Opini

Krisis Adab

Ilustrasi (Istockphoto)

OLEH SUDARMAN SUPRIYADI — Peminat Literasi dan Sosial-kegamaan

BANDUNGMU.COM — Ketika ada tokoh kontroversial menjadi korban pengeroyokan saat demo mahasiswa beberapa waktu lalu, media sosial pun langsung heboh. Bahkan mungkin lebih heboh daripada kejadian di lokasi demo dan pengeroyokan.

Hampir semua orang yang punya akun media sosial ikut berkomentar. Tidak peduli paham persoalan ataupun tidak. Yang penting berkomentar saja agar ikut meramaikan suasana.

Apa yang lebih mengerikan dari itu? Semua komentarnya adalah sarkas dan kasar menginjak-injak kemanusiaan kita sebagai orang Indonesia, khususnya sebagai umat Islam.

Simpati dan empati entah ke mana. Semua orang seakan-akan bersorak gembira melihat ada manusia penuh darah bahkan nyaris telanjang dipukuli dan menjadi tontonan orang.

Kita boleh beda pendapat. Boleh juga beda argumen. Bahkan boleh berkawan dengan orang sekontroversial apapun. Namun, saat semua perbedaan dibalas dengan kekerasan fisik bahkan sampai nyaris menghilangkan nyawa, kita tak ubahnya seperti kelakuan orang tersebut.

Hilangnya adab

Saat kasus itu ramai, saya perhatikan media sosial instagram dan facebook, isinya mengolok-olok si tokoh kontroversial korban pengeroyokan tersebut. Bahkan saya perhatikan ada dosen sebuah kampus sampai menulis narasi panjang seakan-akan mengaminkan kejadian tersebut.

Intinya dia tidak setuju dengan kekerasan apa pun alasannya. Namun, kalau korban kekerasan itu si tokoh kontroversial tersebut, dia setuju kekerasan jadi solusinya. Mengerikan sekali.

Itu kelas dosen lho ya, bukan masyarakat awam. Bagaimana komentar di bawah narasi si dosen tersebut? Wow, ratusan orang ikut berkomentar dengan nada yang sama, yakni menyetujui dosen UI tersebut dihukum dengan cara kasar tersebut.

Kebayang kalau satu postingan tersebut dikomentari banyak orang, kemudian di-share lagi ke grup-grup whatsapp yang lebih privat dan masif lagi, bagaimana olok-olok itu menjadi sebuah bahasan yang dianggap biasa.

Literasi dan adab kita memang rendah. Untuk persoalan beda pendapat saja kita harus berdiskusi dengan diksi dan kata-kata hinaan kepada orang berbeda dengan kita.

Coba perhatikan di media sosial, bagaimana miskin adab itu semakin terbuka dan nyata adanya, baik dilakukan oleh dosen, akademisi, masyarakat awam, ataupun sesama aktivis–katanya–dengan bebasnya di media sosial.

Saya berkawan dengan dosen, profesor, akademisi, seniman, ustad, tokoh, dan berbagai kalangan di media sosial. Dan betapa prihatinnya saya ketika ada kasus kekerasan tersebut, mereka mengolok-olok si korban dengan diksi dan kalimat-kalimat yang tidak mencerminkan empati.

Mereka memanggil dan menyebut si korban dengan kata-kata yang tidak pantas. Bahkan sampai mengurusi celana dalam si korban segala sebagai bahan lelucon yang tidak lucu sama sekali.

Perilaku beradab itu sejatinya tetap kita pakai kepada siapa pun dan kapan pun. Tidak pandang bulu dan tidak pandang waktu. Sopan santun adalah identitas bangsa Indonesia yang tidak boleh hilang karena sebuah perbedaan satu isu yang sedang ramai.

Okelah diakui bahwa si korban ini adalah tokoh yang banyak mengeluarkan komentar-komentar yang kontroversial, sering mengolok-olok sesuatu hal yang sifatnya agama.

Namun, semua itu harus dilawan dengan cara diskusi dan debat yang sehat. Kalahkan dia dengan argumen yang cerdas dan mencerahkan. Bukan dilawan dengan kekerasan fisik, apalagi olok-olok saat dia tidak berdaya.

Sikap tegas penguasa

Banyak yang berpandangan bahwa kalau saja tokoh kontroversial korban pengeroyokan itu tidak menghina Islam, habaib, dan tidak membela penguasa mati-matian walaupun salah, mungkin masyarakat tidak akan beringas dan main kasar seperti itu.

Mereka melakukan itu karena kesal si korban tidak kunjung ditindak tegas oleh aparat walaupun sering mengeluarkan pernyataan yang bernada menghina dan merendahkan Islam.

Argumen ini dapat diterima dan memang rasional. Namun, apakah kekerasan jadi solusi? Pada kenyataannya tidak sama sekali. Bahkan akan membuat “dendam” berkepanjangan.

Oleh karena itu, saya kira aparat jangan pandang bulu dalam menegakkan hukum. Siapa pun yang melakukan pelanggaran, ya harus ditindak dengan tegas dan seadil-adilnya tanpa melihat siapa dia.

Kalau hukum hanya tajam kepada pihak yang kontra penguasa, lebih-lebih membiarkan “pembela” penguasa bebas menghina sebuah agama, ya hukum jalanan dikhawatirkan terjadi lagi.

Aparat jangan sampai lalai apalagi pura-pura tidak tahu terhadap pihak-pihak yang mengolok-olok agama. Bahkan merendahkan agama sehingga menjadi bahan lucu-lucuan.

Agar kasus kekerasan tidak terjadi, selain saling menahan diri, yakni tegasnya sikap aparat terhadap siapa pun yang menghina atau mengolok-olok agama tertentu bisa ditindak tegas.***

Exit mobile version