Life Style

Inilah 6 Prinsip Pengobatan dalam Islam

Ilustrasi (Foto: Istock)

BANDUNGMU.COM — Islam sangat memberikan perhatian utama terhadap kesehatan manusia. Setiap muslim wajib secara agama menjaga kesehatannya dan menyeimbangkannya dengan kebutuhan rohani.

Sebab muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah. Sedemikian besar perhatian Islam terhadap kesehatan, para ulama memasukkan pemeliharaan jiwa atau hifdzu al-nafs sebagai salah satu diktum dalam maqashid syariah.

Terkait kesehatan dan pengobatan dalam Islam, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Ariffudin, mengemukakan setidaknya ada enam prinsip yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang muslim.

Kesatu, wajib memelihara kesehatan

Mengabaikan kesehatan dengan sengaja dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan dan hal tersebut dilarang Allah sebagaimana tercantum dalam QS Al Baqarah ayat 195.

“Kita semuanya wajib memelihara kesehatan. Kita insyaallah telah mengetahui bagaimana agama Islam ini adalah agama yang sangat menjunjung tinggi pemeliharaan terhadap diri masing-masing manusia,” ucap Ariffudin, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Kamis (10/03/2022) pagi.

Kedua, wajib berobat dalam rangka memelihara kesehatan

Prinsip ini merupakan konsekuensi logis dari prinsip sebelumnya. Jika diwajibkan memelihara kesehatan, maka diwajibkan pula berobat. Hal ini sejalan pula dengan Hadis Nabi yang menegaskan bahwa Allah menurunkan penyakit beserta dengan obatnya.

Ketiga, otoritas penyembuh ialah Allah

Manusia harus berikhtiar memelihara kesehatan dengan berobat. Namun penentuan apakah lekas sembuh atau tidak semuanya dalam kuasa Allah (QS Asy-Syu’ara: 80).

Keempat, pengobatan didasarkan pada keahlian

Setiap bidang memiliki ‘ulil amri’-nya masing-masing. Ulim amri dalam kesehatan ialah para dokter. Hal ini penting dipahami agar tidak menimbulkan ekses negatif (QS Al Isra: 36).

Kelima, pengobatan tidak boleh menimbulkan bahaya

Rasulullah pernah bersabda bahwa tidak boleh membuat kemudaratan dan membalas kemudaratan (la dlarara wa la dlirara).

Keenam, pengobatan tidak boleh mengandung unsur syirik

Allah berfirman dalam QS Jin ayat 6: Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

“Yang namanya syirik ialah dosa yang sangat berat, maka pengobatan harus terbebas dari unsur syirik. Misalkan pengobatan tenaga dalam jika di dalamnya mengandung unsur syirik, maka hal itu tidak boleh dilakukan,” ujar dokter spesialis bedah tulang di RS PKU Gamping ini.

Intinya, memelihara dan berikhtiar untuk tetap sehat merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan badan dan jiwa yang sehat, ibadah akan semakin semangat dan mantap.***

Exit mobile version