Mahasiswa Baru Kampus Muhammadiyah Harus Jadi Generasi Khair Al-Ummah

oleh -
Foto: Muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM — Dalam QS. Ali Imran ayat 104, Allah memberikan perintah untuk membentuk sebuah perkumpulan yang terorganisir dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.

Bila perkumpulan tersebut dilandasi keimanan kepada Allah dan sukses menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, janji Allah sebagaimana dalam QS. Ali Imran ayat 110 akan memberinya status sebagai khair al-ummah (umat terbaik).

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkap ruang lingkup khair al-ummah dalam konteks lingkungan kampus untuk mahasiswa baru.

Pertama, khair al-ummah dalam hal kekuatan ruhani. Artinya, memiliki jiwa ihsan yang dihasilkan dari aktualisasi iman dan takwa. Konkretisasi jiwa ihsan meliputi akhlak yang jujur, amanah, dan beradab.

“Orang yang berjiwa ihsan akan menjadi orang lurus dalam kehidupannya. Jujur, amanah, kalau nanti jadi mahasiswa ketika ujian tidak nyontek, tidak menghalalkan segala cara, tidak hedonis, dan segala hal yang dilarang agama akan ditinggalkan,” kata Haedar dalam Pembukaan Program Pengenalan Kampus (P2K) Universitas Ahmad Dahlan, Senin (13/09/2021), dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Kedua, khair al-ummah dalam hal kegigihan mencari ilmu. Haedar berpesan kepada mahasiswa baru selalu bersemangat dalam belajar serta mengembangkan diri secara mandiri agar dapat menjalankan perkuliahan dengan lancar dan lulus tepat waktu.

Tidak hanya itu, Haedar mengajak agar segenapa mahasiswa baru menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Harus menjadi orang-orang yang lapar dan haus ilmu, juga menguasai IPTEK dan keahlian. Di masa depan, keberhasilan ditentukan oleh mereka yang memiliki ilmu, paham IPTEK, dan berkeahlian di atas rata-rata. Bukan yang biasa-biasa saja,” pesan pria kelahiran Bandung, 25 Februari 1958 ini.

Ketiga, khair al-ummah dalam hal peran aktif untuk sosial kemasyarakatan dan kebangsaan. Haedar mengutip hadis bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak menebar manfaat bagi manusia dan lingkungannya (khair al-nas anfa’uhum li al-nas).

Oleh karena itu, mahasiswa baru harus pandai melakukan sosialisasi dengan masyarakat agar mereka merasakan dampak manfaat dari kehadiran kita.

Keempat, khair al-ummah dalam hal meneguhkan Islam sebagai rahmat semesta alam. Menurut Haedar, kehadiran Islam tidak hanya terbatas untuk komunitas umat Islam, tetapi harus menebar maslahat untuk kemanusiaan semesta.

Kelima, khair al-ummah dalam hal menjadi teladan yang baik untuk orang lain.

“Mahasiswa baru harus menumbuhkan rasa bangga dengan almamater Muhammadiyah. Untuk apa? Untuk menjadikan diri kita sebagai mahasiswa yang terbaik dalam berbagai hal, menjadi uswah hasanah, dan sekaligus memberikan manfaat bagi orang banyak. Inilah ciri khas mahasiswa Muhammadiyah!” tegas Haedar. (Ilham/Muhammadiyah.or.id).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *