Menjaga Dimensi Ukhuwah

oleh -
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

BANDUNGMU.COM – Sesuai dengan penjelasan ulama tafsir Al-Maraghi, persaudaraan (ukhuwah) umat manusia memiliki dua dimensi, yakni persaudaraan karena hubungan nasab (ikhwan) dan persaudaraan karena hubungan iman (ikhwah).

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam Silaturahim Syawalan Keluarga Besar Muhammadiyah Kabupaten Bantul, Sabtu (5/6) lalu, menerangkan bahwa Islam mendorong umat muslim meluaskan spektrum persaudaraannya.

“Alquran mengingatkan kita agar kita memiliki ikatan baru seperti saudara yang memiliki hubungan nasab dengan hubungan iman menjadi bapak kita, menjadikan ikatan iman sebagai induk. Oleh karena itu, ikatan iman menjadi bagian dari Al-Urwatul Wustqa, ikatan yang kokoh, yang tidak bisa digoyah sama sekali,” jelasnya, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat 11 Juni 2021.

Agar dimensi ukhuwah tidak rusak, Mu’ti menyebutkan Alquran mencatat beberapa hal yang harus dijauhi. Misalnya prasangka buruk (suudzan), memata-matai dan mencari-cari kesalahan (tajasus), mencurigai (tahasus), menjerumuskan, marah, hasad, dan memelihara rivalitas (tanafus).

Selain menjauhi sifat-sifat tersebut, menjaga dimensi ukhuwah menurut Mu’ti bisa dilakukan jika umat muslim menjadi pribadi yang terbuka dan pemaaf.

“Kita diperintahkan Alquran menjadi orang yang pemaaf. Di situ (Alquran) disebutkan ciri orang yang bertakwa, yaitu orang yang memaafkan kesalahan manusia, al afwu berarti menghapus. Dianggap tidak pernah ada,” jelasnya.

“Agar bisa menjadi pemaaf, dia harus bisa menjadi orang yang terbuka. Minimal dua. Pertama open mind, kedua open heart, lapang dada. Kalau orang pikirannya, hatinya, terbuka, dia menjadi orang yang pemaaf dan bisa melihat segala sesuatu secara jernih dari banyak sudut pandang sehingga dia menjadi orang yang bisa memahami dan bisa memaafkan kesalahan orang lainnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *