BANDUNGMU.COM, Bandung — Kebangkitan umat Islam tidak cukup dibangun melalui wacana, tetapi membutuhkan penguatan ilmu, pendidikan, ekonomi, teknologi, serta kemampuan mengelola kehidupan sosial dan politik.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Keagamaan Awaken Chapter 2 bertajuk “Persatuan Umat Islam: Spirit Kemerdekaan Menuju Kebangkitan Umat” di UM Bandung pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Rumah Pemuda Madani itu berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga UM Bandung.
Forum ini mempertemukan pemuda dan mahasiswa untuk membahas kembali makna persatuan dan kebangkitan umat dalam menghadapi tantangan zaman.
Wakil Presiden BEM UM Bandung Fajar Abidin mengatakan, gerakan tajdid Muhammadiyah yang dirintis KH Ahmad Dahlan pada 1912 lahir dalam konteks kebangkitan pemikiran Islam pada awal abad ke-20.
Gagasan pembaruan tersebut, kata dia, turut dipengaruhi pemikiran tokoh seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani.
Semangat pembaruan Muhammadiyah kemudian diwujudkan melalui gerakan pendidikan dan sosial.
Memasuki dekade 1920-an, Muhammadiyah melalui tokoh seperti Mas Mansur juga aktif merespons berbagai persoalan dunia Islam.
“Melalui dialog ini dan audiensi bersama pelajar Kota Bandung, kami ingin memupuk kembali nilai-nilai dan gerakan Islam secara utuh,” ujar Fajar.
Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana menilai kebangkitan umat pada abad ke-15 Hijriah membutuhkan kesiapan lintas bidang, terutama pendidikan, ekonomi, politik, dan teknologi.
Menurutnya, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci agar umat mampu keluar dari ketergantungan.
“Umat Islam sejauh ini masih cenderung menjadi konsumen dalam bidang ekonomi dan objek dalam bidang politik. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan dan literasi sangat mendesak,” kata Ayi.
Ia menilai ketertinggalan ekonomi dan teknologi juga menjadi tantangan dalam membangun kemandirian serta persatuan umat.
Oleh karena itu, pendidikan perlu diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu.
Namun, bagaimana pendidikan justru mampu menciptakan inovasi dan peluang ekonomi.
Dalam konteks tersebut, UM Bandung mengusung visi Islamic Technopreneurial University untuk membentuk pemimpin masa depan yang memiliki nilai-nilai Islam sekaligus kompetensi teknologi dan technopreneurship.
Dialog menghadirkan tiga narasumber, yakni Wakil Ketua PWM Jawa Barat Usep Sudrajat, Ketua Umum DDII Adian Husaini, dan dosen Universitas Brawijaya A Dedi Mulawarman.
Adian Husaini mengingatkan agar kebangkitan umat Islam tidak terjebak pada romantisme kejayaan masa lalu.
Menurutnya, sejarah harus menjadi sumber pelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik pada masa kini.
“Kebangkitan umat tidak hanya soal politik, tetapi pendidikan, ilmu, ekonomi, teknologi, sosial, dan kebudayaan,” ujar Adian.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah SAW harus menjadi landasan dalam menghadapi kehidupan modern.
Sejarah peradaban Islam, menurutnya, menunjukkan bahwa umat dapat membangun kemajuan ketika memiliki visi, ilmu, kepemimpinan, dan kekuatan bersama.
Sementara itu, A Dedi Mulawarman mengangkat gagasan kemerdekaan dan kemandirian umat melalui perspektif Tjokroisme.
Mengacu pada pemikiran HOS Tjokroaminoto, ia menilai patriotisme dan nasionalisme merupakan bagian dari kesadaran umat untuk mampu mengurus dan menentukan masa depannya sendiri.
Namun, kebangkitan tidak cukup dibangun melalui jalur politik. Dedi menekankan tiga fondasi utama, yakni semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepintar-pintar siyasah.
“Artinya, kebangkitan umat harus dimulai dari penguatan iman, peningkatan pengetahuan, serta kecakapan mengelola kehidupan sosial dan politik,” kata Dedi.
Menurutnya, perjuangan umat juga perlu terus dievaluasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
Dengan demikian, semangat kemerdekaan dapat diterjemahkan menjadi kemandirian. Sementara itu, tauhid tetap menjadi pijakan utama dalam membangun kehidupan umat.***(FK/FA)
