Opini

Merasakan Denyut Gerakan Muhammadiyah di Daerah (2)

Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM — Satu hari sebelum Hari Raya Idul Adha, tepatnya tanggal 9 Zulhijah 1444 Hijriah, saya pergi untuk bersilaturahmi dengan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bandung Barat yang baru terpilih untuk periode 2022-2027 yakni Bapak Budiawan.

Perjalanan menuju Cililin menjelang sore hari, berusaha agar sampai sebelum Magrib karena saat itu saya berusaha menjalankan puasa sunnah Arafah dan diminta untuk berbuka puasa bersama dengan Ketua PDM Bandung Barat di lokasi silaturahmi.

Hujan cukup deras saat perjalanan memasuki wilayah Bandung Barat. Namun, saat beberapa ratus meter sampai, ternyata cuaca menjadi cerah tanpa hujan.

Alhamdulillah, tidak lama setelah tiba di Masjid Darul Arqam Cililin, terdengar suara azan Magrib. Kami berbuka puasa bersama dan melaksanakan salat Magrib berjamaah.

Setelah salat berjamaah, kami makan bersama dengan menu khas desa, yaitu ayam kampung goreng, petai mentah, orek tempe, sambal, dan lalapan.

Biasanya di perkampungan, malam Hari Raya Idul Adha terdapat takbiran. Namun, saat itu di kampung Situhiyang-Mukapayung sepi karena pemerintah Indonesia menetapkan Hari Raya Idul Adha resmi jatuh pada 10 Zulhijah, yaitu pada Kamis. Sementara Muhammadiyah merayakan pada Rabu.

Saya menduga bahwa alasan mengapa masyarakat di kampung tersebut tidak melaksanakan takbiran adalah karena warga Muhammadiyah menghargai mereka yang masih berada di tanggal 9 Zulhijah dan belum memasuki hari raya.

Selain alasan itu, saat pagi menjelang waktu untuk menjadi imam dan memberikan khutbah Idul Adha, juga terlihat sepi karena hanya sedikit masyarakat yang akan melaksanakan salat sunnah hari raya.

Berdasarkan informasi dari aktivis Muhammadiyah yang tinggal di sana, memang sedikit sekali warga Muhammadiyah di kampung tersebut.

Diperkirakan hanya sekitar 100 jamaah yang ikut melaksanakan salat Idul Adha. Ada beberapa jamaah dari PCM Sindangkerta yang juga datang bersama ketuanya.

Setelah salat Idul Adha, kami sempat berbincang-bincang. Memang benar bahwa eksistensi Muhammadiyah di Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, dan Cipongkor sangat sedikit.

Cabang-cabang Muhammadiyah tersebut tidak memiliki amal usaha sama sekali. Bahkan jamaah Muhammadiyah ada yang aktif mengikuti pengajian Majelis Tarbiyah Wanaraja di salah satu masjid di kampung tersebut.

Pekerjaan besar

Pekerjaan besar Muhammadiyah Jawa Barat dan pimpinan daerah lainnya adalah untuk menggerakkan jaringan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting.

Harapannya adalah bahwa dalam periode ini, Muhammadiyah dari tingkat pusat, wilayah, daerah, dan cabang dapat bekerja sama dengan semangat dan motivasi jihad fi sabilillah lillahita’ala.

Menggerakkan potensi dan sumber daya manusia untuk mencerahkan masyarakat dan mengubah pandangan agama menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mengikuti tren semata.

Fenomena di atas diyakini juga terjadi di daerah-daerah lain di mana Muhammadiyah hadir. Kurangnya pembinaan akan menghambat gerakan amar makruf nahi munkar.

Perjalanan Muhammadiyah penuh dengan liku-liku dan tanpa disadari waktu berlalu begitu berharga. Namun, karya nyata yang menggerakkan hanya sebatas wacana dalam euforia yang semu dan tidak berarti.

Rasa bangga hilang seketika saat kita melihat secara nyata bahwa gerakan Muhammadiyah belum merata. Hal ini menjadi catatan penting untuk memprioritaskan pembinaan cabang dan ranting.

Hal tersebut mungkin akan hilang tanpa meninggalkan jejak langkah nyata dari produk Muhammadiyah yang terkenal sebagai organisasi yang mencerahkan di mana pun berada.

Berani karena benar

Termasuk di dalamnya adalah bagaimana saat kita ikut serta dalam merintis dan membina Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cilengkrang di Kabupaten Bandung.

Meskipun cabang tersebut masih tergolong baru, dapat dikatakan bahwa cabang Muhammadiyah ini berani di antara beberapa cabang Muhammadiyah di Jawa Barat.

Cabang-cabang Muhammadiyah di daerah yang sudah berdiri lama masih banyak yang belum berani menyelenggarakan salat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saat terdapat perbedaan dengan pemerintah.

Namun, PCM Cilengkrang berani menunjukkan eksistensinya sebagai entitas dakwah dengan menyediakan fasilitas untuk melaksanakan salat berjamaah dua hari raya tersebut tanpa ragu.

Ternyata jumlah jamaah yang mengikuti cukup banyak. Bahkan ada beberapa jamaah dari organisasi Islam besar yang ikut salat. Ketika ditanya alasannya, mereka mengatakan, “Muhammadiyah memiliki pemahaman Islam yang lebih rasional.”

Demikian informasi yang saya dapat dari Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Ustaz Fadlani Salam.

Semoga hal tersebut bukan semata-mata sebuah kebanggaan pribadi, tetapi benar-benar menjadi semangat dan motivasi bagi jamaah Muhammadiyah di sekitarnya.

Tidak berhenti di situ, mereka terus berusaha menjadikan gerakan ini dinamis dengan bantuan mahasiswa Muhammadiyah yang tinggal di sekretariat Kantor Cabang Muhammadiyah tersebut.

Di antaranya adalah pengajian rutin pada sore hari Selasa yang berjalan meskipun jamaahnya sedikit. Hal itu tidak menjadi masalah karena yang penting adalah kontinuitas gerakan yang tidak banyak berhenti.

Setiap hari Ahad, mereka membuka dagangan cemilan khas Priangan, seperti tahu goreng Jati Lima, yang dikelola oleh Majelis Ekonomi. Mereka juga menjual sosis berkualitas premium dengan harga kompetitif. Sebagian dari keuntungannya digunakan untuk dakwah Muhammadiyah.

Kecil tapi terus berlanjut

Tidak perlu melakukan hal-hal besar dalam menggerakkan persyarikatan. Hal yang penting adalah kontinuitas gerakan yang tidak banyak berhenti.

Saya yakin dan percaya bahwa dalam waktu yang tertentu, semangat dan motivasi ini akan menular kepada yang lain karena saat hati tergerak mereka akan ikut serta.

Namun, ada cerita lucu dan unik di salah satu tempat yakni ketika penyelenggaraan salat berjamaah pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha justru dilakukan oleh komunitas lain yang bukan berafiliasi dengan persyarikatan.

Alasan di balik hal ini tidak diketahui. Meskipun demikian, jamaah yang mengikutinya cukup banyak. Diperkirakan ratusan orang.

Kejadian ini terjadi di ranting Muhammadiyah Rancaekek Kencana. Kemungkinan mereka menerima paham Muhammadiyah secara individu karena penggerak komunitas tersebut sering berdiskusi mengenai gerakan sosial keislaman pada waktu tertentu.

Mereka tertarik dengan gerakan Muhammadiyah yang lebih aplikatif. Bahkan, beberapa dari mereka tertarik untuk menjadi anggota Muhammadiyah.

Bagi saya, tidak masalah jika mereka menyelenggarakan salat hari raya tanpa menggunakan logo Muhammadiyah karena mereka bukan anggota Muhammadiyah.

Justru hal ini dapat dianggap positif dan memberikan manfaat karena bisa memberikan fasilitas yang baik bagi jamaah Muhammadiyah di kompleks perumahan tersebut untuk melaksanakan salat Id.

Semoga tidak ada niat buruk di balik semua ini. Semoga Allah SWT menggerakkan hati seseorang hanya untuk melakukan kebaikan semata karena niat yang baik. Hal ini juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap gerakan dakwah di mana persyarikatan berada.

Selalu dinamis

Rasionalitas dalam beragama Islam adalah suatu keharusan karena ajaran Islam memang ditujukan untuk dijalankan oleh manusia yang memiliki akal sehat di mana pun mereka berada.

Bagaimana jika umat muslim, yang meyakini Islam sebagai ajaran, menjalankan ibadah tanpa memahami maksud dan tujuan dari praktik ibadah tersebut, serta apa yang dikehendaki oleh pembuat syariat?

Dapat dipastikan bahwa kualitas ibadah mereka akan sangat berbeda dengan orang yang memiliki pemahaman rasional dan akal sehat dalam beragama dengan baik dan benar.

Muhammadiyah hadir sebagai organisasi yang mempromosikan pemahaman agama yang berakal sehat, logis, dan objektif, berdasarkan sumber ajaran yang dapat dipahami melalui rasionalitas akal sehat.

Oleh karena itu, Muhammadiyah tidak menghindari dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, baik itu dalam bidang teologi Islam maupun sains dan teknologi yang berkaitan dengan Islam. Wallahu’ alam.***

Exit mobile version