Kamu Harus Tahu! Ini Makna Tradisi Munggahan Saat Sambut Ramadan

oleh -
Ilustrasi tradisi munggahan dalam masyarakat Sunda sambut bulan Ramadan. (Foto: Istimewa)

BANDUNGMU.COM – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, banyak hal dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sunda, salah satunya yakni tradisi munggahan.

Dikutip Bandungmu dari Detik, Kepala Pusat Studi Budaya Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad), Teddi Muhtadin, mengatakan ada beberapa tradisi yang dilakukan masyarakat untuk menyambut datangnya Ramadan.

”Secara umum menjelang Ramadan ini oleh orang Sunda disebut munggah atau munggahanAda juga papajar dan membuat masakan yang berbeda dari hari biasanya,” kata Teddi.

Ia menjelaskan, budaya munggahan berasal dari bahasa Sunda. Ada yang mengartikan ”sampai ke” ada juga yang menafsirkan dari kata unggah yang artinya naik.

”Kedua-duanya sama, bahwa artinya sudah sampai ke Ramadan atau sudah naik bulan Ramadan,” ujar Teddi.

”Yang dikerjakan biasanya beberesih dengan kuramas (keramas). Meminta maaf kepada orang lain, termasuk membersihkan tempat ibadah dan makam keluarga,” ia menambahkan.

Dia menjelaskan munggahan sudah ada sejak hadirnya Islam di Tatar Sunda. Namun, budaya daerah setempat juga memengaruhi perkembangannya.

”Zaman dahulu menyambut Ramadan ini, anak laki-laki di kampung pagi-pagi ramai pergi ke makam untuk bersih-bersih, lalu membersihkan masjid atau musala. Setelah itu, keramas atau mandi besar di kolam atau sungai,” tutur Teddi berdasar pengalamannya semasa dulu.

Berbeda dengan laki-laki, anak-anak perempuan membantu ibunya memasak. Biasanya hidangan yang dibuat seperti pepes ikan mas besar, opor ayam, dan sebagainya.

”Sekarang anak-anak di daerah saya tidak lagi melakukan itu. Apalagi saat pandemi Corona sekarang. Tampaknya munggahan tak semeriah dulu,” kata Teddi.

Selain munggahan dan masak-masak, ada pula budaya papajar dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Hanya kesan yang kuat dalam kata papajar kebersamaan dalam makan bersama di luar, bukan di rumah.

”Tentu hal ini dimaksudkan sebagai perpisahan dengan kebiasaan makan di waktu siang,” ucapnya.

Dalam kondisi sekarang saat pandemi, Teddi melanjutkan, sebaiknya kegiatan seperti papajar ini tidak dulu dilakukan.

”Kita cukup makan bersama di dalam rumah bersama keluarga,” ujarnya.

Secara literasi, dalam naskah-naskah Sunda lama, informasi mengenai budaya orang Sunda terutama tentang munggahan masih belum ditemukan. Selain dalam buku Haji Hasan Mustapa yang berjudul ”Roesdi djeung Misnem” karya A.C. Deenik dan R. Djajadiredja yang terbit pada 1913.

”Tradisi munggahan ini kalau menurut saya adalah bagian dari upaya-upaya islamisasi budaya Sunda yang sangat kreatif,” ucap Teddi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *