UMBandung
Islampedia

Manfaat Ibadah dan Kekhalifahan Manusia di Muka Bumi Menurut Haedar Nashir

×

Manfaat Ibadah dan Kekhalifahan Manusia di Muka Bumi Menurut Haedar Nashir

Sebarkan artikel ini
Foto: muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan bahwa sebanyak apapun harta, kekuasaan, dan kekayaan di dunia akan kehilangan makna dan faedah jika hanya ditumpuk tanpa dijadikan amal saleh. “Ketika menghadap Allah di Hari Akhirat, apa yang hendak disetorkan dan menjadi modal kita masuk surga?” tanya Haedar seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah pada Senin 17 Juni 2024.

Haedar mengajak setiap muslim untuk menjadi hamba-hamba kekasih Allah yang rela berkorban demi kebaikan hidup orang banyak, sehingga hidup ini menjadi lebih bermakna. Dasar dan pusat seluruh ibadah adalah pengabdian total kepada Allah yang berbasis tauhid. “Mengesakan Tuhan membawa dampak profetik pada seluruh kehidupan setiap muslim yang menjalankannya. Agar manusia hidup tidak sekadar hidup seperti habitat hewan dan tumbuhan, tetapi hidup yang memiliki fondasi dan orientasi nilai yang luhur dan bermakna,” imbuh Haedar.

Haedar juga menjelaskan bahwa meskipun hidup hewan dan tumbuhan berfaedah, mereka hanya mengikuti sunatullah lahir dan mati. Sementara manusia diberi tugas khusus yang bermakna dan berfaedah, yaitu beribadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 60). Tujuannya agar hidup manusia selamat di dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201) untuk meraih ridla dan karunia Allah (QS Al-Fath: 29). Bukan hidup sekadar hidup untuk kemudian mati tanpa arti.

“Jika manusia hanya hidup untuk memenuhi kepentingan inderawi seperti makan, minum, hasrat biologis, dan hal-hal duniawi semata, maka derajat kehidupannya belum memenuhi syarat sebagai insan ‘fi ahsan at-taqwim’,” ungkap Haedar. Oleh karena itu, lanjut Haedar, momentum Idul Adha dengan ritual penyembelihan hewan kurban sejatinya merupakan proses dekonstruksi ruhaniah secara total agar setiap muslim keluar dari belenggu hasrat-hasrat primitif menuju martabat insan mulia.

Baca Juga:  Peneguhan Ideologi, Abdul Mu'ti: Muhammadiyah Lekat dengan Paradigma Tajdid

“Mari kita terus bermunajat kepada Allah agar pasca Idul Adha segenap Muslim makin menjadi insan yang saleh, yang mau berkorban dalam menunaikan kebajikan dan ketakwaan. Seraya dengan itu, insan beriman harus berani menjauhi yang buruk dan munkar agar kehidupan dilimpahi berkah Allah. Hidup di dunia ini sejatinya fana yang harus diisi dengan iman, ilmu, dan amal saleh yang membawa keselamatan di akhirat kelak nan abadi,” tutur Haedar.

Terakhir, Haedar mengajak untuk terus menanam benih-benih kebaikan dalam hidup yang tidak terlalu lama ini, sehingga ketika menghadap Allah sudah berbekal amal saleh dan menutup lembaran hidup ini dengan husnul khatimah. “Kita tidak tahu kapan Allah mengambil ajal kita, karena hidup dan mati setiap insan sepenuhnya di tangan Allah. Jangan menunda-nunda waktu untuk berbuat kebaikan termasuk dalam berkurban, karena kita sungguh tidak tahu ambang batas hidup ini,” ungkap Haedar.

Baca Juga:  Isra Mikraj, Keteladanan Nabi Muhammad yang Inspiratif

Jadikan kehidupan ini penuh arti dengan fondasi iman, Islam, dan ihsan yang bermuara pada taqwa guna meraih kebahagiaan di dunia akhirat dengan meraih surga jannatun na’im dalam rengkuhan ridha dan karunia Allah Yang Maha Rahman dan Rahim.***

PMB UM Bandung