industri dan pariwisata halal.
Dengan jumlah masyarakat Muslim terbesar di dunia, Indonesia layak memiliki produk halal di kancang internasional.
Namun, hal itu tidaklah mudah. Perlu ada upaya dan kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta.
Syarat jadi industri pariwisata halal
Terkait hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, BBA., MBA., mengatakan Indonesia mampu memiliki industri dan pariwisata halal.
Lalu, bagaimana caranya? “Ingat, kita harus lakukan 3 G. Apa itu? Gercep, gerak cepat. Lalu Geber, gerak bersama. Dan terakhir Gaspol, garap semua potensi online,” ungkap Sandiaga Uno via Zoom.
Dia mengatakan hal itu ketika menjadi keynote speaker dalam kegiatan seminar Pra Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah ke-48 tahun 2022 yang diadakan di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Kamis (12/05/2022).
Pandemi Covid-19 yang melanda belahan dunia, sambung Sandi, telah memporakporandakan tatanan perekonomian, termasuk di sektor pariwisata.
“Oleh karena itu, di bidang industri pariwisata saat ini harus gercep untuk mengembalikan geliat pariwisata,” ucap Sandi, yang juga anggota BPH UM Bandung itu.
Untuk meningkatkan industri dan pariwisata halal tersebut, kata Sandi, butuh kerjasama dengan semua pihak yang memiliki visi yang sama.
“Muhammadiyah saya kira bisa membantu program pemerintah dalam mengembangkan pariwisata halal ini,” kata pria berkaca mata itu.
Kerja sama dan manfaatkan teknologi
Selain itu, kata Sandiaga Uno, agar program industri dan pariwisata halal ini booming, maka harus memanfaatkan teknologi sebagai alat promosi.
“Ini juga kita kencengin. Kita maksimalkan supaya program yang kita punya bukan saja dapat dirasakan oleh masyarakat lokal, melainkan dunia,” tutur suami Nur Asia tersebut.
Oleh sebab itu, papar lulusan Universitas George Washington itu, warga Indonesia mesti bangga dan bersyukur karena menjadi negara Muslim terbesar.
“Jumlah populasi kita 87 persen Islam. Maka, manfaatkan dengan baik di sektor pariwisata supaya kita unggul,” terangnya.
Ayah Sulaiman Saladdin Uno itu mengingatkan bahwa wisata halal bukanlah “mensyariahkan” tempat wisata.
“Tapi memberikan pelayanan tambahan, misalnya bagaimana membuat pengunjung aman, nyaman, dan berikan kesan positif,” tutup Sandi yang mengenakan peci hitam itu.
Kegiatan Pra Muktamar Muhammadiyah & Aisyiyah ke-48 ini digelar secara hybrid dan dikuti oleh ratusan warga Muhammadiyah, dosen, mahasiswa, tenaga pendidik, dan masyarakat umum.
Selain Sandiaga Uno, ada 5 pembicara dalam kegiatan tersebut yang memaparkan tentang industri dan pariwisata halal, baik dari kalangan pengusaha, akademisi, maupun pejabat publik.*** (Cecep Hasannudin)












