Islampedia

Inti Ikhlas Adalah Tauhid

×

Inti Ikhlas Adalah Tauhid

Sebarkan artikel ini
Foto: muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM, Malang — Al-Ikhlas artinya adalah memurnikan keesaan Allah. Al-Ikhlas artinya secara khusus membahas tauhid atau keesaan Allah.

Surah Al-Ikhlas menegaskan konsep keesaan Allah dan membatalkan semua bentuk penyembahan berhala dan kemusyrikan. Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saad Ibrahim.

“Bertauhid merupakan suatu proses pemurnian keberadaan Tuhan dari hal-hal yang tidak kita akui sebagai Tuhan,” ujar Saad Ibrahim dalam agenda Pengajian Tarjih Muhammadiyah ke-204 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang pada Rabu (25/01/2023).

Tauhid berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya wajib al-wujud. Allah merupakan entitas yang keberadaannya begitu absolut. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang menempati posisi mumkin al-wujud, Allah merupakan sumber dari segala kebaikan (al-shamad).

Baca Juga:  Teliti Kepemimpinan AR Fachruddin, Ketua PWM DIY Ikhwan Ahada Raih Gelar Doktor

Oleh karena itu, tauhid bukan sekadar mengesakan Allah, melainkan menempatkan-Nya sebagai segala puncak kemuliaan, puncak kebaikan, dan memiliki puncak keunggulan. Agar manusia mendapat kemuliaan dan kebaikan, ia senantiasa harus bergantung hanya pada Allah.

Selain itu, ikhlas memiliki arti memurnikan tujuan hidup yang sepenuhnya untuk Allah. Hidup akan semakin mudah dijalani apabila segalanya diserahkan kepada Allah.

“Ketika kita menempatkan Allah di tempat tertinggi, posisi apa pun yang kita duduki dan kapan pun kita berhenti dari kedudukan itu, hal tersebut tidak akan membebani pikiran kita,” ujar Saad.

Baca Juga:  Manfaat Lahir Batin Bagi Muslim Yang Shalat Penuh Kesungguhan

Seseorang yang memiliki ketauhidan yang kuat kepada Allah tidak akan merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan orang lain. Seorang pemimpin yang memegang kuat nilai-nilai tauhid tidak akan melakukan perbuatan zalim. Karakter seperti ini akan berimplikasi pada terwujudnya sebuah keadilan.

“Bertauhid itu ketika kita tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, apalagi merasa lebih tinggi di hadapan Allah. Bisa jadi yang lebih tinggi posisinya di hadapan Allah adalah mereka yang di dunia berstatus sosial paling rendah. Oleh karena itu, kalau kita ikhlas kepada Allah, kita akan memiliki pandangan berpikir yang jernih, menghadapi segala sesuatu dengan penuh kejernihan. Karena ia tahu bahwa yang di atas hanya Allah. Kita juga tidak minder berhadapan dengan siapa saja,” jelas Saad.***

Baca Juga:  Umat Islam Unggul Jumlah, Harus Dibarengi Unggul Kualitas

___

Sumber: muhammadiyah.or.id

Editor: FA