Jejak Hikmah Muktamar Muhammadiyah Ke-48 (Bagian 2)

oleh -

Oleh: Dudy Imanuddin Effendi, Kaprodi BKI FDK UIN SGD Bandung

BANDUNGMU.COM — Kedua, nilai profesionalitas dengan ditandai memiliki kompetensi atau skill tertentu. Kata Haedar Nashir, hakikatnya dalam kompetensi atau skill ada responsibilitas.

Artinya, ahli dan bertanggung jawab atas keahliannya. Kata beliau, memiliki keahlian tapi tidak bertanggung jawab, maka kemungkinan akan muncul perilaku cacat moral.

K Beretns dalam “Professional Ethics” menyebutkan bahwa profesional bukan hanya memiliki kompetensi pengetahuan dan skill, tetapi juga di dalamnya terkandung tanggung jawab, integritas yang tinggi, jiwa pengabdian kepada masyarakat, kemampuan merencanakan, dan selalau menjaga kode etik.

Nilai profesional inilah, sepertinya yang telah dipelihara oleh para kader Muhammadiyah dalam menjaga Muktamar ke-48 tetap bersih, jujur, adil, dan elegan.

Dengan profesionalisme yang selalu ditransformasikan dari generasi ke generasi, Muktamar Muhammadiyah ke-48 sepakat dengan Janna Cachola dalam “Society Is a War Zone” bahwa pemimpin tidak boleh ditentukan oleh gaji, status peran, popularitas, atau jabatan seseorang. Itu harus ditentukan oleh etos kerja seseorang.”

Baca Juga:  Film “TELORASIN” Karya Mahasiswa UMBandung Raih Juara 2 Lomba Videografi

Ketiga, nilai kreativitas dan inovasi dalam mengamalkan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Semisal memaksimalkan pemilihan dengan model e-voting.

Bagi Haedar Nashir, perkembangan teknologi harus dimaknai secara positif. Artinya, dengan adanya kemajuan teknologi, Muhammadiyah selalu berbenah dengan memunculkan pelbagai kreativitas dan inovasi.

Proses mengasah kreativitas dan inovasi inilah yang ditanamkan oleh sesepuh Muhammadiyah dalam berkhidmat di Persyarikatan.

Bukan hanya mengasah seperti apa yang dikatakan oleh Albert Einstein, “Creativity is intelligence having fun”, tetapi juga butuh terus mengasahnya sebagaimana disebutkan oleh Duradcell, “Creativity bleeds from the pen of inspiration.“

Keempat, nilai etos yang merupakan spirit untuk selalu berbuat yang terbaik. Kata Haedar Nashir, “Islam itu penuh dengan etos.” Di antara bentuk etos itu adalah hidup dengan tidak menyia-nyiakan waktu.

Baca Juga:  Marak Perilaku Flexing di Media Sosial, Buya Cecep: Itu Perbuatan Buruk

Nicole Kidman seorang artis Hollywood dalam “Biography” pernah mengatakan, “Saya diajari etos kerja yang sangat kuat yang mencakup ketepatan waktu, yang selalu saya rasakan sebagai tanda menghormati orang lain.”

Mike Krzyzewski dalam “Leading with the Heart” pernah mengatakan, “Saya percaya bahwa pekerjaan itu bagus kalau diiringi etos kerja yang bagus juga. Dengan etos yang bagus, seseorang bisa memahami bahwa dalam setiap pekerjaan terdapat martabat dan etika kerja keras yang harus senantiasa dijaga.

Bagi Mike, nilai etos kerja inilah yang dapat membentuk pemimpin yang kuat dan memiliki integritas yang tinggi.

Calon-calon pemimpin atau pemimpin yang selalu mempromosikan sifat-sifat yang solid seperti etika kerja, gaya hidup yang bermartabat, tindakan yang sesuai dengan retorika, kejujuran, keadilan, menghormati hak orang lain, dan kinerja yang benar-benar nyata daripada kesombongan dan klaim saja.

Baca Juga:  Dakwah yang Mencerahkan

Kelima, nilai pengkhidmatan yang dapat membimbing seseorang untuk mencintai pekerjaannya dan senantiasa bergembira. Bahagia dan bisa menikmati hidup meskipun di saat menghadapi banyak masalah.

Pengkhidmatan yang dapat membimbing kepada tindakan yang baik dan benar dengan didasari oleh kerelaan, keikhlasan, dan empati.

Konon menurut Denis Waitley dalam “Psychology of Winning”, nilai pengkhidmatan sebagai sumber tindakan yang dapat mendatangkan kebahagian.

Sebab hakikatnya pengkhidmatan merupakan penciptaan pengalaman spiritual dari cara menikmati setiap detik kehidupan seseorang dengan penuh rasa cinta, rasa syukur dan terima kasih serta penghambaan kepada Tuhan yang menciptakannya.***

No More Posts Available.

No more pages to load.