
Bandung – Di tengah riuhnya kehidupan urban dan derasnya tuntutan akademik maupun pekerjaan, ada sekelompok anak muda yang memilih jalan berbeda dengan turun langsung ke lapangan sebagai relawan. Mereka bukan hanya hadir untuk membantu, tetapi juga menemukan versi diri yang selama ini mungkin tak terbaca. Dari hasil wawancara mendalam dengan seorang relawan muda Mutia Choerunissa, S.S, kisah ini mengalir sebagai refleksi personal yang sarat makna, tentang bagaimana satu perjalanan kerelawanan mampu mengubah cara pandang terhadap dunia dan terhadap diri sendiri.
Perjalanan Relawan Bermula dari Mimpi Masa Kecil
Perjumpaannya dengan dunia volunteer berangkat dari mimpi masa kecil. “Cita-citaku dari umur 3 tahun selalu ingin jadi dokter. Tujuanku saat itu adalah karena ingin bantu banyak orang,” ungkapnya dengan penuh ketulusan. Ketika keadaan memaksanya meninggalkan cita-cita itu di SMA, ia merasa kehilangan arah. Namun melalui kegiatan volunteer, ia menemukan jalan lain untuk membantu sesama. “Aku tetap bisa membantu orang dengan cara lain, yaitu dengan tenaga yang aku punya,” lanjutnya.
Perjalanan nasionalnya dimulai secara tidak sengaja, hanya karena ingin berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika. Dari rasa ingin tahu terhadap akun @smkaa.info, ia menemukan komunitas yang kelak menjadi pintu masuk ke dunia yang jauh lebih luas. “Ternyata banyak klab seru. Sampailah ke klab Journativist, pas banget aku kuliah ambil peminatan Journalism.” Hal sederhana seperti rekomendasi akun Instagram pun membuka babak baru dalam hidupnya.
Inspirasi dari Sosok Penuh Kasih
Inspirasi terbesarnya datang dari seorang dokter anak bernama dr. Kelly, sosok penuh kasih yang ia lihat pertama kali saat adiknya dirawat. “Dari kaca luar aku melihat beliau gendong adikku. Aku berpikir bahwa aku juga bisa memberikan cinta sebesar itu ke orang asing,” kenangnya. Cinta yang ia dapat dari keluarga dianggapnya terlalu besar untuk dibawa sendiri ia ingin membaginya kepada lebih banyak orang, salah satunya melalui kegiatan volunteer.
Kegiatan Relawan Memperkaya Pengalaman
Pengalamannya sangat beragam dari menjadi Liaison Officer pada peringatan KAA, Asia Africa Festival, hingga Speaker Management di forum internasional di Malaysia. Seleksinya pun tak mudah. Ia harus lolos screening CV dan membuat short essay sebelum akhirnya dipilih dari ribuan pendaftar mancanegara. “Gak nyangka juga bisa lolos dari puluhan ribu pendaftar,” ucapnya, masih tak percaya atas pencapaian itu.
Momen yang Menyelamatkan Hidupnya
Namun bukan gelar atau posisi yang paling membekas. Ia justru menyimpan satu momen yang menyelamatkan hidupnya. Di sebuah pagi yang berat, ia datang ke event dengan niat menyerah pada hidup. Namun sapaan seorang tamu mengubah segalanya. “Tiba-tiba ada seseorang nyapa, ‘Pagi,’ dengan senyum. Aku langsung merasa keberadaanku masih terlihat,” tuturnya. Sapaan sederhana itu membuatnya menangis malam harinya, karena ia kembali menemukan alasan untuk bertahan. “Hanya dengan satu kata bisa mengubah satu dunia milik orang lain,” katanya. Sejak saat itu, volunteer bukan lagi kegiatan sampingan, melainkan ruang hidup yang menjaga kewarasan dan harapannya.
Tantangan dalam Kerja Tim
Tantangan terbesar di lapangan menurutnya adalah membangun komunikasi dalam tim. “Great communication always leads to great teamwork,” tegasnya. Mutiara percaya bahwa setiap anggota harus sigap terhadap tanggung jawab sendiri sebelum membantu yang lain. Dari sanalah ia belajar koordinasi, empati, dan kedewasaan dalam bekerja bersama orang dengan karakter yang sangat beragam. Perbedaan itu justru menjadi sekolah kehidupan. “Setiap orang punya karakter dan latar belakang berbeda. Tugasku memahami karakter mereka dan menyesuaikannya,” jelasnya.
Pelajaran paling dalam yang ia pegang adalah prinsip bahwa tak ada pertemuan yang terjadi secara kebetulan. “No souls meet by accident, they always meet by fate,” ujarnya. Dari setiap pertemuan itulah ia belajar memaafkan masa lalu, menghargai masa kini, dan menyambut masa depan dengan hati yang lebih tenang. Dunia terasa lebih luas, tetapi sekaligus lebih ramah ketika ia memandangnya dengan lensa empati.
Bagi Mutiara, ia meyakini volunteer adalah ruang belajar yang tidak bisa tergantikan oleh kelas formal. “Kosongkan gelas ketika bertemu orang lain. Wawasanku bertambah setiap kali aku bertemu orang baru,” tuturnya. Menurutnya, menjadi relawan tidak membutuhkan modal besar selain keberanian mencoba. “Coba dulu. Jangan insecure dengan pengalaman. Kalau gagal, coba lagi.” Pesannya sederhana namun kuat tidak ada usaha yang sia-sia di jalan kebaikan.
Menyeimbangkan Waktu untuk Kerja, Kuliah, dan Relawan
Membagi waktu antara kerja, kuliah, dan volunteer memang menantang, tetapi ia menemukan ritmenya sendiri. Briefing di malam hari, shift setelah jam kerja, hingga mengambil cuti ketika ke Malaysia semua ia jalani dengan penuh komitmen. “Aku justru mendapat energi tambahan saat bertemu orang baru,” ujarnya. Kerelawanan bukan beban; ia justru menjadi penyembuh stres dan sumber kebahagiaan bagi dirinya yang ambivert ini.
Mimpi Relawan untuk Masa Depan
Ke depan, ia bermimpi menjadi volunteer di konser, panti asuhan, event olahraga, hingga volunteer medis. Dengan begitu, mimpi masa kecilnya sebagai “dokter” bisa tetap ia wujudkan dalam bentuk lain. Ia juga teguh memegang prinsip bahwa relawan tidak selalu soal bayaran. “Kalau dibayar materi, itu rezekiku. Kalau tidak, aku dibayar pengalaman. Tentukan rasa cukupmu dulu,” ujarnya, mengingatkan bahwa nilai kerelawanan jauh melampaui angka di rekening bank.
Pada akhirnya, perjalanan volunteer bukan sekadar daftar kegiatan. Ini adalah cerita tentang menemukan kembali makna hidup ketika dunia terasa gelap, tentang memberi– ketika hati penuh cinta, dan tentang menyadari bahwa hal kecil bahkan sesederhana kata “pagi” dapat menahan seseorang agar tetap bertahan.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kerelawanan tidak hanya mengubah orang lain; ia juga menyelamatkan mereka yang melakukannya. Dan mungkin, di dunia yang sering terasa penuh jarak dan bising, menjadi relawan adalah cara paling manusiawi untuk tetap terhubung kepada orang lain, dan kepada diri sendiri.















