Organisasi dan Inventaris Hidup

oleh -

OLEH: BAHARUDDIN YUSUF MAULANA — Sekretaris Bidang Advokasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat

BANDUNGMU.COM — Ketika seseorang sudah mengikrarkan dirinya untuk bergabung ke dalam suatu organisasi, seluruh pintu rezekinya pasti akan terbuka lebar karena hati nuraninya tergerak tanpa paksaan dari orang lain.

Hal ini untuk menyakinkan diri bahwa diri telah diatur oleh takdir-Nya untuk berjuang dalam menunaikan amanah dan siap mewakafkan diri untuk kepentingan bersama.

Peraturan tentang cara penerimaan anggota baru biasanya berbeda-beda bergantung pada kebijakan yang telah disepakati oleh organisasi tersebut. Ada yang menggunakan pencalonan ketua umum dan formatur atau hanya pemilihan formatur.

Kedua sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri apalagi organisasi itu sudah sangat terkenal dan melahirkan tokoh-tokoh hebat. Contohnya ketika pemilihan ketua umum, dia memiliki keunggulan, hanya menunggu siapa yang memiliki suara terbanyak, maka dialah yang terpilih dengan tidak dilakukan musyawarah terlebih dahulu.

Hal itu dilakukan tanpa ada musyawara terlebih dahulu dengan tujuan menyakini kembali atas terpilihnya dia menjadi ketua dalam sebuah organisasi. Berbeda halnya dengan pemilihan formatur. Sistem tersebut cenderung akan lebih lama prosesnya. Pasalnya ketika seseorang tersebut, walaupun sudah memiliki banyak, suara tidak menjamin menjadi ketua.

Baca Juga:  Ramadhan dan Revolusi Hati

Perlu dilakukan musyawarah yang setidaknya berjumlah ganjil dalam suatu ruangan. Hal ini bertujuan untuk bisa secepatnya memutuskan siapa yang berhak menjadi ketua umum dari beberapa orang tersebut.

Pemilihan jumlah ganjil ini bukan tanpa alasan karena dalam sistem voting kita harus memiliki makna kalah dan menang. Tentu saja hal ini akan dirasa sangat memberatkan jika peserta dalam ruang musyawarah berjumlah genap.

Hal ini dapat dianalogikan seperti ada dua pilihan. Ketika pesertanya berjumlah enam orang, lalu tiga orang memilih A, otomatis tiga orang lainnya akan memilih pilihan B, hal itu akan dirasa perundingan tanpa selesai.

Berbeda jika hal itu dilakukan oleh orang yang berjumlah ganjil, misalkan lima orang. Ketika dua orang memilih A, pilihan B akan menang karena secara otomatis tiga lainnya memilih B sebagai pilihannya.

Baca Juga:  Memilih Sekolah dan Problem Pendidikan Kita

Berangkat dari hal itu tersebut maka musyawarah lebih diutamakan dari apa pun karena hal itu untuk menyakinkan kepada seseorang bahwa semuanya akan lebih indah jika keputusan berdasarkan kesepakatan bersama.

Hal ini juga menunjukkan tentang kerendahan hati seseorang dan sebagai wahana belajar bertukar pendapat tentang ide dan gagasan ke depannya.

Oleh karena itu, ketika seseorang sudah terbiasa menjadikan musyawarah sebagai pegangan dalam memutuskan pendapat, ketika seseorang tersebut berada di luar organisasi, baik itu masih mempunyai tanggung jawab atau sudah purna tugas, dia akan lebih tenang dalam menghadapi tantangan.

Dia juga tidak akan tergesa-gesa dalam mengambil tindakan. Namun, tetap bisa cepat dalam mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah mereka alami sebelum-sebelumnya.

Pengalaman musyawarah dalam organisasi dijadikannya sebagai inventaris dalam hidupnya, baik ketika sudah memasuki dunia kerja, menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maupun ketika memilih mengakhiri masa kesendiriannya (menikah).

Baca Juga:  Ibrah di Balik Pengambilalihan Amal Usaha Panti Asuhan Muhammadiyah

Bagaimanapun kehidupan ke depan kita tidak akan mengetahui akan seperti apa jadinya tanpa bisa mengatur naluri berpikir. Pada hakikatnya kita akan menemukan sebuah pengalaman di tengah masyarakat. Kita sebagai seseorang yang lahir dari rahim organisasi harus berada di garda terdepan dalam menangani permasalahan.

Hal yang masyarakat inginkan adalah sebuah poin penting dalam menyelesaikan masalah tanpa menyakiti siapa pun demi kemahsalatan bersama. Masyarakat secara umum masih belum mempunyai kesempatan dalam mempelajari materi tersebut apalagi jika ekonomi mereka terbatas ruang dan waktu.

Mereka tidak mempunyai waktu dalam mempelajarinya. Waktu mereka terus terikat untuk mencari penghidupan dunia agar kehidupannya terus berlanjut.

Oleh karena bagi siapa pun yang memiliki kesempatan, pergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Tuntaskan amanah untuk memperbaiki hidup orang yang berada di sekiling. Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.***

No More Posts Available.

No more pages to load.