BANDUNGMU.COM, Bandung – Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar Riyadi MAg mengatakan bahwa dunia pendidikan Islam hari ini sedang menghadapi tantangan berat dari perkembangan teknologi kemudian perubahan masyarakat dan kebudayaan yang sangat kompleks.
”Salah satunya adalah pengetahuan apa yang mesti diajarkan kepada anak didik kita untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks hari ini. Tentu ini tidak mudah, terutama bagi pendidikan Islam, yakni bagaimana mengintegrasikan berindustri dan berteknologi dengan spirit fundamental Islam yang semakin hari semakin tergerus,” papar Hendar saat memberikan sambutan dalam seminar internasional program studi PAI di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, pada Senin (16/12/2024).
Semua itu, menurut Hendar, merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh insan akademik yang bergerak di bidang pendidikan Islam, yakni bagaimana menghadirkan desain pembelajaran yang baik. Jadi, tidak hanya pengetahuannya yang benar dan bisa merespons tantangan global yang semakin pelik. Namun, bagaimana menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai spiritualitas Islam.
Tantangan pendidikan Islam selanjutnya, kata Hendar, yakni soal kesenjangan antara pendidikan yang kita berikan dan kondisi kerja hari ini. Hendar mengkritisi bahwa sekarang ada semacam devisit gelar kesarjanaan. Keahlian yang sudah didapatkan di dalam pendidikan tidak sejalan dan berbanding lurus dengan tuntun pekerjaan.
”Ini juga merupakan tantangan tersendiri yang membutuhkan solusi, yakni bagaimana pendidikan Islam dan universitas ini bisa menyeimbangkan antara pendidikan dan tuntutan kerja. Tantangan ini juga yang akhirnya melahirkan pengangguran terdidik,” kata Hendar.
Problem pendidikan lainnya, lanjut Hendar, yakni masih mahalnya biaya pendidikan yang sangat membebani masyarakat. Universitas dituntut untuk berinovasi dan menjaga mutu akademik, tetapi langkah ideal yang bijaksana adalah tidak terlalu mengandalkan pembiayaan pendidikannya dari masyarakat dalam hal ini mahasiswa.
Hendar lantas membandingkan kondisi pada masa kejayaan Islam berabad-abad lalu yang pemerintahan atau negara memberikan apresiasi tinggi kepada seorang pendidik dan ilmuwan. Buku-buku pengetahuan terbaik karya para pendidik dan ilmuwan itu ditimbang dengan emas.
”Ini maknanya bahwa pendidik atau dosen itu harus dibayar dengan mahal. Namun, biayanya dari negara, bukan mengambil dari masyarakat. Termasuk kesejahteraan dosen juga harusnya dibayarkan oleh uang negara. Saya kira pendidikan Islam harus bekerja sama dengan negara untuk bagaimana meringankan biaya pendidikan ini untuk masyarakat,” tegas Hendar.
Terakhir, Hendar juga menyinggung soal pendidikan alternatif yang sejatinya bisa dikembangkan oleh lembaga pendidikan Islam. Narasi yang dibangun hari ini, ucap Hendar, yakni bagaimana pendidikan itu dibangun berbasis kebudayaan dan kebutuhan lokal.
”Buat apa ada universitas Islam kalau tidak mampu menyelesaikan persoalan umat. Untuk apa juga keberadaan ribuan lembaga pendidikan jika tidak bisa membangun daya saing umat. Ini artinya pendidikan Islam juga harus merespons berbagai tantangan dan persoalan-persoalan pokok di masyarakat,” tandas Hendar.
Hendar berharap kebutuhan masyarakat akan air bersih, teknologi pengubah air banjir, atau teknologi pengolah air hujan yang sesungguhnya bisa dimanfaatkan, bisa lahir dari inovasi kampus-kampus Islam. ”Itu penting sebagai upaya kontribusi kampus Islam memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkas Hendar.***(FA)












