BANDUNGMU.COM –– Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi kisah sebuah keluarga yang luar biasa dalam menerima perintah Allah SWT dengan penuh Ikhlas.
Salah satu akademisi UM Bandung, Cecep Taufikurrohman MA PhD, mengatakan Allah meminta Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail, dengan panggilan kesayangan.
”Jangan mentang-mentang kita berdakwah, tapi ujug-ujug main jegur tanpa tata krama, tetapi harus menggunakan komunikasi yang baik,” ucap Buya Cecep—sapaan akrabnya—di acara Gerakan Subuh Mengaji oleh PWM Jabar, Sabtu 02 Juli 2022 via Zoom.
Nabi Ibrahim melakukan hal itu terhadap sang anak tak lain menunjukkan begitu taatnya sang nabi kepada perintah Allah SWT.
”Sikap menerima perintah Allah itu, tanpa tawar-menawar dan keraguan, Nabi Ibrahim mendapat apresiasi dari Allah SWT,” jelasnya.
Kejadian tersebut Allah abadikan di dalam Al Quran untuk orang-orang yang datang kemudian.
”Bukan sekadar diceritakan, melainkan juga disyariatkan untuk melakukan ibadah seperti Nabi Ibrahim,” tukas Buya Cecep.
Syariat kurban itu juga mengingatkan tentang keluarga yang luar biasa dalam menerima perintah Allah SWT dengan penuh ikhlas.
”Jadi Allah memberikan pelajaran dari orang yang saleh yang kemudian diabadikan dalam sebuah syariat Nabi Muhammad SAW yaitu syariat kurban,” ungkapnya.
Ikhlas dengan apa yang kita cintai
Kisah itu pun mengajarkan kepada umat muslim untuk menyerahkan sesuatu yang paling dicintai.
”Intinya setiap muslim itu punya kesiapan untuk berkorban sesuatu yang paling ia sukai,” tegas Buya Cecep.
Hal tersebut, ungkap Buya, bahwa semakin orang dekat dengan Allah SWT semakin berat ujian yang diterima.
”Jika sebelumnya Nabi Ibrahim ujiannya disuruh mengirimkan istrinya ke sebuah lembah yang tandus, ini Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya dan hal tersebut berhasil dilewati,” ujarnya.
Allah menegaskan bahwa perintah kurban bukan perintah untuk mempersembahkan hasil kurban kepada Allah SWT.
”Ingat, jangan dikira kalau kamu kurban itu buat kirim daging atau darah, bukan itu, karena hal tersebut tidak akan sampai kepada Allah,” kata Buya Cecep.
Ketika hewan kurban meneteskan darahnya sebelum jatuh ke tanah, hal itu sudah dicatat oleh malaikat dalam amal perbuatan sebagai wujud kesalehan.
”Dari perspektif akidah, kurban itu sangat penting karena ia salah satu bukti keimanan kita kepada Allah dalam bentuk sesuatu yang paling kita cintai,” pungkasnya.***(Firman Katon)






