BANDUNGMU.COM, Surabaya — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan kegiatan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM).
Acara berlangsung dari Jumat-Selasa (07-11/08/2026) di Hotel Dafam Pacific Caesar, Surabaya.
Peserta adalah perwakilan dari MPI se-Indonesia, mahasiswa, dan beberapa guru pegiat sejarah. Total jumlah peserta ada 25 orang.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat turut memeriahkan acara dengan mengirim dua delegasi, yakni Zaki Al-Aziz dan Mohamad Aqbil Wikarya Abdul Karim.
Zaki Al-Aziz merupakan seorang pegiat sejarah dengan karyanya berjudul Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Bandung (1936-1940).
Zaki juga kini tengah menjabat sebagai Bendahara Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Bandung periode 2024-2029.
Adapun Mohamad Aqbil juga pegiat penulisan sejarah. Selain menulis, Pria lulusan Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung ini juga anggota PDPM Kota Bandung periode 2024-2029.
Zaki dan Aqbil pernah berkolaborasi dalam menciptakan buku berjudul “Sumirat Sang Surya Melayani Jawa Barat”, yang terbit pada 2025. Buku tersebut menguak sejarah Muhammadiyah di Jawa Barat sejak awal kemunculannya.
Keduanya dikirim oleh PWM Jawa Barat sebagai delegasi guna meraup ilmu yang nantinya akan dipraktikan di wilayah Jawa Barat.
Zaki Al-Aziz mengaku bahagia bisa diajak untuk mengikuti kegiatan Akademi Sejarah Muhammadiyah.
“Tentu ini menjadi hal menyenangkan. Selain mendapat ilmu, kami juga bisa bertemu dengan teman-teman dari wilayah lain. Saya harap silaturahmi ini tetap terjaga” katanya.
Senada, Mohamad Aqbil merasa ilmu yang diperolehnya hari ini begitu penting untuk perkembangan penulisan sejarahnya.
“Dapat ikut acara ASM begitu menyenangkan. Mendapatkan ilmu yang tak ada di buku-buku. Saya berharap ilmu-ilmu ini bisa saya praktikan di daerah saya, tentunya.”
Tujuan Akademi Sejarah Muhammadiyah
Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Akademi Sejarah Muhammadiyah dalam rangka menggiatkan praktik penulisan sejarah Muhammadiyah.
Menariknya, MPI PP dalam hal ini tidak hanya memberikan pengajaran penulisan Muhammadiyah.
MPI PP juga mendorong agar para peserta bisa menularkan kemampuan dan semangat penulisan sejarahnya hingga wilayah, daerah, ataupun Amal Usaha Muhammadiyah di tempat sang penulis tinggal.
Hal ini penting karena penulisan sejarah Muhammadiyah di tingkat akar rumput masih sedikit, oleh karenanya penggiatan ini digalakan.
Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widyastuti, M.Hum menerangkan bahwa MPI ingin melahirkan penulis sejarah lokal.
Harapannya MPI PP menargetkan minimal ada 20 karya penulisan sejarah Muhammadiyah pada tingkat lokal pada Muktamar tahun 2027 mendatang.
“Di Muktamar nanti MPI berusaha untuk menghasilkan 20 karya sejarah lokal dari hasil pembibitan peserta akademi ini,” ujarnya. ***(MAWAK)
