Islampedia

Kita Harus Belajar Sejarah Secara Jujur dan Cerdas!

Foto: Muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau semua pihak agar melihat sejarah melalui prespektif yang jernih dan jujur, dan dimaknai sebagai masa lalu demi perbaikan di masa mendatang. Haedar tidak sepakat bila penggalan peristiwa masa lalu hanya untuk klaim sejarah demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Imbauan tersebut disampaikan Haedar saat membuka acara Pengajian Umum PP Muhammadiyah secara virtual pada Jumat (12/11/2021). “Kita perlu belajar sejarah secara jujur, belajar secara dengan cerdas, dan belajar sejarah secara lebih komprehensif agar kita tidak gampang mengklaim tentang sejarahnya sendiri,” ujarnya, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Haedar menyangkan banyak warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas belum sepenuhnya tahu dan paham titik sejarah di mana Muhammadiyah sangat berperan dalam menentukan arah juang masa depan bangsa. Pembentukan Hizbul Wathan tahun 1918, misalnya, telah menjadi wadah yang strategis dalam pembaharuan masyarakat muslim dan memperkenalkan jati diri bangsa, terutama bagi generasi muda.

“Baik warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas, sering terlupakan peran Muhammadiyah sejak membentuk Hizbul Wathan tahun 1918 yang orang hanya melihat sebatas kepanduan, padahal itu gerakan cinta tanah air dan membangun karakter pergerakan sehingga dari sana lahir Soedirman, dan tokoh pergerakan lainnya,” tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Selain Hizbul Wathan, Muhammadiyah juga turut membentuk satuan pejuang Askar Perang Sabil (APS) dan Markas Ulama Askar Perang Sabil (MUAPS) dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa agresi militer Belanda sekitar tahun 1945, Askar Perang Sabil yang dipimpin oleh Ki Bagus Hadikusumo ini menjadi pasukan semi-militer dengan tujuan membantu pemerintah Indonesia di titik-titik pertempuran.

“Peran sejarah Askar Perang Sabil di Yogyakarta dan kawasan Jawa Tengah Selatan yang itu satu mata rantai dengan Perang Gerilya dan komandan utamanya Ki Bagus Hadikusumo. Orang Muhammadiyah sendiri sering tidak tahu, dan itu yang saya sampaikan kepada pemerintah untuk lebih hati-hati memilih Hari Santri karena santri itu ada banyak kategori, tapi kalau orientasi santri hanya kepada kelompok tertentu tentu saja berbeda,” kata pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 25 Februari 1958 ini.

Selain peristiwa sejarah, warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas tidak begitu tahu tentang banyaknya tokoh-tokoh Muhammadiyah yang menjadi pahlawan nasional. Haedar mencatat ada sekitar 22 tokoh Muhammadiyah dalam deretan pahlawan nasional, seperti Ir. Djuanda, Otto Iskandar Dinata, dr Soetomo, Adam Malik, Gatot Mangkoepradja, AR Baswedan, dan lain-lain.

“Tokoh-tokoh bangsa yang punya irisan bahkan langsung beraktivitas di Muhammadiyah ada sekitar 22 tokoh Muhammadiyah yang menjadi pahlawan nasional. Tidak sedikit warga Muhammadiyah yang tidak tahu kalau Ir. Djuanda, Otto Iskandar Dinata, dr Soetomo, Adam Malik, dan Gatot Mangkoepradja adalah bagian dari keluarga besar Muhammadiyah,” tutur Haedar.

Dengan banyaknya tokoh-tokoh Muhammadiyah yang mendapat gelar pahlawan nasional menandakan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam memiliki catatan penting dalam menorehkan tinta emas berkontribusi memajukan bangsa. Tokoh-tokoh Muhammadiyah ikut serta memperjuangkan kemerdekaan hingga ikut serta memperjuangkan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Jejak-jejak sejarah ini perlu kita rajut kembali untuk mengambil peran kesejarahan bagi Muhammadiyah tidak selalu masa lampau hanya menjadi atsar tapi masa lampau menjadi satu mata rantai dengan masa kini dan ke depan. Penting bagi warga Muhammadiyah memahami sejarah kepahlawanann ini,” ujar Haedar.

“Yang perlu kita pesankan pada publik ialah pertama harus jujur pada sejarah, boleh mengklaim tidak boleh dusta, kedua harus cerdas dengan multiperspektif dalam melihat sejarah agar kita tidak masuk pada proses pembodohan sejarah. Dan Muhammadiyah belajar untuk jujur, cerdas, dan multi perspektif dalam melihat sejarah,” tegasnya.***(Muhammadiyah.or.id)

Exit mobile version