UMBandung
Opini

Keterampilan Digital dan Masa Depan Anak Muda

×

Keterampilan Digital dan Masa Depan Anak Muda

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM – Kekhawatiran dan rasa cemas muncul dalam benak pikiran orang tua terhadap anak-anaknya. Begitu pun generasi milenial yang saat ini ada dalam bayangan ketidakpastian masa depan.

Benarkah? Pasalnya kondisi kerap kali mengalami perubahan secara tiba-tiba tanpa ada persiapan. Hal itu terbukti saat covid-19. Masyarakat Indonesia secara kasatmata mengalami gagap teknologi (gaptek) sehingga terkesan dipaksakan karena tuntutan mendadak.

Masyarakat pada umumnya belum siap menghadapi skema dan sistem kinerja dengan perangkat lunak berbasis digital. Konsekuensinya ketercapaian prestasi kerja dan belajar mengalami penurunan kualitas keberhasilan target.

Bahkan tidak sedikit selama covid-19 pembelajaran siswa mengalami pergeseran atau perpindahan.

Hal yang seharusnya anak belajar, malah berpindah ke orang tuanya yang menyimak, memperhatikan, dan mengerjakan pembelajaran anak-anak. Gaptek di lingkungan pendidikan sangat fatal saat menghadapi perkembangan industri digital.

Digitalisasi kinerja seluruh aspek kehidupan sudah berjalan sebagian, walaupun persentasenya masih di bawah rata-rata. Tren pergeseran pola kerja akan berdampak pada generasi pencari kerja dan segala hal yang dikerjakan akan menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Menurut prediksi Mc Kinsey (2019), Indonesia akan kehilangan 23 juta pekerjaan pada 2030, tetapi di tahun yang sama akan muncul juga jenis pekerjaan baru.

Perkembangan AI di dunia terus mengalir deras tidak dapat dibendung. Tidak disadari juga hal itu sudah menjadi tradisi dan budaya di era disrupsi hingga dikenal istilah yang familiar dengan sebutan masyarakat digital.

Hanya sangat perlu diperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan terhadap keberlangsungan dalam hal tertentu, di antaranya pengintaian digital dan kebocoran data pribadi.

Jauh sebelum terjadi dampak negatif yang merebak dan tidak diantisipasi, pihak-pihak yang berkepentingan harus melakukan edukasi kepada masyarakat. Suka tidak suka, dipahami atau tidak, tuntutan literasi digital sebuah keharusan.

Apalagi generasi Z dan alfa sudah menjadi bagian pokok dalam kehidupannya. Oleh karena itu, konsekuensinya mereka harus benar-benar memiliki keterampilan (skill) basic, advance, hingga expert dalam perkembangan dunia teknologi dan literasi digital.

Baca Juga:  Mama Ani, Penulis Buku Anak yang Selalu Berbagi

Arus deras perkembangan teknologi digital telah meluluhlantahkan sektor berbagai jenis pekerjaan. Teknologi digital juga mengubah budaya masyarakat dari “makan tidak makan asal kumpul”, bergeser menjadi “makan tidak makan asal punya kuota”.

Begitu fenomena hari ini yang terjadi. Masyarakat menggunamanfaatkan teknologi digital dengan menghabiskan kuota untuk berselancar dan menjadi konsumen aplikasi media sosial.

Pernah suatu ketika penulis berbincanga dengan dengan pelaku industri menengah ke atas.

Terungkap fakta yang memilukan bahwa banyak generasi muda, bahkan freshgraduate lulusan perguruan tinggi Indonesia, tidak memiliki skill dasar dalam menggunakan microsoft office, baik itu MS Word, Excel, dan Power Point yang berstandar.

Penulis sempat kaget dalam perbincangan saat itu. Kemudian ditanyakan apa selama ini office yang digunakan masyarakat pada umumnya tidak berstandar atau memang ada perbedaan dari substansi isi office yang digunakan?

Singkat kata bahwa selama ini pemahaman office yang sehari-hari digunakan hanya sekadar dan tidak berstandar sehingga saat diuji kemampuannya sesuai standar kinerja industri jauh dari terampil. Mengetahui dan memahaminya di bawah standar basic.

Saat ini dan ke depan tampaknya generasi muda kita membutuhkan pelatihan keterampilan yang benar-benar berstandar basic. Di antara tujuannya tentu saja memahami alur kinerja pemula dan selanjutnya meningkat hingga memahami kinerja AI dan cloud computing.

Fenomena di atas bukan mengada-ada. Ini kejadian nyata. Hal tersebut telah membuat dunia akademik kehilangan muka karena lulusannya hanya membawa secarik ijazah yang sulit dijadikan indikator standar skill dan kompetensi dan keahlian tertentu.

Saat ada kebijakan terkait surat keterangan pendamping ijazah, perguruan tinggi masih abai dan tidak menjadi perhatian. Kepedulian kampus terhadap lulusan masih terkesan kurang peka dan tidak peduli.

Apakah lulusannya memiliki peluang diterima dunia industri perusahaan multinasional papan atas atau memiliki skill dan kompetensi wirausaha dunia baru, kampus tampaknya tidak terlalu peduli.

Mereka hanya berbekal ijazah dan transkrip nilai yang tertera huruf dan angka sebagai bukti lulus dari perguruan tinggi. Sementara itu, bukti keahlian dan keterampilanya tidak terjamin dan menjamin dirinya hingga kepercayaan dirinya nyaris tidak ada.

Baca Juga:  Inilah 7 Cara Mendidik Anak Agar Terhindar Dari Perundungan

Mereka empat tahun lamanya berjibaku di bangku kuliah. Namun, saat lulus dan setelah diwisuda tidak ada yang mengundang untuk bergabung dalam sebuah industri karena ijazahnya kurang punya nilai jual.

Bahkan lebih parahnya lagi tidak laku di pasaran industri perusahaan multinasional dan dunia usaha berkelas. Melamar kerja ke sana kemari tidak ada yang menerima. Sekalipun diterima di sebuah industri, kompetensinya disetarakan dengan lulusan menengah atas dan kejuruan.

Fenomena ini sangat pedas dan memprihatinkan. Penulis berharap hal itu ialah fenomena sebuah kasusitik yang tidak terjadi pada umumnya.

Namun, jika umumnya saat ini dirasakan oleh para lulusan perguruan tinggi, sebaiknya segera berpikir keras untuk meningkatkan skill dan kompetensi hingga percaya diri bahwa Anda bisa mengerjakan sesuatu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan industri dan dunia usaha.

Keterjaminan diri harus dibekali dengan semangat perubahan diri. Jika hanya mengandalkan institusi pendidikan, kadang-kadang lebih banyak terjebak dengan aturan normatif, kurang update akan kebutuhan kekinian yang bersifat faktual empirik.

Alasan yang dikemukakan sangat klasik, baik itu karena labiratorium maupun hal-hal lain yang menjadi tuduhan sekadar alibi dan apologies.

Kita harus keluar dari tradisi zona nyaman dan mainstream yang hanya terkadang mendidik dan membentuk diri lemah tidak berdaya sehingga tidak biasa menerima perubahan.

Padahal disrupsi kapan saja akan melewati kebiasaan sehari-hari dan mengubah tradisi. Ia tidak pandang bulu sehingga sering membuat orang kaget apa yang harus dilakukan.

Generasi muda tidak boleh mengalah apalagi putus asa. Lelah dan gelisah jadikan sebagai spirit dan motivasi mengubah diri untuk maju mengubah dunia. Kemampuan dan skill khusus akan membangun kepercayaan diri lebih agresif dan akseleratif.

Metaverse akan mengambil alih dunia, budaya digital tidak disadari menjadi bagian yang melingkari seluruh aktivitas di mana pun berada. Ruang dan waktu hampir dipastikan tidak dibatasi kecuali kita sendiri yang membatasi.

Belajar untuk meningkatkan kompetensi, memperbaiki diri, dan menambah kepercayaan diri agar mampu mengubah diri dan lingkungan. Waktu dan masa tidak akan pernah kembali. Budaya literasi digital menjadi basic skill generasi masyarakat digital.

Baca Juga:  Berdakwah dengan Akhlak Mulia

Di sisi lain pada umumnya masyarakat sering muncul sikap under estimate terhadap apa yang terjadi. Padahal, sebenarnya belum memiliki kemampuan terhadap apa yang dihadapi.

Oleh karena itu, dalam waktu-waktu tertentu manakala permasalahan menghampirinya, membuat ambiguitas sikap yang berdampak pada kesalahan fatal.

Segala perkataan dan perbuatan yang terkoneksi dengan alat komunikasi informasi akan ada jejak digital. Kompetensi dan skill literasi digital menjadi kebutuhan masyarakat di era disrupsi teknologi.

Sikap dan mental seorang generasi muda harus memiliki karakter kreator dan inovator. Ia harus tidak pantang menyerah.

Artificial Intelligence akan menjadi pemain utama dalam percaturan sosio-teknologi digital di abad ini.

Berbagai industri berbasis teknologi, jika tidak cepat terdisrupsi, harus segera menggunakan AI sebagai instrumen penguat sistem kinerja sekaligus menjaga perubahan pola kerja akibat terjangan disrupsi teknologi.

Harga sosial yang tidak dapat ditawar-tawar bahwa kehadiran AI salah satu bagian dari ekosistem teknologi digital yang menjadi pemain utama dalam berbagai aspek kehidupan.

Begitu pun dalam dunia pendidikan sudah mulai sebuah keharusan karena beradaptasi, apalagi dunia bisnis sudah menjadi kebutuhan pokok. Bertransformasi teknologi digital tidak menunggu lagi.

Dunia pendidikan tinggi khususnya harus memberikan skill teknologi digital secara permanen kepada lulusannya. Jika tidak memberikan keahlian tersebut, siap-siap gulung tikar alias bangkrut akibat tidak akan diminati generasi untuk menjadi mahasiswa sebagai pelanggan.

Generasi muda hari ini wajib hukumnya memiliki skill literasi digital. Apalagi berkeinginan menjadi pemain utama dalam sektor kehidupan bidang tertentu atau profesi yang khusus.

Misalnya memiliki keterampilan dan keahlian teknologi digital mulai dari keterampilan basic seperti office berstandar internasional, AI, dan Cloud Computing.

Masa depanmu ada di tanganmu. Perubahan apa pun ada di tanganmu. Allah SWT akan mengubah harapanmu jika dirimu melakukan perubahan. Wallahualam.***

PMB UM Bandung