Opini

Kecantikan Memikat, Tapi Mematikan: Waspadai Overdosis Anestesi!

Oleh: Aulia Putri S, Hasna Labib L, dan Nadila Suci N*

ANESTESI merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk pasien agar kehilangan kesadaran, kehilangan rasa nyeri, dan relaksasi otot untuk melakukan prosedur medis lainnya yang menimbulkan rasa sakit (Satwik & Naveed, 2015).

Anestesi digunakan untuk berbagai bidang medis yang membutuhkan operasi, salah satunya di bidang kecantikan. Anestesi yang digunakan oleh dermatologis adalah anestesi lokal (Chaerobin & Tavares, 2020).

Jenis-jenis anestesi yang digunakan pada operasi kecantikan antara lain lidokain, prokain, mepivakain dan bupivacaine (Bhawaradwaj & Dougherty, 2023).

Hanya saja, anestesi lokal dapat menyebabkan toksisitas sistemik pada penggunaannya. Toksisitas sistemik anestesi lokal (LAST) merupakan kasus yang sering terjadi meskipun praktik yang dilakukan telah sesuai prosedur (Christie et al., 2015). Selain itu, pemberian anestesi yang berlebihan dapat menimbulkan overdosis anestesi.

Overdosis anestesi merupakan kondisi dimana obat anestesi diberikan secara berlebihan. Gejala dari overdosis anestetis adalah mati rasa, mengantuk, kebingungan, jantung berdebar-debar, telinga berdengung, dan serangan jantung serta kejang.

Gejala ini dapat dirasakan kurang dari lima menit setelah pemberian dan bertambah parah setelah 90 menit setelah pemberian (Chan et al., 2025).

Anestesi untuk kecantikan

Anestesi lokal bekerja dengan cara menghentikan aliran sodium dan penyebaran rangsangan nyeri melalui saraf tepi agar terhindar dari depolarisasi.

Rasa nyeri disebarkan melalui selubung yang tidak memiliki mielin, yang dimana lebih sensitif terhadap anestesi lokal dibandingkan dengan selubung  yang  memiliki mielin.

Proses yang terjadi juga bisa saja mempunyai efek seperti gemetar dan adanya tekanan sampai nyeri yang dirasa benar-benar hilang (Chaerobin & Tavares 2020).

Anestesi lokal biasa digunakan untuk membius pada jaringan subkutan dan saraf tepi selama prosedur pembedahan. Durasi kerja anestesi lokal berkisar dari 30 menit sampai 12 jam atau lebih, tergantung pada faktor-faktor yang ada di lokasi (Emily et al., 2025).

Anestesi lokal mempunyai beberapa bagian, seperti gugus aromatik (hidrofobik), rantai penghubung, dan gugus amina (hidrofilik).

Gugus aromatik mempunyai sifat seperti lipid pada bagian tersebut, sedangkan amina memiliki sifat yang hampir sama seperti air, di mana amina akan larut dalam air (Zhang et al., 2023).

Anestesi lokal pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu jenis amida dan jenis ester yang dapat terlihat pada tabel berikut.

Anestesi yang berjenis amida akan diedarkan didalam hati dan dengan dosis yang tepat kepada pasien, terutama pada pasien dengan masalah ginjal. Amida memiliki nilai stabilitas kimia yang sangat bagus pada larutan dan berkontribusi pada  masa simpan yang lebih lama (Rodrigues et al., 2025).

Adapun anestesi jenis ester akan didegradasi oleh pseudokolinesterase plasma yang akan menyebabkan metabolisme lebih cepat, durasi kerja obat semakin pendek, dan adanya resiko alergi karena adanya pembentukan metabolit para-aminobenzoat (PABA). Anestesi jenis ester hasil akhirnya akan berupa sekresi yang dikeluarkan melalui urin (Bockhollt & Mirus, 2024).

Terdapat berbagai metode untuk menginduksi anestesi lokal, seperti anestesi topikal, anestesi infiltratif, dan anestesi tumescent. Anestesi topikal diberikan langsung ke kulit melalui pelembab, salep, gel ataupun semprotan. Agar zat-zat yang ada bisa mencapai bagian dermis papiler untuk memproses dibagian saraf tepi.

Contoh obat anestesi topikal adalah lidokain yang umumnya digunakan untuk pembedahan kecil dan berbagai prosedur medis lainnya. Dosis maksimum lidokain yang diperbolehkan untuk orang dewasa adalah 4,5 mg/kg/ dosis (max: 300-500 mg dengan epinefrin). Sementara itu, untuk anak-anak usia di bawah 12 tahun berkisar 1,5-2,0 mg/kg/dosis (max: 150 mg) (Park et al., 2017).

Anestesi infiltratif digunakan dengan pemberian obat langsung pada dermis atau melalui subkutan yang efeknya akan menyebabkan penghambatan secara langsung di ujung saraf.

Tindakan anestesi infiltratif ini cukup menyakitkan karena obat yang diberikan diinjeksikan langsung ke dalam dermis dan penyerapan zatnya juga dalam jumlah yang banyak.

Contoh obat anestesi infiltratif adalah bupivakain yang dimana merupakan golongan amida yang beraksi sedikit lebih lambat daripada lidokain dan durasinya lebih lama dibandingkan dengan lidokain.

Dosis maksimum pada orang dewasa adalah 2 mg/kg/dosis (175 mg dalam dosis tunggal) atau 400 mg/24 jam tanpa epinefrin, bila menggunakan epinefrin maka dosis dikurangi menjadi 225 mg.

Bupivacain memiliki resiko kardiotoksik, oleh karena itu diharapkan berhati-hati dan gunakan dosis dengan benar (Park et al., 2017).

Anestesi tumescent mirip dengan anestesi infiltratif, tetapi anestesi ini membutuhkan dosis yang lebih cair untuk dilakukannya prosedur. Pasalnya konsentrasi anestesi lebih rendah dan seseorang dapat menggunakan volume yang lebih besar dengan resiko toksisitas yang rendah.

Teknik penggunaan anestesi tumescent diterapkan pada dermabrasi, implan rambut, dan liposuction. Obat anestesi yang biasa digunakan adalah lidokain, sama seperti anestesi topikal (Shah et al., 2018).

Fase Kerja Anestesi

Overdosis anestesi dapat terjadi jika obat anestesi yang diberikan melebihi dosis yang seharusnya, mekanisme yang terjadi pada saat overdosis anestesi dijelaskan dalam Gambar 1.

Gambar 1 Fase kerja toksik overdosis anestesi.

Obat anestesi yang disuntikkan oleh tenaga medis akan bersirkulasi di dalam darah dan sampai ke otak serta jantung. Obat anestesi akan memblokade kanal natrium di dalam saraf, sehingga ion Na+ tidak dapat berpindah ke sisi yang lain.

Terhambatnya perpindahan ion Na+ ke sisi yang lain dapat menyebabkan sistem saraf ke kondisi istirahat (Taylor & McLeod., 2020).

Normalnya, obat anestesi akan diakumulasikan menjadi amida atau ester sehingga nyeri pada bagian yang dilakukan operasi tidak akan terakumulasi ke neuron di otak (Jiang et al., 2024).

Namun, pada kasus kelebihan dosis obat anestesi, akan terjadi blokade kanal natrium di seluruh tubuh khususnya di otak dan jantung.Blokade kanal natrium yang berlebihan dapat mengakibatkan pembengkakan pembuluh darah.

Hal ini akan menimbulkan gejala awal seperti sesak napas, kejang-kejang, reaksi alergi hingga hipersensitivitas, dan pada kasus yang lebih parah dapat menyebabkan henti jantung. Gejala dapat terjadi setelah pemberian obat anestesi hingga sembilan puluh menit setelah pemberian.

Dampak anestesi kecantikan

Anestesi lokal pada dasarnya cukup aman jika digunakan dengan tepat dan benar. Namun, meskipun jarang terjadi, anestesi lokal dapat memberikan reaksi yang merugikan jika diberikan secara intramuskular dan oral, karena memiliki daya serap yang lebih cepat dibandingkan dengan intravaskular.

Local Anesthetics Systemic Toxicity (LAST) merupakan reaksi yang paling parah dan paling merugikan karena memiliki resiko pasien akan kehilangan nyawanya.

Hal ini terjadi karena kadar plasma dalam anestesinya meningkat dan melebihi konsentrasi yang tidak pas. Reaksi ini dapat terjadi secara tiba-tiba setelah pemberian anestesi (Vasques et al., 2015).

Pasien yang mengalami LAST harus segera diobati dengan emulsi lipid IV 20% dengan dosis 1,5 mL/kg yang diberikan selama 1 menit lalu dilanjut dengan infus 0,25 mL/kg/menit (Neal et al., 2018).

Pada pemberian obat ini bisa diulang dua kali jika terjadi gangguan kardiovaskular. Dosis maksimum emulsi lipid yang dianjurkan adalah 12 mL/kg selama 30 menit pertama yang sudah diuraikan dalam pernyataan konsensus American Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine (Neal et al., 2018; Macfarlane et al., 2021).

Reaksi hipersensitivitas pada anestesi lokal lebih umum terjadi, seperti urtikaria dan angioedema tanpa adanya gangguan pernafasan. Penanganannya adalah dengan pemberian obat antihistamin dan pemantauan ketat pada pasien.

Gejala ini bisa langsung diamati setelah 30 menit pertama anestesi. Gejalanya meliputi gangguan pernafasan dan kardiovaskular.

Misalnya saja batuk, dipsnea, mengi, hipotensi, dan takikardiak. Adapun perawatan yang dianjurkan adalah dengan memberikan vasokonstriktor/epinefrin pada intravena secara langsung (Fathi et al., 2016).

Reaksi vasovagal disebabkan oleh kecemasan berlebih dan rasa nyeri ataupun sakit serta ketakutan pasien terhadap jarum suntik terhadap prosedur itu sendiri.

Reaksi ini menyerang sistem parasimpatik dengan gejala pusing, berkeringat, mual, bradikardi, dan hipotensi. Tindak perawatan yang dianjurkan adalah dengan menenangkan pasien, menempatkannya dalam posisi terlentang dan mengompres dahi pasien dengan kompres dingin (Macfarlane et al., 2021).

Riset-riset yang sudah ada

Shiddiqui dan kim (2024) menuturkan bahwa overdosis anestesi merupakan tahapan keempat dalam tahapan anestesi. Terjadinya hal tersebut karena banyak nya agen anestesi yang diberikan.

Toksisitas anestesi lokal muncul saat konsentrasi tinggi anestesi lokal menyebar ke aliran darah dan jaringan tubuh, melebihi ambang batas terapeutik.

Gejala awal toksisitas anestesi lokal meliputi sensasi kebas di mulut, telinga berdenging, agitasi, dan gangguan bicara, yang kemudian dapat memburuk menjadi penurunan kesadaran, kejang, bahkan koma (Yuliana dan Purnomo, 2021).

Salah satu senyawa untuk anestesi ialah Propofol (2,6-diisopropylphenol). Senyawa tersebut merupakan anestesi intravena.

Menurut Li et al (2023) overdosis propofol menyebabkan nekroptosis sel endotel dan disfungsi penghalang vascular. Selain propofol, terdapat juga ciprofol.

Menurut Wei et al (2022), ciprofol memiliki efek obat penenang yang lebih kuat dari profol ciprofol intravena tunggal pada dosis 0,4 dan 0,5 mg/kg memiliki efek klinis yang sebanding dengan propofol 2,5 mg/kg.

Kemudian terdapat lidokain. Senyawa anestesi tersebut sering digunakan pada praktek sedot lemak. Dosisi maksimal yang dapat digunakan ialah 4,5mg/kg dengan maksimal 300 mg.

Meskipun telah ada rekomendasi mengenai dosis maksimal anestesi lokal, hal ini masih menjadi perdebatan karena konsep tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis, farmakologis, dan klinis yang saling berkaitan.

Gejala yang terjadi ketika keracunan lidokain akan mengalami mati rasa perioral, kesemutan wajah, hingga mengalami kejang dan gagal jantung (Mrad et al, 2019).

Terdapat tiga tanda pasien mengalami toksisitas oleh anestesi. Menurut Bharadwaj dan dougherty (2023), tanda awal yang dapat muncul meliputi telinga berdenging (tinitus), sensasi kebas di area mulut, gangguan kesadaran, atau perubahan perilaku.

Jika paparan anestesi berlanjut, pasien bisa mengalami kejang tonik-klonik sebagai gejala lanjutan. Terdapat kasus overdosis anestesi pada penelitian Chan et al (2025).

Di mana pasien bedah plastik dengan dosis yang diberikan 2,1x dari dosis maksimal yang dianjurkan menyebabkan pasien mengalami mati rasa di wajah dan rasa logam di mulut. Komplikasi paling serius dari toksisitas adalah penekanan fungsi jantung dan paru, yang berpotensi mengarah pada koma.

Kesimpulan

Anestesi merupakan prosedur medis dengan tujuan pasien kehilangan kesadaran, kehilangan rasa nyeri, dan relaksasi otot ketika dilakukan prosedur medis yang menimbulkan rasa sakit.

Berdasarkan beberapa kasus yang terjadi dimana pasien mengalami mati rasa, mengantuk, kebingungan, jantung berdebar-debar, telinga berdengung, serangan jantung hingga kejang-kejang.

Hal ini di akibat terjadi blokade kanal natrium di seluruh tubuh khususnya di otak dan jantung mengakibatkan pembengkakan pembuluh darah.

Oleh sebab itu, perlu diperhatikan prosedur dan penggunaan anestesi agar tetap diambang batas toleransi tubuh untuk menghindari terjadinya overdosis anestesi yang menyebabkan toksisitas sistemik anestesi lokal (LAST).

*Mahasiswa prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung

Exit mobile version