Mengenal H.M. Rasjidi, Menteri Agama Pertama dari Muhammadiyah yang Kiprahnya Mendunia

oleh -
H.M. Rasjidi. tirto.id/Sabit

BANDUNGMU.COM – Prof. Dr. Haji Muhammad Rasjidi merupakan salah satu dari sekian tokoh Muhammadiyah yang memiliki jasa besar terhadap Republik Indonesia. Tak berlebihan jika beliau diangkat menjadi Menteri Agama pertama di Indonesia.

Siapa saja yang berkunjung ke Gedung Kementerian Agama RI di bilangan Thamrin Jakarta Pusat, aula H.M. Rasjidi seakan menyapa di lantai pertama seberang resepsionis. Penamaan aula tersebut untuk mengenang kiprah H.M. Rasjidi sebagai sosok Menteri Agama pertama, pejuang kemerdekaan dan pembela umat.

Berdasarkan Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor I/SD tertanggal 3 Januari 1946, H.M. Rasjidi tercatat sebagai Menteri Agama RI pertama (Kabinet Sjahrir I & II, 1946), meneruskan tugas Wahid Hasyim pada masa Kabinet Presidensial.

Dalam ”The Struggle of Islam in Modern Indonesia” (2013), B.J. Boland mengatakan, pendirian Kementerian Agama tidak terlepas setelah tokoh Muhammadiyah Mr. Kasman Singodimedjo berdebat dengan Latuharhary agar Kementerian Agama dipisahkan dari Kementerian Pendidikan supaya tidak menimbulkan kecemburuan umat.

“Supaya dalam negara Indonesia yang sudah merdeka ini janganlah hendaknya urusan agama hanya disambil-lalukan dalam tugas Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan atau departemen-departemen lainnya, tetapi hendaknya diurus oleh suatu Kementerian Agama tersendiri.” Demikian tercatat oleh dokumen Departemen Penerangan Jilid VII (1965).

Pendirian Kementerian Agama bertujuan merealisasikan pasal 28 UUD 1945 tentang asas inklusivitas dan mengakhiri pemecah-belah umat beragama di Indonesia pada masa Belanda (Het Kantoor voor Indlandsche Zaken, Kantor urusan pribumi Islam) dan Jepang (Shumubu).

Perjalanan Intelektual Rasjidi

Rasjidi memiliki nama lengkap Prof. Dr. Haji Muhammad Rasjidi. Beliau dilahirkan di Kotagede pada Kamis Pahing tanggal 20 Mei 1915 M/4 Rajab 1333 H. Ia anak kedua dari lima orang bersaudara.

Rasjidi lahir di tengah keluarga terpandang. Sang ayah, Atmosudigdo, seorang pengusaha batik yang sukses dan berpengaruh, baik di lingkungannya maupun daerah lain, serta hidup dalam suasana Jawa-Islam (kejawen), dalam arti meskipun mengaku Islam, tetapi tidak menjalankan syariat Islam.

Kendati begitu, Rasjidi tidak ingin disebut pemeluk agama selain Islam. Ia dan saudaranya setiap pagi memiliki rutinitas belajar membaca Alquran dan belajar shalat.

Usai menyelesaikan Sekolah Ongko Loro, setingkat Sekolah Dasar di kampung halamannya, Rasjidi melanjutkan studi ke HollandschInlandsche School (HIS) Muhammadiyah di Kotagede. Selanjutnya, dia masuk ke Kweekschool Muhammadiyah atau sekolah pendidikan guru model Belanda di Yogyakarta.

Di sekolah itu, Rasjidi tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar dengan sebaik-baiknya dengan mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang diadakan oleh pihak sekolah. Ia tercatat pernah mengikuti keanggotaan Hizbul Wathan (HW) dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang atau membantu kreativitas pelajarannya di sekolah.

Rasjidi tipe anak yang tidak puas dengan pelajaran sekolah. Ia pun melakukan pengembaraan intelektual dan spiritual. Ia gemar membaca buku dan majalah langganan sang ayah. Melalui surat kabar itu, ia dapat mengetahui perguruan Islam modern Al-Irsyad Islamiyah (dikenal dengan Irsyad) di bawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati Al-Anshari (w. 1943) di Jawa Timur.

Guru-guru yang mengajar di Irsyad berasal dari Mesir, Sudan, Makkah, dan Indonesia. Itu yang membuat Rasjidi tertarik berkirim surat dan berniat menjadi siswa di sekolah tersebut. Selang beberapa waktu, ia diterima dan dipersilakan berangkat ke Lawang, Jawa Timur.

Setelah mendapat izin dari orang tua, Rasjidi yang kala itu memasuki usia antara 14 dan 15 tahun resmi menjadi siswa Irsyad. Para pendiri sekolah Irsyad tempat Rasjidi menuntut ilmu kebanyakan adalah kaum pedagang (wiraswasta yang suskses). Namun, guru besar tempat meminta fatwa adalah Ahmad Surkati.

Pada mula masuk di sekolah ini, Rasjidi harus mengulang dari kelas I meskipun pernah mendapat pelajaran serupa di HIS Muhammadiyah.

Peristiwa yang cukup menarik saat Rasjidi empat bulan belajar di sekolah itu, ia diperbolehkan duduk di kelas empat. Ini karena dia mampu menghafal kitab-kitab berat dan berbobot seperti Alfiyah karya Ibnu Malik, Matan Rahbiyyah, dan ia juga hafal logika Aristoteles dari Matan Assullam. Ia juga fasih membaca Alquran.

Ahmad Surkati menyatakan, Rasjidi merupakan murid yang tekun dan cerdas sehingga sangat dicintai para gurunya. Hal ini yang membuat Ahmad Surkati merasa sayang, bahkan selalu diajak berbincang tentang suatu ilmu. Ia bahkan dipercaya menjadi asisten Ahmad Surkati dalam gramatika bahasa Arab.

Selama dua tahun belajar di sekolah ini, Rasjidi pun memperoleh diploma dan pulang ke kampung halaman. Tidak beberapa lama tinggal bersama orang tua, ia menuturkan niatnya untuk melanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Niat itu membuat sang ibu merasa keberatan. Namun sang ayah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Pada akhirnya Rasjidi diizinkan berangkat ke Mesir dengan menumpang kapal. Setelah sampai di Mesir, Rasjidi masuk ke Qism’am, sekolah persiapan sebelum memasuki Universitas Al-Azhar, atas anjuran Kahar Mudzakkir yang sama-sama berasal dari Kotagede.

Rasjidi masuk ke sekolah guru bahasa Arab, Darul Ulum, dengan bantuan Syaikh Thantawi Djauhari, pengarang Tafsir Al-Jawahir yang masyhur dan teman karib gurunya. Di sekolah ini ia diajar secara khusus oleh Sayyid Quthb (w. 1966).

Selama di Darul Ulum, pelajaran agama dianggap penting, bahkan setiap murid harus menghafal 23 juz Alquran. Dengan tekun selama delapan bulan Rasjidi berhasil mendapatkan ijazah. Setelah itu, ia keluar dengan alasan mau belajar bahasa Inggris dan Perancis secara intensif.

Namun ternyata yang menjadi kepala pada waktu itu adalah Hasan Khursid, seorang keturunan Turki mempunyai simpati cukup besar terhadap pemuda Indonesia yang satu ini. Maka ia berpesan, “Kami sama sekali tidak keberatan Anda memperdalam bahasa Inggris dan Perancis. Namun setelah selesai, Anda bisa langsung masuk ke kelas lima.”

Setelah delapan bulan belajar bahasa, Rasjid kembali ke Darul Ulum untuk diuji masuk ke kelas lima. Dia berhasil memperoleh gelar dengan hafal Alquran serta berhak melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah tamat di Darul Ulum, ia masuk ke Universitas Kairo.

Pada tingkat pertama di universitas ini belum ada jurusan. Semua mahasiswa belajar bersama. Kemudian pada tingkat kedua, ia menentukan pilihan masuk ke jurusan Filsafat dan Agama di Fakultas Sastra.

Di Mesir, Rasjid ikut ke beberapa organisasi seperti organisasi Jami’iyah Khairiyah atau Perkumpulan Kebajikan Indonesia yang didirikan pada 1931 di bawah kepemimpinan Djaman Thaib. Setelah tujuh tahun di Kairo dengan mendapatkan gelar kesarjanaan, ia kembali ke Tanah Air dan menikah dengan Siti Sa’adah pada 26 Oktober 1938 di Kotagede.

Kiprah Intelektual Politik, Birokrasi, dan Diplomasi

Setelah kembali ke Tanah Air, Rasjidi berkiprah di bidang politik, birokrasi, dan diplomasi. Pada mulanya ia tertarik menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII).

Di samping itu ia juga menjadi anggota Alliance Francaise (Perhimpunan Perancis) di Yogyakarta dan aktif dalam Islam Club Study yang bertujuan mengkaji Islam dalam konteks perkembangan modern, dan yang tak kalah penting ia menjadi wakil Partai Masyumi.

Selanjutnya, dia ditugaskan menjadi Kepala Perpustakaan Islam di Jakarta oleh pemerintah Jepang. Dalam Kabinet Sjahrir melalui surat kabar “Harian Merdeka”, pemerintah dengan keputusan 3 Januari 1946 mengangkat Rasjidi sebagai Menteri Negara yang ditugaskan membentuk Kementerian Agama. Dengan kata lain, ia menjadi Menteri Agama dalam kabinet Syahrir II pada periode 12 Maret 1946 sampai 2 Oktober 1946.

Ketika Perdana Menteri Syahrir mengundurkan diri, Rasjidi sebagai Menteri Agama diganti oleh Kiai Fathurrahman Kafrawi, tetapi seminggu kemudian ia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian.

Namun revolusi Indonesia memanggil dia untuk tugas lain ketika Belanda mencoba menjajah Indonesia kembali. Maka pemerintah mengirim delegasi ke Timur Tengah, yaitu Mesir, Yordania, Syiria, Libanon, dan Irak. Delegasi tersebut dipimpin oleh Agus Salim dan Rasjidi merangkap sebagai sekretaris dan bendahara.

Setelah Konferensi Meja Bundar pada 1949 yang diselenggarakan di Den Haag, Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden mengangkat Rasjidi menjadi Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan Saudi Arabia dengan kedudukan di Kairo.

Pada 1953 Rasjidi diangkat menjadi Duta Besar R.I. Iran merangkap Afganistan yang berkedudukan di Teheran. Meski sibuk dengan tugas diplomasi, tetapi ia tak lupa untuk menuntut ilmu. ini terlihat ketika Lembertus Neo Palar yang ditunjuk sebagai wakil tetap RI untuk PBB singgah di Kairo, Rasjidi diminta melanjutkan perjalanannya ke PBB yang bermarkas di Perancis pada saat itu.

Dalam kesempatan itu, ia mengunjungi Universitas Sorbonne dan menjumpai Louis Massignon (w. 1962). Atas dukungan Massignon serta bantuan dari Rockefeller Foundation, ia pun melanjutkan program doktornya di Universitas itu.

Rasjidi berhasil lulus dengan gelar Doktor dengan predikat de I’Universitas de Paris avec Ia mention Tres honorable atau cum laude. Keberhasilan Rasjidi dianggap membawa nama baik bangsa Indonesia, maka Duta Besar RI bagian Perancis beserta sejumlah pegawai kedutaan dan para relasi mengadakan jamuan untuk menghormati keberhasilan Rasjidi dalam meraih gelar doktor.

Dua hari setelah itu, Rasjidi mendapat tawaran dari Menteri Luar Negeri untuk ditugaskan sebagai Dubes RI di Pakistan. Belum genap dua tahun menjadi Dubes, ia pun merasa resah karena terjadi kegoncangan politik di Tanah Air.

Di tengah suasana itu, ia mendapat tawaran yang dari Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada yang memerlukan asisten profesor untuk studi Islam dan sejarah Islam. Ia pun menerima tawaran tersebut dengan mengambil cuti di luar tanggung jawab pemerintah demi mencari keselamatan.

Setelah lima tahun bertugas di McGill, ia diminta oleh Islamic Centre di Washington D.C., untuk mengelola masjid, perpustakaan, dan lembaga pendidikan. Dalam konferensi yang berjudul Islam and Peace diselenggarakan University of North Carolina, salah seorang pembicara adalah Majid Khadduri, ahli tentang Islam dan perdamaian.

Rasjidi mengkritik teori Khadduri yang berargumen bahwa Islam memandang dunia dalam keadaan perang abadi, maka satu-satunya untuk mengakhiri situasi itu adalah melalui kekerasan dan perang. Keberanian Rasjidi bersuara lantang akhirnya disingkirkan secara halus dari jabatannya.

Setelah itu, ia kembali ke Tanah Air. Namun, sebagai penentang komunis yang paling gigih, ia tidak hanya tinggal diam melihat situasi politik didominasi PKI.

Akan tetapi, ia melihat Soekarno memiliki kedekatan dengan PKI, ia akhirnya mengadakan perjalanan ke Arab Saudi. Di sana, ia dipilih menjadi anggota Rabithah al-Islami, dan atas permintaan Raja Faisal, ia ditunjuk menjadi Direktur perwakilan Rābithah di Jakarta sekaligus menjadi anggota Majlis Ta’sisi (Dewan Konstitusi).

Selanjutnya, dalam pertemuan musyawarah Ulama Jakarta Raya pada 26 Februari 1967 yang disepakati pendirian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Rasjidi terpilih menjadi wakil DDII berpasangan dengan Muhammad Natsir.

Pada September 1966, Rasjidi diminta untuk mengajar hukum Islam di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pada pada 20 April 1968, ia dikukuhkan sebagai guru besar Hukum di Universitas Indonesia (UI). Selain itu, ia juga menjadi guru besar Filsafat Barat di pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah.

Dalam usianya yang ke-86 ia dipanggil menghadap Allah, tepatnya pada 30 Januari 2001 yang dimakamkan di Kotagede-Yogyakarta.***(Muhajirin/Langit7.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *