Membaca Laut Bercerita di tahun 2025 membuat pembaca kembali menatap kenyataan. Novel yang seharusnya memberi jarak dari realitas justru menyeret kita pada situasi sosial yang terasa akrab. Kisah para aktivis menjelang 1998 mencerminkan kondisi hari ini, ketika tekanan pada ruang sipil meningkat dan praktik intimidasi masih terjadi.
Zen RS pernah menyampaikan bahwa fiksi sering menulis sejarah dengan lebih jujur daripada dokumen resmi. Pernyataan itu langsung terasa saat saya membaca karya Leila S. Chudori ini. Melalui tokoh Laut, Leila mengajak pembaca menelusuri lorong sejarah yang lama ditutupi negara.
Leila menggambarkan para aktivis sebagai generasi muda yang berani bersuara ketika negara menganggap suara sebagai ancaman. Ia menampilkan penangkapan, interogasi, dan penyiksaan tanpa dramatisasi, sehingga pembaca merasakan kekerasan itu secara lebih nyata. Yang membuatnya menekan adalah fakta bahwa pola tersebut masih membayangi kehidupan politik Indonesia.
Ketika cerita berpindah ke sudut pandang Asmara Jati adik Laut novel ini menampilkan luka yang menurun dari generasi ke generasi. Kehilangan seorang aktivis menjelma menjadi trauma kolektif pada keluarga, komunitas, hingga masyarakat luas. Dalam bagian ini Laut Bercerita bekerja sebagai arsip emosional yang menyimpan suara-suara yang negara abaikan.
Sebagai novel berbasis riset, Laut Bercerita berdiri di pertemuan antara sastra, jurnalisme, dan sejarah. Leila tidak hanya menulis cerita tetapi merekam ingatan publik yang hendak dihapus. Di tengah kondisi sosial politik yang menunjukkan tanda kemunduran, novel ini mengingatkan kita bahwa sejarah bisa berulang ketika masyarakat tidak menjaga ingatannya.
Akhirnya, Laut Bercerita bukan sekadar kisah tentang seseorang yang hilang. Novel ini menegaskan bahwa bangsa ini belum selesai berdamai dengan masa lalunya.***(IK22/Melsandi)





