UMBandung
News

Moderasi Beragama Jadi Landasan Kuat Muhammadiyah Menghadapi Tantangan Pluralisme

×

Moderasi Beragama Jadi Landasan Kuat Muhammadiyah Menghadapi Tantangan Pluralisme

Sebarkan artikel ini
Foto: Youtube UMS

BANDUNGMU.COM, Surakatar — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengatakan bahwa moderasi beragama menjadi titik vital menghadapi pluralnya pandangan-ideologi dan gerakan.

Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini, kata Dadang, sejak awal kelahirannya sudah menasbihkan diri sebagai gerakan moderat.

Hal itu Dadang sampaikan dalam Diskusi Buku dan Workshop Literasi Digital Moderasi Beragama yang diadakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di UMS pada Jumat (22/03/2024).

Baca Juga:  Gelar Expo Usaha Rintisan, Bioteknologi UM Bandung Siap Cetak Biotechnopreneur

“Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat yang sejak awal moderat dilihat dari sisi ideologi. Kita ini kalau runtut ideologi Muhammadiyah itu akan tergambar bahwa kita adalah organisasi moderat,” katanya.

Gerakan moderat yang ditempuh oleh Muhammadiyah itu tercermin jelas pada Muktamar ke-48 yang menghasilkan Risalah Islam Berkemajuan (RIB). Dalam RIB ini disebutkan salah satu karakter Muhammadiyah adalah wasatiah atau tengahan.

Karakter wasatiah atau tengahan dan moderat ini berdampingan dengan karakter lain, yaitu tauhid, berdasar Al-Quran, hadis, ijtihad, dan rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga:  Baitul Arqam MPK PDA Kota Bandung Jadi Momentum Kuatkan Ideologi Muhammadiyah dan Aisyiyah

Moderasi yang ada dalam tubuh Muhammadiyah ini juga tercermin dalam diri KH Ahmad Dahlan. Dadang menceritakan, sikap moderat Kiai Dahlan itu mudah bergaul dengan siapa saja bahkan dengan yang berbeda keimanan sekalipun.

“Kiai Haji Ahmad Dahlan sering mengunjungi berbagai macam kelompok orang, termasuk ke Gereja Katolik, ke mana berdiskusi itu adalah menandakan Kiai Ahmad Dahlan adalah moderat,” tutur Dadang.

Pluralisme sebagai keniscayaan, imbuh Dadang, telah disebutkan dalam Al-Quran. Perbedaan yang ada bukan untuk diperuncing dan alasan berpecah belah, melainkan sebagai cara untuk melakukan perlombaan dalam kebaikan.

Baca Juga:  Prodi Psikologi UM Bandung Gelar Webinar Penulisan Jurnal Ilmiah, Hadirkan Profesor dari Malaysia

Kebencian yang muncul akibat perbedaan juga sangat dibenci Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT juga memerintahkan untuk berbuat adil meskipun kepada seseorang yang berbeda bahkan yang dibenci.***

PMB UM Bandung