BANDUNGMU.COM, Bandung — Bagi anak-anak yang tumbuh pada dekade 1990-an, masa kecil adalah album kenangan yang penuh warna.
Ada jajanan yang kini tinggal cerita, lagu-lagu pop dari radio kaset, majalah anak yang dibaca berulang kali, hingga permainan sederhana yang menyatukan tawa.
Di antara semua itu, ada satu benda kecil yang hampir pasti pernah singgah di tangan: buku Iqro’—tipis, sederhana, namun sarat makna.
Buku mungil itu bukan sekadar alat belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah gerbang awal perjumpaan dengan huruf-huruf hijaiyah, dibaca perlahan di serambi masjid, musala kampung, atau ruang tamu rumah.
Sampulnya ikonik: gambar seorang lelaki tua berkacamata, berjas hitam, berpeci, dengan wajah kurus dan sebuah tongkat di tangannya.
Bagi banyak anak, sosok itu mungkin hanya gambar. Namun, di baliknya tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, penderitaan, dan amal jariah yang tak pernah putus.
Lelaki di sampul itu adalah As’ad Humam, seorang putra Kotagede, Yogyakarta, kelahiran 1933. Ia tumbuh sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara dalam keluarga Muhammadiyah.
Ayahnya, Humam Siradj, dikenal sebagai pedagang sukses di Pasar Beringharjo. Sejak kecil, As’ad terbiasa dengan dunia belajar dan pengabdian.
Catatan antropolog Jepang Mitsuo Nakamura dalam buku The Crescent Arises over the Banyan Tree merekam jejak pendidikannya: dari SD Muhammadiyah Kleco, SMP Negeri di Ngawi, hingga Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Namun hidup tak selalu berjalan lurus. Pada 1963, sebuah kecelakaan saat memanjat pohon mengubah segalanya. Tulang belakangnya mengalami pengapuran.
Ia harus dirawat berbulan-bulan. Lehernya tak bisa digerakkan, dan sejak itu tongkat menjadi sahabat setia. Salat pun dilakukan sambil duduk lurus, tanpa rukuk dan sujud.
“Untuk menengok saja, beliau harus memutar seluruh tubuhnya,” tulis Heni Purwono. Tongkat di sampul Iqro’ bukan hiasan—ia adalah saksi hidup perjuangan.
Di tengah keterbatasan fisik, semangat intelektual As’ad Humam justru kian menyala. Ia sempat menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawir Krapyak, lalu aktif mengajar mengaji di Kotagede.
Di masa itu, metode membaca Al-Qur’an yang lazim—Baghdadiyah—dirasakannya terlalu lambat. Metode Qiroati yang diperkenalkan Dahlan Salim Zarkasyi memang lebih maju, tetapi bagi As’ad masih menyisakan celah.
Ketika usul perbaikan tak diterima, ia memilih jalan sunyi: berhenti mengajar Qiroati dan mulai merumuskan metode baru.
Di bawah pohon jambu di samping rumahnya, lembar demi lembar kertas dipenuhi coretan. Anak-anaknya membantu mengumpulkan kertas yang tertiup angin.
Bertahun-tahun ia mengolah huruf menjadi sistem yang ramah bagi anak-anak: langsung dibaca, tanpa dieja, bertahap, dan komunikatif.
Dari ruang kecil itu lahirlah metode Iqro’—sebuah revolusi senyap dalam dunia pendidikan Al-Qur’an.
Bersama Jazir Asp dan Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musala (AMM) Yogyakarta, As’ad Humam mendirikan TK Al-Qur’an AMM pada 16 Maret 1986.
Tak lama, TKA dan TPA tumbuh di Selokraman, Kotagede. Metode Iqro’ menyebar cepat—enam jilid dengan sampul warna-warni, kata-kata sederhana seperti ba-ta dan ka-ta, hingga ayat-ayat pendek. Anak-anak belajar tanpa takut, guru mengajar tanpa beban.
Pengakuan datang bertahap. Pada 1988, metode ini diakui Kementerian Agama dan didistribusikan nasional pada 1992.
Jaringan masjid, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, bahkan pemerintah Malaysia mengadopsinya.
Setelah wafatnya Kiai As’ad Humam pada 2 Februari 1996, metode Iqro’ telah menjangkau Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika. Ratusan ribu TPA dan TPQ lahir dari inspirasinya.
Di pemakamannya, Menteri Agama Tarmizi Taher menyebutnya “pahlawan penyelamat Al-Qur’an.” Gelar itu terasa tepat.
Sebab melalui buku kecil yang akrab di tangan anak-anak 90-an, As’ad Humam mewariskan sesuatu yang jauh lebih besar dari namanya sendiri: kemampuan membaca Kalam Ilahi, dan kenangan kolektif tentang seorang guru yang mengajar dunia—meski langkahnya sendiri tertatih.
