Sosbud

Ini 3 Tradisi yang Biasa Dilakukan Masyarakat Kampung Beberapa Hari Menjelang Lebaran Idulfitri

Ilustrasi suasana kampung (media.istockphoto).

BANDUNGMU.COM – Lebaran Idulfitri sebentar lagi datang. Semua umat Islam di dunia dan di Indonesia khususnya bersiap menyambutnya.

Perayaan lebaran Idulfitri di kota dan di kampung hakikatnya sama saja. Tidak ada yang berbeda. Namun, ada kekhususan tersendiri mengenai lebaran Idulfitri di kampung.

Ada tradisi yang tidak tertulis yang biasanya dilakukan masyarakat di kampung jelang lebaran Idulfitri. Mereka menyambut suka cita lebaran Idulfitri dengan caranya sendiri yang berbeda dengan di tempat lain.

Apa sajakah tradisi itu? Yuk simak ulasannya.

1. Mengecat rumah

Coba Anda main ke kampung-kampung khususnya yang ada di Jawa Barat, Anda pasti akan menemukan tradisi unik ini. Mengecat rumah khususnya dilakukan masyarakat yang umurnya sudah sepuh.

Rumah yang catnya sudah kusam, biasanya beberapa hari jelang lebaran Idulftiri, akan dicat kembali sehingga rumah itu akan terlihat indah. Entah dari kapan tradisi itu ada dan dilakukan.

Padahal, hari libur dan momen penting umat Islam bukan hanya lebaran Idulfitri. Namun, sebagian masyarakat selalu mempraktikkan hal itu: mengecat rumah agar terlihat indah.

Kalau menebak-nebak mungkin si empunya rumah ingin menyambut sanak famili dari luar kota dengan suasana yang baru karena cat rumahnya masih segar. Agar suasana lebih bahagia dan membuat anak-cucu betah berlama-lama berada di rumah tersebut.

Mengecat rumah itu dilakukan oleh siapa pun dan rumahnya berjenis apa pun. Mau rumah terbuat dari bilik atau sudah bertembok, tetap akan dicat lagi. Unik banget ya.

2. Ngabedahkeun balong

Ngabedahkeun balong atau mengambil ikan ramai-ramai di kolam dengan cara membuang airnya sampai hanya tersisa semata kaki saja.

Biasanya yang nyemplung ke lumpur kolam untuk mengambil ikan dengan tangan kosong atau dengan ayakan, bukan hanya pemilik rumah, melainkan tetangga dan juga orang lain yang masih kerabat.

Setelah setahun tidak diambil ikannya karena menunggu momen yang tepat, pemilik kolam biasanya akan mengambil ikan di kolam secara beramai-ramai dengan keluarga dan tetangga.

Ikan yang tersedia di kolam yang biasanya ada di kampung tidak jauh dari ikan nilem, ikan tawes, ikan mas, ikan mujair, ikan grass carp, dan ikan lele.

Kemudian ada juga ikan-ikan kecil seperti cecere, beunteur, paray, impun, dan ikan-ikan kecil yang lainnya.

Momen ngabedahkeun balong selalu ramai dan seru bahkan bisa sampai sore hari—kalau Anda kuat menahan dinginnya air.

Dari anak kecil sampai orang dewasa terlibat nyemplung untuk nyair ikan di kolam yang sudah dangkal tersebut. Itu serunya bukan main. Di kota tidak akan ditemukan tradisi seperti ini.

3. Saling berkirim makan

Di kota juga sebetulnya tradisi ini ada, tetapi tidak terlalu berkesan dan kentara karena masyarakat kota terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Namun coba Anda ke kampung dan rasakan bagaimana hikmatnya masyarakat di sana merayakan lebaran Idulfitri dengan berkirim makanan.

Jenis makanan apa yang dikirim? Satu di antaranya ya ikan-ikan yang siangnya ditangkan dari kolam itu. Ikan-ikan itu akan dimasak sedemikian rupa untuk dikonsumsi pribadi dan juga dikirimkan ke keluarga terdekat ataupun terjauh—dalam lingkup kampung maksudnya.

Selain dengan ikan dari kolam, biasanya makanan yang dikirim dalam rantang itu berisi tumis kentang, tumis cabai gendot, tumis mi bihun, dan sebagainya. Ditambah pula dengan cemilan ringan khas kampung seperti wajit, gegeplak, ali agrem, dan sebagainya.

Berkirim makanan biasanya dilakukan dari siang menjelang sore sampai tengah malam. Bahkan ada yang sampai menjelang subuh.

Makanan itu bisa dimasukan rantang seng yang bersusun bertingkat-tingkat. Cara mengantarkannya kebanyakan dengan berjalan kaki atau pakai motor bagi yang jauh rumahnya.

Selalu seperti itu setiap momen lebaran Idulfitri. Masyarakat tampak bahagia melakukannya. Terutama saat berbagi atau saling berkirim makanan. Pasalnya, dengan cara itu orang yang punya kelebihan rezeki bisa berbagi kepada si miskin yang kekurangan.

Selalu ada hikmah kebaikan di setiap tradisi menyambut lebaran Idulfitri di kampung yang penuh dengan kearfifan dan budaya gotong royong yang masih terpelihara secara baik.

Tentu banyak lagi tradisi-tradisi lain yang biasa dilakukan masyarakat beberapa hari jelang lebaran Idulfitri.

Semua tradisi tersebut menjadi tanda bahwa umat Islam di Indonesia mampu memadukan antara budaya luhur para leluhur dengan agama yang dianutnya sebagainya sebuah sistem keyakinan.***

Exit mobile version