Kapankah Perseteruan Palestina-Israel Berakhir?

oleh -
Dubes RI untuk Lebanon Hadjriyanto Y. Thohari (Foto: Suaramuhammadiyah.id).

BANDUNGMU.COM – Konflik Palestina-Israel memang kerap terjadi dengan mengundang simpati sekaligus kecaman masyarakat internasional. Termasuk dari masyarakat Indonesia yang mendukung Palestina dengan aksi nyata berupa pengumpulan dana untuk membantu rakyat Palestina di sana yang menjadi korban tindak kekerasan Israel.

Palestina kerap menjadi korban karena sering diserang dengan semen-mena oleh Israel yang didukung oleh negara-negara kuat seperti Amerika. Tidak terhitung berapa jumlah korban rakyat Palestina yang tidak berdosa atas keganasan tank dan pesawat tempur Israel yang membombardir tanah para nabi tersebut.

Tidak akan berakhir?

Artikel anyar Walter Russel Mead berjudul “The U.S. Is Less Relevant Than Ever in Gaza“ di Wall Street Journey (17/5), menegaskan bahwa perseteruan Palestina dengan Israel tidak akan berakhir. Walter mencatat sekian alasan mengapa perseteruan ini tidak berakhir.

Pertama Amerika mengabaikan metode memecahkan masalah tanpa menimbang hubungan antara bangsa Israel dan Palestina. Kedua Amerika mengabaikan dinamika Timur Tengah dan kontestasi global terkait Palestina-Israel.

Walter menilai semua perundingan hanya akan sia-sia dan bertahan pendek sebagaimana yang telah terjadi berkali-kali sebelumnya. Sementara itu, bangsa Palestina memiliki ketahanan yang kuat untuk tetap melawan di samping ketimpangan kekuatan yang ada.

“Bangsa Israel dapat membuat perlawanan bangsa Palestina sia-sia, tapi mereka (bangsa Israel) tidak dapat melenyapkannya. Sedangkan bangsa Palestina dapat memperpanjang konflik tanpa batas, tapi mereka (bangsa Palestina) tidak dapat meraih tujuan politis mereka,” tulis Walter.

Selaras dengan pendapat Walter di atas, Dubes RI untuk Lebanon Hadjriyanto Y. Thohari mencatat bahwa agresi militer Israel terjadi dalam periode waktu tertentu dengan pola yang sama.

“Perang seperti itu seperti hal yang rutin 4-5 tahun sekali. (waktunya) Lebih-lebih sedikit, kurang-kurang sedikit,” jelas Hadjri dalam forum diskusi Lazismu Pusat, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin 24 Mei 2021.

Hadjri pun menekankan bahwa Amerika memiliki peran yang besar dalam menjaga perseteruan Palestina dan Israel tetap abadi dengan lima motif politik luar negeri Amerika di kawasan.

“Intinya pertama, aspek terhadap minyak. Karena kalau enggak ada minyak, Amerika akan lumpuh. Amerika sangat bergantung pada minyak sehingga tidak mau kebutuhannya pada minyak terganggu,” jelasnya.

Kedua, dukungan dan proteksi taat pada Israel sebagai bayangan Amerika di kawasan. Ketiga, Hadjri menyebut Amerika ingin menguatkan basis-basis kekuatannya terutama pangkalan militer di wilayah itu.

Keempat, mempertahankan aliansi penguasa di Timur Tengah yang selaras dengan Amerika.

“Terakhir setelah 9/11 adalah membendung gerakan radikalisme dan terorisme Islam,” pungkas Hadjri.

“Sudah lima itu. Inilah ‘Pancasila’-nya politik luar negeri AS di Timur Tengah. Saya tulis dalam tanda kutip. Sila utamanya ya melindungi Israel. Sila melindungi Israel itulah yang memimpin sila-sila yang lainnya,” jelas Hadjri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *